Jangan “Haramkan” Sebutir Telur Sehari

Penulis: Darmansyah

Jumat, 12 Februari 2016 | 15:30 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda menghindari kolesterol?

Lantas menjauhi makan telur?

“Ya, janganlah,” tulis laman situs media terkenal di dunia, daily mail,” di rubrik “health”nya, Jumat, 12 Februari 2016.

Menurut “mail,” kandungan protein dalam telur sangat penting bagi kesehatan kita, walaupun kandungan kolesterol di dalamnya membuat setiap orang berhati-hati menjadikannya sebagai santapan.

Memang sejak lama para ahli merekomendasikan pembatasan konsumsi telur, sebab maksimal asupan kolesterol bagi tubuh yang disarankan adalah tiga ratus mg sehari.

Sepuluh tahun lalu American Heart Association merevisi rekomendasi ini.

Asosiasi para ahli jantung dari Amerika Serikat itu mengatakan aman untuk mengonsumsi satu telur sehari.
Studi baru pun menambah bobot terhadap rekomendasi tersebut.

Ilmuwan menemukan asupan tinggi Kolesterol dari telur tidak berdampak pada kesehatan jantung.

Menurut mereka, mengonsumsi setara dengan satu butir telur setiap hari tidak meningkatkan risiko serangan jantung.

Tak bisa disangkal adalah, telur memang merupakan makanan sumber Kolesterol yang sepatutnya dihindari untuk mengurangi kadar Kolesterol.

Meski kuning telur tinggi Kolesterol, bukan berarti kita tidak boleh mengonsumsi telur sama sekali.

Karena itu kita perlu memahami mana bagian telur yang mengandung protein dan mana yang tinggi Kolesterol.

Dalam satu kuning telur berukuran cukup besar terkandung sedikitnya dua ratus tiga belas mg Kolesterol.

Itu sebabnya jika pagi ini telur menjadi menu sarapan Anda, sebaiknya perhatikan asupan Kolesterol dari sumber makanan lainnya.

Misalnya, Anda bisa mengganti susu full cream dengan skim milk.

Setiap hari, kita disarankan membatasi asupan Kolesterol maksimal tiga ratus mg per hari.

Orang yang kadar LDL atau Kolesterol jahatnya sangat tinggi dan mengonsumsi obat penurun Kolesterol hanya boleh mengasup Kolesterol kurang dari dua ratus mg per hari.

Selain telur sebagai lauk, hindari mengonsumsi makanan yang dibuat dari telur, seperti roti atau kue.

Memisahkan bagian kuning telur dari menu Anda akan membuat telur yang dikonsumsi bebas dari Kolesterol karena putih telur memang tidak mengandung Kolesterol.

Karena itu, para ahli di Mayo Clinic merekomendasikan putih telur sebagai pengganti telur, misalnya untuk membuat kue atau memasak.

Telur bisa menjadi bahan pangan yang lengkap zat gizinya dan direkomendasikan selama Anda mengurangi asupan makanan lain yang mengandung Kolesterol.

Oleh karena itu, makanan tinggi Kolesterol seharusnya tidak dihubung-hubungkan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Penemuan ini bahkan juga berlaku untuk mereka yang secara genetika lebih mudah kena penyakit jantung gara-gara Kolesterol dari makanan yang memengaruhi metabolisme mereka.

Bagi sebagian besar orang, Kolesterol dari makanan hanya berdampak kecil pada serum Kolesterol, zat yang disebut Kolesterol di dalam pembuluh darah.

Tambahan lagi, hanya sedikit studi yang membuktikan asupan Kolesterol dari makanan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Itulah sebabnya di seluruh dunia banyak ahli gizi tidak lagi membatasi jumlah Kolesterol makanan yang boleh diasup.

Namun ada manusia tertentu pembawa apolipoprotein E-type3 allele-APOE4 yang memengaruhi metabolisme protein.

Bagi pembawa APOE4, Kolesterol dari makanan berdampak besar terhadap serum Kolesterol dalam darah. Demikian kata peneliti dari University of Eastern Finland.

Fenotip APOE4 terdapat di Finlandia dan dimiliki oleh orang-orang keturunan Finlandia. Hampir sepertiga dari populasi Finlandia membawa fenotip tersebut.

Hingga saat ini data kaitan antara diet tinggi Kolesterol dan risiko penyakit jantung pada pembawa fenotip itu masih belum ada.

Para ilmuwan mulai mencari efek Kolesterol dari makanan terhadap pembawa APOE4

Tak ada seorang pria dalam studi itu yang memiliki diagnosis penyakit kardiovaskular yang terjadi pada penelitian yang berlangsung selama lima tahun itu

Namun dua puluh satu tahun kemudian ditemukan dua ratus tiga puluh pria mengalami serangan jantung dan tiga puluh dua persen dari peserta studi itu adalah pembawa APOE4.

Dalam kelompok kontrol penelitian tersebut, peserta rata-rata mengasup lima ratus dua puluh mg Kolesterol setiap hari.

Mereka juga mengonsumsi rata-rata satu butir telur sehari. Oleh karena itu studi menemukan diet tinggi Kolesterol tidak ada hubungannya dengan risiko kejadian penyakit jantung koroner.

Penemuan ini diaplikasikan untuk seluruh populasi, termasuk pembawa APOE4.

Konsumsi telur, makanan kaya Kolesterol juga tak ada hubungannya dengan penyakit jantung. Studi menemukan juga telur tidak menebalkan dinding arteri pembuluh darah.

Para peneliti menegaskan karena studi difokuskan pada mereka yang makan telur, bukan makanan kaya Kolesterol lainnya, penemuan ini tidak dapat digeneralisasikan dengan makanan lain.

Komentar