Jaga Berat Badan, dan Otak Cemerlang

Penulis: Darmansyah

Selasa, 1 November 2016 | 08:46 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda menginginkan otak tetap cemerlang hingga usia tua?

“Hanya satu jawabannya,” tulis majalah terkenal “time” di edisi terbarunya, pekan ini, “Jaga berat badan.”

Anjuran “time” ini berasal dari hasil riset University of Arizona yang mengungkapkan indeks massa tubuh yang tinggi berdampak buruk pada fungsi otak lansia.

“Menjaga berat badan bisa melindungi tubuh dari bermacam-macam masalah kesehatanDiungkapkan oleh “time,”  tubuh yang ringan dapat mengurangi risiko kanker, penyakit jantung dan diabetes

Studi-studi sebelumnya sudah menghubungkan berat badan dan kesehatan otak, namun belum ada riset yang meneliti bagaimana kedua hal itu saling mempengaruhi.

“Dengan menemukan hal itu, ilmuwan berpotensi mengembangkan intervensi terhadap pencegahan penurunan fungsi kognitif,” kata Kyle Bourassa, mahasiswa doktoral psikologi dan salah satu penulis penelitian ini.

Bourassa dan peneliti lainnya menduga inflamasi sistemik – reaksi berlebihan kronis dari sistem kekebalan tubuh- mungkin bertanggung jawab di sini, karena riset sebelumnya membuktikan inflamasi di otak berdampak negatif terhadap fungsi kognitif.

Juga sudah diketahui kelebihan berat badan menyebabkan terjadinya inflamasi di seluruh tubuh. “Semakin tinggi indeks massa tubuh, semakin besar inflamasi itu,” katanya.

Untuk mengeksplorasi hubungan ini, Bourassa dan peneliti lainnya menganalisa data orang berusia lima puluh ke atas yang memiliki indeks massa tubuh lebih tinggi, kadar inflamasi dan skor kognisi yang diuji beberapa kali selama enam tahun.

Indeks massa tubuh, pengukur berat badan yang dihubungkan dengan tinggi sering digunakan untuk menentukan apakah seseorang termasuk normal, kekurangan berat badan atau kelebihan berat badan.

Untuk perseorangan, indeks massa tubuh tak selalu merupakan ukuran tingkat kesehatan.

Tetapi bagi populasi besar, indeks ini merupakan cara yang baik untuk mengestimasi rata-rata..

Untuk studi tersebut, inflamasi diukur dengan keberadaan C-reactive protein  – penanda inflamasi sistemik di seluruh tubuh yang terdapat dalam darah peserta penelitian. Fungsi kognitif diukur dengan penyebutan kata dan tes kefasihan verbal.

Peneliti menemukan hubungan jelas ketiga faktor tersebut. “Semakin tinggi indeks massa tubuh di awal penelitian, semakin besar kadar CRP selama empat tahun berikutnya,” kata Bourassa.

Perubahan CRP kemudian memprediksi penurunan fungsi otak, termasuk fungsi eksekutif dan memori, dua tahun kemudian.

Dengan kata lain, penelitian ini menemukan “indeks massa tubuh seseorang memprediksi penurunan kognitif mereka lewat kadar inflamasi sistemik.

Salah satu peneliti, David Sbarra, profesor psikologi memperingatkan studi ini belum membuktikan hubungan sebab akibat karena hanya memonitor orang dari waktu ke waktu.

Untuk menemukan hubungan sebab akibat itu, penelitian membutuhkan cara untuk mengurangi indeks massa tubuh lewat kondisi terkontrol dan meneliti efeknya pada inflamasi dan kognisi.

Tetapi peneliti mengatakan penemuan mereka mungkin memberikan wawasan baru bagi studi lebih lanjut dan intervensi yang mungkin dapat dilakukan.

“Jika Anda mengalami inflamasi tinggi, di masa depan kami menyarankan menggunakan obat antiinflamasi bukan hanya menurunkan inflamasi tetapi juga membantu fungsi kognitif,” kata Bourassa.

Kelebihan lemak bisa bikin kemampuan otak menyusut. Alasannya, lemak membuat otak jadi lebih cepat tua dari usia sesungguhnya.

Sebuah penelitian lain yang dipublikasikan dalam Neurobiology of Aging menyebut kaitan adanya kaitan antara lemak dan otak.

Hasilnya, makin banyak lemak di perut maka makin tua usia otak dari yang seharusnya.

Penelitian yang melibatkan orang dewasa ini menunjukkan bahwa partisipan yang tergolong obesitas memiliki lebih sedikit white matter atau materi putih otak .

Patokan obesitas yang digunakan para peneliti adalah skala Body Mass Index

White matter sendiri adalah jaringan penghubung di otak. Jaringan ini yang mengatur jalur komunikasi dan pengiriman sinyal dalam otak.

Jaringan ini juga yang bertanggungjawab atas memori atau ingatan seseorang.

White matter merupakan bagian otak yang terus berkembang. Saat seseorang mencapai usia 40 tahun, biasanya fungsi white matter mulai mengalami penurunan. Tak heran jika gangguan ingatan terjadi pada usia lanjut.

“Seiring usia, fungsi white matter akan menurun secara alami. Tapi obesitas mampu mempercepat penurunan fungsi tersebut.”

“ Faktanya, partisipan yang mengalami obesitas memiliki usia otak lebih tua sepuluh tahun dari seharusnya,” ujar Lisa Ronan, Ph. D selaku ketua tim peneliti dari Universitas of Cambridge di Inggris.

Penjelasan yang masuk akal, lanjut Lisa, jaringan lemak yang terlalu banyak membuat tubuh menghasilkan protein penyebab radang yang disebut sitokin.

Protein sitokin ini mampu merusak otak.

Sebelumnya telah ada penelitian mengenai obesitas dan kinerja otak. Hasilnya, lemak disebut dapat meningkatkan risiko demensia atau gangguan ingatan.

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari University of Alabama menunjukkan, orang-orang cenderung makan lebih banyak setelah melakukan tugas-tugas yang memerlukan kinerja otak, seperti menjalani tes atau menghadapi deadline pekerjaan.

Ilmuwan mencatat, aktivitas mental juga membutuhkan energi, dan otak juga akan meminta energi untuk diisi ulang dengan cara mengirimkan sinyal lapar.

Jika hari-hari Anda kerap dipenuhi aktivitas mental yang membuat otak bekerja keras, bisa jadi nafsu makan Anda meningkat drastis.

Namun, ilmuwan juga memiliki cara agar rasa lapar yang terus datang tak berakhir dengan kenaikan berat badan.

Studi menunjukkan, bahwa olahraga di tengah aktivitas mental dapat membuat nafsu makan Anda turun walau harus “menguras” otak.

Para ilmuwan tidak sepenuhnya yakin apa yang membuat nafsu makan bisa turun drastis, tetapi mereka menduga itu ada hubungannya dengan lonjakan kadar laktat dalam darah yang dipicu oleh olahraga.

Teorinya adalah, bahwa otak menggunakan laktat sebagai bahan bakar dan otak akan puas dengan cara itu, sehingga olahraga mampu membatasi dorongan untuk makan berlebihan.

“Laktat mungkin bisa mengisi ulang kebutuhan energi untuk otak yang lelah,” kata peneliti Gary Hunter.

Komentar