Dampak Pestisida pada Sayur Organik

Penulis: Darmansyah

Jumat, 17 Maret 2017 | 09:03 WIB

Dibaca: 0 kali

Environmental Working Group  aau dikenal dengan EWG di AS baru saja merilis daftar buah dan sayuran yang ditemukan paling sedikit terkena dampak paparan pestisida

Lembaga itu mengingatkan, tak semua buah dan sayur perlu dibeli organic, bila tujuan Anda membeli pangan organik adalah untuk mengurangi paparan pestisida.

Kecuali Anda memiliki tujuan lainnya, seperti mendukung sistem produksi yang tidak meracuni lingkungan, membeli pangan organik mungkin sudah menjadi hal wajib.

Namun menurut Sonya Lunder, seorang analis senior di EWG, masih sangat sedikit orang yang makan seratus persen organik.

Lebih banyak orang membuat keputusan yang sehat, namun tetap membandingkan dengan pengeluaran mereka.

Untuk sehat tidak harus mengonsumsi buah dan sayur organik.

Produk organik itu belum tentu kandungan gizinya lebih tinggi. Kalau memang secara sosio ekonomi mampu membeli produk organik boleh saja, tapi bukan berarti yang non organik enggak sehat

Sayuran berupa jagung manis dan alpukat dinilai paling bersih dari pestisida. Pestisida terdeteksi hanya satu persen dalam daging jagung manis dan alpukat.

Mengingat alpukat organik relatif mahal , ini bisa menjadi kabar baik bagi pecinta alpukat.

Hanya saja, kulit alpukat perlu dicuci bersih sebelum dipotong.

Buah dan sayuran lain yang paling sedikit terkena dampak pestisida ialah nanas, pepaya, asparagus, bawang, dan kubis.

Lebih dari delapan puluh persen dari sampel yang diuji bahkan tidak ada residu pestisida sama sekali.

Konsumsi sayuran dan buah bertepung seperti kentang, jagung dan kacang polong dapat menaikkan risiko penambahan berat badan, kata tim yang dipimpin oleh Monica Bertoia dari Harvard University School of Public Health dan Brigham and Women’s Hospital, di Boston.

Temuan ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.

Namun, penelitian ini dapat dijadikan sebagai petunjuk tambahan untuk pencegahan obesitas, yang merupakan faktor risiko utama untuk diabetes tipe-2, penyakit jantung, kanker dan berbagai gangguan kesehatan lainnya,” kata para peneliti.

Penelitian ini telah dipublikasikan  dalam jurnal PLoS Medicine.

Para ahli gizi tidak terkejut dengan temuan ini.

Erin Keane adalah ahli diet dan nutrisi klinis di Rumah Sakit Lenox Hill di New York City. Dia mengatakan bahwa perbedaan antara sayuran yang mengandung tepung dan non-tepung, ada pada “beban glikemiknya”.

“Makanan dengan glikemik rendah diperkirakan menghasilkan lonjakan glukosa darah yang lebih sedikit, dapat menurunkan rasa lapar dan berpotensi mengurangi asupan kalori total dalam sehari,” jelas Keane.

Sayuran yang diklasifikasikan sebagai glikemik rendah termasuk brokoli, kembang kol, kubis, kale, lobak, bayam, selada romaine, kedelai dan cabai, kata Keane.

Sayuran berglikemik tinggi adalah sayuran sarat pati atau tepung termasuk kentang dan jagung.

Sedangkan buah seperti beri, termasuk berglikemik rendah. Lain halnya dengan pisang yang mengandung nilai glikemik lebih tinggi.

Sehingga, untuk menurunkan berat badan, asupan beri lebih dianjurkan daripada pisang, sementara pisang lebih berfungsi bagi mereka yang ingin memertahankan tingkat energinya.

Menjalani pola hidup sehat tak cukup hanya dengan menghindari makan gorengan atau mengganti nasi putih dengan nasi merah, tapi harus memasukkan buah dan sayur dalam menu sehari-hari.

Makan buah dan sayur dengan beragam warna sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh.

Pasalnya, buah dan sayuran mengandung fitonutrisi atau fitokimia yang tidak didapat dari bahan pangan lainnya.

itonutrisi kaya antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas dan berbagai senyawa yang dibutuhkan tubuh.

Selain itu juga bermanfaat untuk menstabilkan Kolesterol darah, meningatkan kekebalan tubuh, dan mencegah mutasi sel kanker

Fitonutrisi yang terkandung dalam masing-masing buah dan sayur berbeda-beda. Itulah yang membuat ada buah berwarna merah, oranye, putih, ungu, hingga sayuran hijau.

Masing-masing warna pun memiliki manfaat berbeda. Karena itu, jangan konsumsi buah atau sayur hanya satu jenis atau satu warna saja.

Jansen menambahkan, konsumsi buah bisa dilakukan kapanpun, baik sebelum makan ataupun setelah makan.

“Dikonsumsi dalam bentuk apa saja juga baik, entah mau dinikmati dalam bentuk buah potong atau dalam bentuk jus,” ujarnya

Yang bisa membuat konsumsi buah dan sayur menjadi tak efektif adalah proses pemanasan.

Buah dan sayur yang dipanaskan, kandungan vitamin dan fitonutriennya akan rusak. Meski tetap mengandung serat, konsumsi buah dan sayur fresh lebih baik

Komentar