Kerja..Kerja..Ya Stress, Ujungnya Migrain

Penulis: Darmansyah

Jumat, 27 Desember 2013 | 16:16 WIB

Dibaca: 0 kali

Malam itu istri saya mengeluhkan sakit kepalanya yang nyut…nyut… menganggu tidurnya dan mengaduh karena gangguan bergelombang dari rasa sakitnya. Telah lama ia tak mengeluhkan lagi sakit kepalanya, setelah dua tahun lalu dokter mendiagnosa dia menderita migraine.

Malam itu kami kami berupaya mengatasinya dengan mendatangi dokter keluarga yang jarak rumahnya masih satu arah jalan. Tak salah. Sang dokter menyimpulkan, berdasarkan gejala yang diceritakannya, ya, migraine-nya datang lagi.

Dengan menuliskan resep kami ke apotik dan malam itu juga ia bisa tidur nenyak setelah meminum obat. Besoknya, sisa rasa nyut… nyut… masih terasa, dan datang bergelombang. Tapi tidak separah malam itu.

Saya percaya migraine yang kambuh dari sang istri adalah akibat stress yang berlebihan di akhir tahun karena kewajiban memenuhi tagihan piutang dikantornya. Tepatnya capai target.

Sebagai konsekuensinya liburan yang seharusnya dijalaninya di tiadakan dan keharusan masuk kantor dengan tugas kelapangan terus jalan. Akibat dari beban kerja itu ia harus menghitung di setiap kesempatan berapa sudah target yang sudah tercapai.

Inilah akibat moto dari kerja.. kerja … kerja yang kini jadi tren di kantornya. Sehingga waktu untuk menjernihkan pikiran dan relaksasi terpakai untuk kerja dan kerja. Kadar stres yang meningkat ini pun akhirnya memicu migrain.

Menurut situs “healthyday.com,” yang merilis laporan Migraine Research Foundation, meskipun Anda tidak mengalaminya, namun bisa jadi migrain menyerang pada orang-orang terdekat Anda. Faktanya, di Amerika Serikat saja satu dari empat orang mengalami migrain selama musim liburan.

David Yeomans, direktur penelitian nyeri di Stanford University School of Medicine mengatakan, ada beberapa cara untuk menghindari migrain selama liburan. Beberapa cara itu antara lain mengetahui pemicu migrain, menghindari hal-hal pemicu tersebut, dan mempersiapkan hal yang perlu dilakukan saat terjadinya migrain.

Berada dalam lingkungan yang di luar rutinitas, seperti menginap di rumah saudara, bisa jadi pemicu migrain. Maka Yeomans menyarankan untuk selalu menyediakan perlengkapan obat-obatan untuk kondisi gawat darurat, misalnya obat-obatan anti-inflamasi, obat migrain dengan resep, masker mata atau menyumbat telinga, dan obat anti mual. “Persiapan itu mungkin dapat menyelamatkan hari Anda,” cetusnya.

Selain itu, menurut Yeomans, dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat dari penderita migrain berperan penting baik untuk mencegah dan meringankan gejala migrain. Misalnya, saat mengadakan pesta, pastikan ada ruang tersendiri yang relatif tenang, maka saat gejala migrain datang, ruangan tersebut dapat dipakai untuk menenangkan diri.

“Namun dukungan tersebut bersifat fleksibel, tergantung pada kebutuhan setiap orang,” ujar Yeomans.

Yeomans menambahkan, berpelukan dengan orang yang disayangi juga dapat meringankan gejala migrain. Ini karena saat bersama orang yang disayangi, tubuh secara alami akan mengeluarkan hormon oksitoksin atau hormon cinta. Hormon tersebut berfungsi untuk meringankan rasa nyeri, termasuk gejala migrain.

Komentar