Berlarilah Agar Usia Bisa Lebih Panjang

Penulis: Darmansyah

Kamis, 29 Juni 2017 | 10:15 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda , mungkin, termasuk salah seorang yang menyenangi olahraga lari. Namun begitu, tak banyak di antara penyuka olahraga ini yang memahami efek fisiologis berlari pada tubuh.

Makanya adalah sangat penting untuk memaham apa saja yang bisa terjadi saat kita berlari:

Efek lari biasanya bisa membuat seseorang sakit perut atau kram

Dan ini  merupakan masalah umum bagi pelari.

Ini karena tubuh kita menggerakkan darah ke arah otot kita dan menjauh dari usus.

Akibatnya, sistem pencernaan makanan mulai melambat. Ini juga merupakan alasan mengapa kita sebaiknya tidak makan besar sebelum berlari.

Pilih makanan ringan seperti buah dan sandwich yang mudah untuk dicerna.

Selain itu, saat berlari, kita kadang-kadang merasa nyaman seperti melayang.

Pasalnya berlari jarak jauh memicu pelepasan endorfin, zat kimia di otak yang menghasilkan perasaan euforia, dan bahkan membuat tubuh Anda merasa kebal terhadap rasa sakit.

Neurotransmiter lainnya termasuk dopamin, merangsang munculnya perasaan senang, sementara serotonin membuat suasana hati lebih baik.

Faktor-faktor ini kemungkinan besar memberi efek baik saat seseorang berlari, seperti mengurangi gejala stres, kecemasan dan depresi.

Secara umum olahraga lari akan mengeluar sejumlah energi atau kalori

Berlari bisa menciptakan defisit kalori dan kehilangan lemak melalui pengeluaran energi.

Berdasarkan alat pengukur pembakaran energi, jika berat Anda enam puluh lima kilogram dan Anda berlari dengan kecepatan enam setengah  kilometer per jam, Anda bisa membakar sekitar seratus tiga puluh  kalori dalam dua puluh menit.

Berlari juga memperkuat tulang dan otot serta membantu metabolisme, namun pada titik tertentu, kita tidak dapat membangun otot hanya dengan berlari.

Untuk itu diperlukan latihan lain seperti latihan beban untuk mendapatkan otot yang diinginkan.

Saat kita mengambil langkah, jantung dan paru kita juga mulai bereaksi. Tugas mereka adalah mengalirkan darah ke otot agar terjadi pembakaran yang menghasilkan tenaga.

Pada titik tertentu, jantung kita juga akan mengalami kelelahan. Jadi penting untuk melatih jantung agar bisa bertahan mendukung langkah kita saat berlari.

Selain itu, tiap kali kita berlari, penyerapan oksigen akan meningkat dan hal ini bisa mengukur seberapa efisien Anda menggunakan oksigen.

Ukuran ini dianggap sebagai salah satu indikator kebugaran kardiovaskular. Serapan oksigen yang lebih tinggi memungkinkan otot Anda meningkatkan kapasitasnya untuk menghasilkan energi secara efisien.

Suhu tubuh kita meningkat saat berlari, terutama pada cuaca panas, namun keringat akan menurunkan suhu tubuh.

Agar berlari menjadi lebih nyaman, kuncinya adalah berpakaian dengan tepat untuk melindungi dari cuaca dingin atau panas.

Ya, ada beberapa kelemahan saat berlari.

Salah satunya soal risiko cedera.

Berlari adalah aktivitas berulang, oleh karena itu otot dan sendi mengalami tekanan yang signifikan. Itulah mengapa pelari kadang mengalami pembengkakan sendi, cedera otot dan tekanan jantung.

“Sekitar empat puluh persen cedera berlari dimulai dari lutut, yang seharusnya bisa dihindari dengan keseimbangan antara latihan kekuatan dan peregangan serta dikombinasikan dengan bantalan sepatu yang bagus,” kata Pip Taylor, atlet triatlon profesional dan penulis Athlete’s Fix.

Oleh karena itu, sebelum berlari kita sebaiknya melakukan persiapan dengan benar. Latih otot dan sendi Anda lewat pemanasan untuk mencegah cedera.

Lakukan peregangan dengan benar sebelum dan sesudah lari jarak jauh, dan beri waktu istirahat dan pemulihan yang cukup.

Selain itu, para ilmuwan mengungkapkan, berlari selama satu jam dalam seminggu adalah olahraga yang paling efektif untuk meningkatkan harapan hidup.

Tak peduli seberapa jauh dan seberapa cepat Anda berlari.

Penelitian yang dilakukan di Iowa State University menganalisis kembali data dari The Cooper Institute di Texas dan juga memeriksa kembali hasil dari sejumlah penelitian terbaru lainnya yang melihat kaitan antara olahraga dan kematian.

Para peneliti menemukan, bahwa ulasan terbaru memperkuat hasil penelitian sebelumnya.

Berapapun kecepatan dan jarak tempuhnya, risiko kematian dapat turun hingga 40 persen saat seseorang rutin berlari.

Bahkan hal ini tetap berlaku, ketika para peneliti mengendalikan kebiasaan merokok, minum alkohol, ataupun berbagai masalah kesehatan seperti obesitas.

Mereka mengikuti para peserta selama lima belas tahun dan menemukan bahwa lebih dari tiga ribu orang meninggal dunia, hanya sepertiga kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung.

Penulis penelitian Dr Duck-chul Lee, seorang profesor kinesiologi di Iowa State University mengungkapkan bahwa, ketika studi ini dipublikasikan, tim peneliti diburu dengan berbagai pertanyaan apakah kegiatan lain seperti berjalan kaki juga memiliki manfaat yang sama.

Pelari jarak jauh juga mempertanyakan apakah yang mereka lakukan berlebihan, karena di titik tertentu, berlari memang bisa menyebabkan kematian dini.

Setelah menganalisa data dalam studi baru ini, para peneliti menentukan bahwa dari jam ke jam, secara statistik berlari mengembalikan lebih banyak waktu kehidupan seseorang.

Dalam studi The Cooper Institute, para peserta melaporkan bahwa mereka rata-rata berjalan kaki dua jam per minggu.

Para peneliti juga mengungkapkan bahwa, peserta penelitian yang bukan pelari, tapi menjalankan olahraga lari selama penelitian, terbukti menurunkan angkan kematian enam belas persen dan yang menderita serangan jantung dua puluh lima persen lebih sedikit.

Jenis latihan lainnya juga terbukti bermanfaat. Berjalan dan bersepeda menurunkan risiko kematian dini sekitar dua belas persen

Dr Lee mengatakan, para peneliti masih belum yakin mengapa berlari bisa membantu memperpanjang umur.

Namun menurutnya, hal itu kemungkinan karena olahraga tersebut memerangi banyak faktor risiko umum penyebab kematian dini, termasuk tekanan darah tinggi dan lemak tubuh berlebih, terutama di bagian tengah tubuh.

Meski demikian, berlari takkan membuat Anda abadi dan harapan hidup lebih panjang takkan lebih dari tiga tahun.

Perbaikan harapan hidup pada umumnya meningkat sekitar empat jam setiap minggu, kata Dr Lee.

Komentar