Garam Penyebab Penyakit Automum

Penulis: Darmansyah

Minggu, 10 Maret 2013 | 14:49 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda tentu pernah merasakan  makanan tanpa garam. Bayangkan. Hambar.  Dan yang  pasti Anda pasti  ngoceh,  jengkel dan selera makan langsung  terkulai. Tapi tahukah  Anda garam  tidak hanya memicu datangnya tekanan darah  tinggi, tapi juga mendatangkan penyakit  automum?

Penyakit automum  adalah  gangguan  kesehatan  yang disebabkan  sistem kekebelan  tubuh menyerang  sel-sel tubuh sendiri. Jenis  penyakit yang masuk dalam  katagori  auomum, menurut jurnal kesehatan antara lain lupus, multiple sclerosis, gangguan tiroid, dan sebagainya.

Jenis penyakit yang masuk dalam kelompok automum  ini menurut para ahli  kesehatan sangat berbahaya dan mematikan. Lupus,  misalnya,  kita mengenal  penyakit ini sebagai penyakit langka tapi sangat menyiksa  dana memerlukan pengobatan  jangka panjang untuk  penyembuhannya.

Selama ini, mungkin,  kita hanya mengenal garam  menjadi pantangan bagi penderita darah  tinggi. Dan kalau pun penderita darah tinggi harua  mengonsumsi garam  dalam makanannya,  pasti dalam takaran  yang  sangat terbatas. Membatasi konsumsi garam dari pola makan sehari-hari,  bukan cuma  dilakoni  oleh mereka yang menderita hipertensi, tetapi berlaku juga bagi orang  yang  tidak memiliki penyakit mematikan  itu.

Dalam sebuah penelitian terhadap mencit di laboratorium diketahui pola makan tinggi garam meningkatkan level sel imun yang terkait dengan penyakit autoimun. Bahkan mencit yang secara genetik direkayasa untuk mengembangkan multiple sclerosis (MS) penyakitnya bertambah parah jika mereka mengasup terlalu banyak garam.

Hasil penelitian itu menunjukkan garam memiliki peran pada penyakit autoimun yang sebelumnya belum pernah diketahui pemicunya, misalnya pada diabetes tipe 1 atau MS.

Konsumsi garam yang tinggi sendiri sudah diketahui meningkatkan risiko penyakit jantung dan hipertensi. Namun para ahli menilai faktor pemicu penyakit autoimun bukan cuma garam.

“Vitamin D juga berperan meski kecil. Selain itu merokok juga akan meningkatkan risiko penyakit autoimun,” kata David Hafler, ahli imunobiologi dari Universitas Yale. Hafler tertarik meneliti kaitan antara garam dan penyakit autoimun ketika ia sedang melakukan riset tentang mikroba usus, sebuah sensus mikroba usus dan fungsi sel pada 100 orang sehat.

Tim peneliti menemukan ketika orang-orang tersebut makan di  restoran cepat saji lebih dari satu kali seminggu, mereka menunjukkan peningkatan level sel inflamasi yang merusak. Ini berarti sistem imun mengeluarkan respon yang sama jika ada virus atau bakteri, tetapi pada sel yang sehat.

Sel autoimun yang aktif tersebut diketahui adalah sel T helper 17 atau sel Th17. Sel itu memicu inflamasi yang sebenarnya penting dalam melawan patogen. Tetapi sel ini juga terkait dengan penyakit MS, psoriasis, artritis rematoid, dan sebagainya. Dalam dunia kedokteran saat ini, pengobatan penyakit autoimun, seperti psoriasis, adalah dengan memanipulasi fungsi sel T.

Meski tim peneliti belum mengetahui dengan jelas bagaimana terjadinya penyakit autoimun dan kaitannya dengan aktivitas sel T tadi, namun mereka yang menderita penyakit autoimun disarankan untuk membatasi asupan garamnya.

Komentar