Hipertensi Mengintai Kematian

Penulis: Darmansyah

Kamis, 4 April 2013 | 23:08 WIB

Dibaca: 4 kali

Dua kasus mengejutkan,  di dua pekan terakhir ini,  datang ke komunitas pergaulan  media. Ricky Jo, penyanyi, artis dan terakhir pengamat  sepak bola serta Abun Sanda, wartawan senior Kompas, berpulang secara mendadak. Penyebabnya, stroke yang menghentikan denyut jantung.

Gejala stroke yang dialami kedia pesohor di media yang berbeda itu berasal dari gejala hipertensi alias tekanan darah tinggi. Walau pun tidak menunjukkan gejala yang pasti, hipertensi menjadi  penyebab utama penyakit stroke, gagal jantung, gagal ginjal, hingga mati muda.

Kedua pesohor itu, seperti diungkapkan oleh teman dan keluarga selalu baik-baik saja. Tak pernah mengalami gejala pada umumnya penderita penyakit jantung dan hipertensi. Tapai keduanya mendadak berpulang karena jantung yang berhenti.

Nah, tidak hanya keduanya yang menjadi korban hipertensi, tapi kini, menurut laporan yang dipublikasi WHO, organisasi kesehatan dunia,  ada satu miliar orang menderita hipertensi mengidap penyakit itu. Di Indonesia  angkanya  sudah mencapai mencapai 32 persen atau satu diantara tiga orang penduduk menderita hipertensi baik akut maupun yang tidak menampakkan gejala.

Masih banyaknya masyarakat dunia, tentu juga Indonesia,  yang kurang menyadari ancaman hipertensi. Ini  mengundang keprihatinan. Apalagi menurut WHO, hampir sebagian besar orang yang menderita hipertensi ada di negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang. Hipertensi yang tidak terkontrol akan menimbulkan beban kesehatan yang besar.

Jumlah penderita hipertensi di Indonesia pada tahun 1995, baru sekitar 5 persen dari populasi. Survei tahun 2008 yang dilakukan WHO menemukan angkanya sudah melonjak menjadi 32 persen. Kini mungkin angka itu sudah lebih tinggi lagi.  Tekanan darah tinggi umumnya lebih banyak diderita laki-laki.

Tekanan darah dipandang normal jika berada pada kisaran di bawah 120/80 mmHg. Anda dianggap menderita hipertensi bila tekanan darah 140/90 mmHg ke atas.

Penderita tekanan darah tinggi berisiko dua kali lipat menderita penyakit jantung koroner. Risiko penyakit jantung menjadi berlipat ganda apabila penderita tekanan darah tinggi juga menderita diabetes, hiperkolesterol, dan merokok.

Untuk mecegah hipertensi yang dibutuhkan adalah  perbaikan pola hidup menjadi cara untuk mencegah komplikasi penyakit. Obat-obatan juga bisa membantu mengendalikan tekanan darah bilamana diperlukan.

Celakanya lagi, kini, di Indonesia, walau pun belum masuk dalam fase kronis, penyakit darah tinggi atau hipertensi ternyata mulai mengintai usia anak dan remaja..  Konsumsi junk food dan makanan cepat saji dengan kandungan gula dan garam yang tinggi menjadi pemicu kasus hipertensi pada usia dini. Jumlah penderita hipertensi anak di Indonesia sejauh ini belum dapat diketahui secara pasti.

Tekanan darah tinggi pada usia dini dapat berakibat serius pada proses belajar dan tumbuh kembang anak. Tekanan darah tinggi menjadi faktor risiko timbulnya kegemukan atau obesitas. Bila anak kelebihan berat badan, gerak dan aktivitasnya menjadi terbatas.

Akibatnya, anak cenderung malas belajar dan bergerak. Anak yang jarang bergerak akan memupuk kolesterol dalam pembuluh darahnya. Alhasil, kadar kolesterol dalam darah akan semakin tinggi dan berefek pada meningkatnya tekanan darah.

Jika pola makan tidak sehat terus berlanjut, maka tekanan darah semakin meningkat. Hal ini dapat menjadi lebih parah apabila kondisi hipertensi tidak terdiagnosis dan diobati. Kondisi ini membuka pintu bagi penyakit tidak menular (PTM) seperti gagal jantung dan stroke. Jantung dan otak merupakan organ yang menjadi sasaran utama penyakit darah tinggi.

Berdasarkan rekomendasi Satuan Tugas Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hipertensi pada anak adalah suatu keadaan ketika tekanan darah sistolik dan atau diastolik rata-rata berada pada persentil besar sama dengan 95 menurut usia dan jenis kelamin, yang dilakukan paling sedikit tiga kali pengukuran.

Tekanan yang terlalu tinggi menyebabkan jantung gagal memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya, terjadi gagal jantung. Kegagalan ini menghambat asupan oksigen dan nutrisi ke otak yang berakibat stroke.
 

 

Komentar