Jangan Tuduh Telur Pemicu Sakit Jantung

Penulis: Darmansyah

Jumat, 26 Februari 2016 | 10:38 WIB

Dibaca: 0 kali

Telur pemicu penyakit jantung?

Jangan cepat-cepat memberi keputusan terhadap makanan ini.

Lantas?

Ternyata, menurut penelitian terbaru yang ditulis “daily mail,” 26 februari 2016, anggapan itu keliru.

Studi terbaru menegaskan telur justru bisa saja dijadikan makanan konsumsi harian.

Sebelumnya, telur sering disebut sebagai sumber kolesterol.

Bahkan, beberapa dokter kerap merekomendasikan pasiennya untuk mengurangi konsumsi telur demi kesehatan.

Setidaknya orang-orang dapat memakan satu telur setiap harinya.

Bahkan, mereka dapat bebas memakan telur dengan takaran tersebut tanpa harus khawatir akan risiko kardiovaskular, penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah.

“Daily Meal,” juga menulis efek diet kolesterol tinggi dan konsumsi telur, yang dibandingkan dengan makanan berlemak lain.

Studi itu ingin menantang kepercayaan bahwa terlalu banyak makan telur dapat meningkatkan risiko seseorang dari penyakit kardiovaskular.

Pada era tujuh puluhan, American Heart Association aktif membatasi konsumsi publik terhadap kuning telur.

Dari situ, warga Amerika Serikat menjadi sering mengonsumsi omelet yang hanya menggunakan putih telur. Putih telur menjadi menu diet demi jantung sehat.

Tapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa satu butir telur berisi sekitar 187 miligram kolesterol.

Dengan demikian, konsumsi satu butir telur per hari, menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat atau USDA, tidak akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner seseorang.

Penelitian dilakukan dengan mengukur asupan makanan pria paruh baya yang tidak terindikasi berpenyakit kardiovaskular.

Kemudian, mereka ditindaklanjuti selama dua dekade dan hanya ditemukan sebanyak dua ratus tiga puluh orang atau sekitar dua puluh dua persen yang mengalami serangan jantung.

Selama penelitian, kelompok kontrol tertinggi rata-rata mengonsumsi satu telur per hari dan memiliki asupan kolesterol harian rata-rata lima ratus dua puluh miligram.

Sedangkan USDA sendiri memiliki anjuran kadar tersebut sebesar tiga ratus miligram.

Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi telur secara teratur, dengan jumlah yang dibatasi, tidak akan meningkatkan risiko seseorang dari penyakit jantung dan kardiovaskular

Dalam penelitian lain yang dirilis American Journal of Clinical mereka menemukan tidak ada keterkaitan antara penebalan dinding arteri yang dapat menghambat darah dengan asupan kolesterol.

Meskipun masih banyak yang menerima asumsi bahwa terlalu banyak kolesterol dari makanan dapat menghambat aliran darah yang memicu penyakit jantung, beberapa penelitian ternyata punya pendapat berbeda.

Beberapa penelitian menemukan bahwa kolesterol bukanlah penyebab utama dari penyakit jantung.

Bahkan, beberapa dokter mengaitkan penyakit jantung dengan masalah kesehatan lainnya atau gaya hidup yang buruk seperti merokok, konsumsi gula berlebiha, alkohol, dan sebagainya.

“Konsumsi kolesterol secara berkecukupan tidak berdampak pada peningkatan risiko penyakit jantung, walaupun pada orang yang memang berisiko,” kata Jyrki Viranen, professor epidemiology University of Eastern Finland seperti yang dilansir the New York Times.

Bagi yang menganggap kolesterol menjadi penyebab penyakit jantung, kebanyakan dari mereka akan menghindari konsumi telur.

Sebuah penelitian pada tiga tahun lalu menyatakan bahwa telur dan daging merah tidak menyebabkan penyakit jantung akibat kolesterol.

Tapi keduanya memiliki keterkaitan dengan penyakit akibat bakteri di usus.

Komentar