Betulkah Madu Memiliki Manfaat “Ajaib?”

Penulis: Darmansyah

Senin, 26 Desember 2016 | 09:21 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs “medical daily,” hari ini, Senin, 26 Desember 2016, menurunkan tulisan untuk membantah sebuah tim nutrisi yang  menulis di Journal of Nutrition dan menyatakan khasiat madu bukan sebesar yang digembar gemborkan.

Jufrnal itu  menyebutkan bahwa madu memberikan pengaruh yang serupa bagi tubuh seperti halnya pemanis lain, misalnya gula putih dan sirup jagung tinggi fruktosa  yang dipakai sebagai pemanis.

“Medical daily,” mengutip hasil peneltian terbaru dari  National Honey Board menyebut khasiat madu “luar biasa.”

Madu mengandung harta gizi dan obat yang tersembunyi selama berabad-abad.

Cairan emas manis dari sarang lebah ini sarat dengan sifat antibakteri dan antijamur yang telah digunakan oleh banyak orang sejak zaman Mesir kuno.

Menurut penelitian itu, satu sendok makan madu mentah mengandung enam puluh empat  kalori, bebas lemak, bebas Kolesterol dan sodium

Komposisinya kira-kira delapan puluh  persen karbohidrat, delapan belas persen air, dan dua persen vitamin dan mineral serta asam amino.

Meski sehat, sebaiknya madu tidak dikonsumsi oleh bayi.

Spora bakteri Clostridium botulinum yng ditemukan dalam kotoran dan debu, dapat mencemari madu dan menyebabkan botulisme. Bayi yang terkena botulisme akan mengalami lemah otot dan masalah pernapasan.

Mayo Clinic merekomendasikan orangtua harus menunggu sampai bayi berusia 12 bulan jika ingin memberikan bayi madu.

Madu aman untuk orang dewasa dan anak-anak, karena mereka memiliki sistem pencernaan yang telah matang yang dapat menangani spora. Konsumsi madu dan Anda akan menuai manfaat berikut ini:

Madu memiliki efek anti-inflamasi dan kemampuan untuk menenangkan batuk. Radang dan batuk adalah dua gejala alergi musiman.

Meskipun tidak ada studi klinis yang membuktikan kemanjurannya, Dr. Matthew Brennecke, dokter naturopati di Rocky Mountain Wellness Center di Fort Collins, Colorado., mengatakan, “Ada sebuah teori umum yang menyebutkan bahwa madu dapat bertindak seperti vaksin alami.”

Madu berisi sejumlah kecil serbuk sari, yang jika tubuh terkena sejumlah kecil itu, dapat memicu respon imun yang menghasilkan antibodi terhadap serbuk sari.

Madu merupakan sumber energi alami dengan tujuh belas gram karbohidrat persendok makan.

Madu mengandung gula alami, fruktosa dan glukosa, yang mampu langsung memasuki aliran darah dan mendorong produksi energi dengan cepat.

Madu mengandung antioksidan yang dapat membantu mencegah kerusakan dan hilangnya sel otak.

Sebuah studi lima tahun lalu yang diterbitkan dalam jurnal Menopause menyebutkan, bahwa sesendok madu setiap hari dapat meningkatkan memori pada wanita menopause, dan dapat menjadi terapi alternatif untuk meringankan penurunan intelektual yang terkait dengan hormon.

Setelah empat bulan mengonsumsi  dua puluh  gram madu setiap hari, wanita lebih mungkin untuk memiliki memori jangka pendek yang lebih baik, daripada rekan-rekan mereka yang mengonsumsi pil hormon.

Dua sendok madu bisa menjadi obat alami ketika Anda menderita batuk yang terus-menerus, menurut sebuah studi empat tahun lalu yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics.

Anak-anak antara usia satu sampai lima tahun yang sering batuk waktu malam, dianjurkan mengonsu;si dua sendok teh madu 30 menit sebelum tidur.

Mirip dengan gula, madu dapat menyebabkan kenaikan insulin dan mendorong pelepasan serotonin, neurotransmitter yang meningkatkan suasana hati dan kebahagiaan.

“Tubuh mengubah serotonin menjadi melatonin, senyawa kimia yang mengatur rasa kantuk dan kualitas tidur,” kata Rene Ficek, ahli diet dan gizi di Seattle Sutton’s Healthy Eating Chicago.

Sebuah studi lainnya yang dipublikasikan dalam European Journal of Medical Research menemukan, madu yang diencerkan dengan air hangat dengan komposisi satu banding sepuluh persen, lalu diaplikasikan ke rambut dan kulit kepala dan didiamkan selama tiga jam selama seminggu, dapat menghilangkan gatal dan ketombe.

Jika diaplikasikan selama dua minggu dapat mengatasi kerontokan rambut. Efek ini bahkan bertahan hingga enam bulan setelah pemakaian.

Madu merupakan antibiotik alami yang dapat bertindak baik secara internal maupun eksternal.

Madu dapat digunakan sebagai desinfektan konvensional untuk luka dan luka bakar dari ancaman infeksi bakteri seperti methicillin resistant Staphylococcus aureus.

Sebuah studi tahun sebelas tahun lalu yang diterbitkan dalam British Journal of Surgery menemukan, semua kecuali satu dari pasien yang menderita luka dan borok kaki menunjukkan peningkatan yang luar biasa setelah mengaplikasikan madu sebagai obat topikal (luka luar).

“Madu dianggap lebih alami ketimbang gula pasir dan sirup jagung tinggi fruktosa yang telah melalui serangkaian proses pembuatan. Kami mencoba mencari tahu perbedaannya, tapi secara kimiawi ternyata sama saja,” ungkap Susan Raatz selaku ketua peneliti.

Dalam sebua riset lain, para ilmuwan membandingkan efek dari madu, gula pasir dan sirup jagung tinggi fruktosa.

Hasilnya ternyata tidak berbeda jauh. Kadar trigliserida  meningkat di semua partisipan, apa pun jenis pemanis yang diasup.

Madu memang digunakan sebagai pemanis altenatif gula karena mengandung vitamin B – yang tidak ada dalam kandungan gula putih.

Madu Manuka adalah jenis madu yang langka dan paling mahal dari Selandia Baru. Madu ini juga dianggap sebagai salah satu makanan super.

“Namun begitu, madu tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan dan jangan dijadikan makanan rutin”, ungkap Sara Stanner selaku ahli nutrisi.

“Madu memang tidak berbahaya, namun perlu di ingat bahwa itu akan menambahkan kalori dalam pola makan,” katanya.

Komentar