Ketika Cokelat Menjadi Sahabat Otak

Penulis: Darmansyah

Rabu, 12 Juli 2017 | 12:40 WIB

Dibaca: 0 kali

Coklat sebagai sahabat manusia memang tak terbantahkan berdasarkan kenyataan.

Sebuah penelitian terbaru menguatkan lagi “persahabatan” itu, berupa ditemukan senyawa dalam cokelat yang disebut flavanols  yang dapat membantu meningkatkan kinerja kognitif otak.

Ya, selain rasanya yang lezat, ternyata coklat juga memiliki manfaat kesehatan yang baik pada peningkatan kinerja otak.

Hal tersebut telah dibuktikan oleh sejumlah ilmuan di Italia.

Menurut penelitian terbaru yang dilakukan oleh lima ilmuwan di Italia, senyawa yang ditemukan dalam cokelat yang disebut flavanols dapat membantu meningkatkan kemampuan kognitif otak.

Para ilmuwan, yang berasal dari Universitas Roma dan L’Aquila, menganalisa penelitian dari 10 studi yang berbeda.

Studi tersebut menilai kinerja responden pada tes kognitif, sebelum dan sesudah makan cokelat.

Hasilnya cukup jelas, sembilan dari sepuluh penelitian menunjukan ada peningkatan yang nyata setelah subjek memakan cokelat tersebut.

Para ilmuwan menemukan perbaikan dalam kognisi umum, perhatian, kecepatan pemrosesan, dan memori kerja otak.

Pada subjek wanita yang merasa kurang tidur, flavanols membantu menangkal efek negatif kurang tidur.

Para periset juga menemukan bahwa mengonsumsi cokelat setiap hari (mulai dari lima hari sampai tiga bulan) menghasilkan perbaikan jangka panjang yang nyata dalam kognisi otak.

Pada orang tua yang ingatannya sudah menurun, konsumsi cokelat juga dipercaya akan  mengurangi efek pikun.

Pada dasarnya semua cokelat memiliki flavanol karena semuanya terjadi secara alami pada kakao.

Namun, pecinta cokelat hitam pasti lebih bersuka cita, karena cokelat jenis ini memiliki lebih banyak flavanol dibanding jenis cokelat lainnya.

Penelitian baru mengungkap, secangkir cokelat hangat setiap hari baik bagi kesehatan jantung.

Sementara itu, para peneliti dari Cornell University menemukan bahwa konsentrasi antioksidan dalam cokelat panas hampir dua kali sama baiknya dengan anggur merah, hampir tiga kali lebih baik dari teh hijau, dan hampir lima kali lebih kuat ketimbang teh hitam.

Studi ini juga menemukan bahwa cokelat yang disajikan hangat mampu memproduksi lebih banyak antioksidan selama proses pemanasan.

Dua studi sebelumnya yang telah diterbitkan dalam Age and the British Journal of Nutrition menemukan, bahwa orang yang rutin makan cokelat mendapatkan manfaat besar dari antioksidan flavanols yang juga bisa didapat dari kacang lezat.

Flavanols ini membuat jantung berfungsi secara optimal dan bahkan dapat membantu membalikkan efek penuaan jantung, membuat arteri lebih sehat sebagai hasilnya.

Studi yang sama juga menunjukkan, bahwa asupan rutin dari flavanol cokelat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.

Tapi sebelum Anda membeli cokelat hangat di kedai kopi, peneliti menekankan, untuk benar-benar mendapat hasil terbaik ini, Anda sebaiknya membuat cokelat hangat sendiri. Dengan resep: menyeduh cokelat hitam ke dalam sedikit air panas yang ditambahkan susu rendah lemak.

Pastikan cokelat panas seratus  persen tanpa gula.

indari membuat cokelat panas kemasan, karena kandungannya lebih banyak susu berlemak dan gula.

Berbahagialah para pecinta cokelat. Ada kabar baik datang dari penelitian jangka panjang University of Aberdeen di Skotlandia.

Menurut para ilmuwan, makan cokelat hari ini dapat memberi manfaat sehat bagi jantung di kemudian hari.

Penelitian yang berlangsung selama dua belas tahun dan dimuat dalam jurnal Heart ini menemukan, pecinta cokelat cenderung memiliki risiko penyakit jantung dan meninggal karena gangguan jantung, lebih rendah dibanding bukan penyuka cokelat.

“Bukti kumulatif menunjukkan bahwa semakin tinggi asupan cokelat, semakin rendah risiko kejadian penyakit kardiovaskular di masa depan,” kata penulis studi.

“Cokelat mengandung zat flavonoid dan konstituen susu seperti kalsium dan asam lemak, yang semuanya sangat berguna untuk menjaga kesehatan jantung.”

Hasil studi juga menunjukkan, tidak tampak bukti yang mendukung klaim bahwa cokelat harus dihindari oleh mereka yang ingin menghindari risiko penyakit kardiovaskular.

Dalam studi ini, tim peneliti mengamati kebiasaan makan dua puluhan ribu relawan di Norfolk, Inggris.

Selama studi, ada tiga ribuan orang yang mengalami perlemakan pembuluh darah atau penyakit jantung koroner dan stroke yang tidak parah. Kira-kira dua puluh persen dari mereka mengatakan tidak suka makan cokelat.

Sementara itu, mereka yang mengonsumsi tujuh sampai seratus gram cokelat perhari memiliki risiko penyakit jantung sebelas persen lebih rendah dan risiko kematian karena penyakit jantung dua p[uluh lima persen lebih rendah.

Namun, di antara para pecinta cokelat, ada juga yang masuk rumah sakit karena gangguan jantung yakni sebanyak sembilan persen.

Flavonoid di dalam cokelat memiliki efek antioksidan yang berguna untuk menangkal radikal bebas.

Semakin gelap warna cokelat, semakin tinggi konsentrasi kandungan flavonoidnya dan semakin sedikit mengandung bahan yang dapat merusak kesehatan jantung.

Selain menjaga sel dari kerusakan, antioksidan juga mampu mencegah pembentukan plak di dinding pembuluh darah arteri dan mampu menurunkan kadar kolesterol jahat (low-density lipoprotein).

Para peneliti mengatakan, takaran sehat konsumsi cokelat adalah maksimal 100 gram atau 3,5 ons perhari.

Komentar