“Dada Sering Berdebar, Gejala Jantung?”

Penulis: Darmansyah

Minggu, 26 Juni 2016 | 15:12 WIB

Dibaca: 1 kali

Seorang pasien mengeluhkan tentang kebiasaannya  yang menakutkan.

“Saya sering mengalami debaran kuat di dada dok,”  tuturnya kepada sang dokter.

“Apakah ini gejala janutng?”

Sang dokter dengan bijak menjelaskan, dengan merujuk pada  pengalaman klinisnya, dan lantas mengatakan secara  teoritis keluhan jantung berdebar, apalagi hanya sesekali dan berlangsung sebentar, sebagian besar adalah normal.

Kata lainnya tidak ada kaitannya dengan penyakit jantung yang serius.

Sembari menguraikan tentang gejala jantung, sang dokter memberi contoh, kalau Anda panik, misalnya tiba-tiba waktu berjalan ada seekor ular berbisa di depan Anda, jantung kemudian berdebar kencang, jantung berdebar dalam keadaan begitu biasanya normal.

Keadaan stres seperti cemas, takut, olahraga yang berat, minum kopi, mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti obat asthma, obat flu, badan panas, juga dapat menyebabkan jantung berdebar

Walaupun jarang, jantung berdebar bisa juga disebabkan keadaan lain yang serius seperti anemia, hipertiroid, keadaan hipoglikemi pada penderita diabetes melitus, atau gangguan jantung.

Tapi, melihat keluhan saudara  kemungkinan ini sangat kecil.

Kecuali bila disamping keluhan berdebar itu diikuti dengan keluhan atau gejala lain umpamanya nyeri dada, sesak nafas, mau pingsan, berkeringat dingin, pusing yang berat, saudara harus segera konsultasi langsung ke dokter.

Kalau memang Anda ingin memeriksakan diri lebih lanjut sebaiknya konsultasi ke dokter penyakit dalam lebih dulu.

Pemriksaan apa yang harus dilakukan nanti dokter tersebut yang menentukan sesuai dengan keadaan klinis saudara.

Rasa nyeri di dada seolah ada gajah menduduki kita, dikenal sebagai gejala serangan jantung yang umum.

Namun begitu  hampir setengah dari semua serangan jantung yang terjadi kemungkinan tidak memunculkan gejala.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Circulation menunjukkan, empat puluh lima persen dari semua kasus serangan jantung di Amerika Serikat tidak bergejala.

Meski tidak bergejala, bukan berarti serangan jantung tersebut lebih aman dibanding serangan yang bergejala.

Para peneliti  mengamati data  selama dua dekade untuk mengumpulkan informasi mengenai tingkat kematian.

Peneliti menemukan, serangan jantung secara diam-diam itu meningkatkan risiko seseorang meninggal dunia karena penyakit jantung sebesar tiga kali lipat dibanding serangan jantung yang bergejala.

Dokter melihat tanda-tanda serangan jantung diam menggunakan alat ekokardiogram  yaitu alat yang mengukur aktivitas listrik jantung.

Alat itu menunjukkan, mereka yang pernah terkena serangan jantung tak bergejala memiliki perubahan aktivitas listrik jantung.

Peneliti juga menemukan, meski serangan jantung yang diam lebih sering ditemui pada pria, serangan jantung ini lebih berisiko menyebabkan kematian jika terjadi pada wanita.

Direktur Pusat Penelitian Epidemiologi Kardiologi Wake Forest Baptist Medical Center di Carolina Utara, Dr Elsayed Soliman mengatakan, serangan jantung yang diam justru lebih berbahaya.

Menurut dia, banyak pasien yang tak sadar telah mengalami serangan jantung. Akhirnya, mereka pun tak segera mencari pengobatan untuk melakukan pencegahan.

Serangan jantung terjadi ketika pembuluh darah yang membawa darah ke jaringan otot jantung tersumbat.

Tanpa aliran darah tersebut, jantung pun tidak bisa bekerja. Serangan jantung tidak selalu bergejala nyeri dada, sesak napas, hingga pusing.

Menurut Elsayed, pesan dari hasil penelitian ini adalah semua orang seharusnya menjaga kesehatan jantung.

Serangan jantung pada wanita sering terjadi tanpa disertai nyeri dada. Hal ini membuat para wanita tak menyadari adanya serangan jantung sehingga pertolongan terlambat diberikan.

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Circulation tahun 2014 menemukan, tujuh dari sepuluh wanita melaporkan serangan jantung dengan gejala utama seperti flu, tanpa nyeri dada sama sekali.

Profesor Collins, ahli jantung dari Royal Brompton NHS Foundation Trust, mengungkapkan, tanda-tanda serangan jantung pada wanita juga bisa berupa rasa nyeri di punggung, mual, dan muntah.

Selain itu, menurut Maja-Lisa Lochen dari departemen kardiologi di Rumah Sakit University of North Norwegia, ada pula yang memunculkan gejala kecemasan, asma, dan gangguan pencernaan lainnya.

Gejala yang tidak khas akan menyebabkan keluhan itu diabaikan. Seharusnya mereka segera ke dokter karena sudah terjadi sumbatan di pembuluh darah yang dapat mengganggu irama jantung hingga akhirnya terjadi serangan.

Menurut Profesor Collins, serangan jantung pada wanita biasanya terjadi akibat penumpukan plak secara bertahap sehingga terjadi penyumbatan di pembuluh darah.

Plak bisa menyebar merata di seluruh dinding arteri dan menyebabkan gejala di seluruh tubuh bagian atas, seperti mual dan sakit perut.

Di Inggris, lebih dari 28.000 wanita meninggal karena serangan jantung setiap tahunnya. Keterlambatan diagnosis dan pengobatan menyebabkan banyak wanita meninggal saat serangan jantung pertama kali terjadi.

Berdasarkan penelitian, wanita lebih sering menunda mencari bantuan medis karena serangan jantung tidak menunjukkan gejala khas. Penelitian menunjukkan, wanita baru pergi ke dokter setelah 54 jam terjadi serangan atau lebih dari dua hari, sedangkan pria rata-rata setelah 16 jam.

Wanita lebih berisiko terkena penyakit jantung ketika memasuki masa menopause dan juga obesitas.

Faktor risiko lainnya, yaitu tekanan darah tinggi, diabetes, siklus menstruasi yang tidak teratur, dan riwayat keluarga penyakit jantung.

Komentar