Stress Picu Sakit Jantung dan Kanker

Penulis: Darmansyah

Jumat, 20 Januari 2017 | 11:56 WIB

Dibaca: 1 kali

Jurnal Preventive Medicine. Seperti dikutip laman situs kesehatan terkenal “menshealth,” hari ini, 20 Januari 2017, mengingatkan dampak dari bahaya stress yang tidak hanya membuat setiap orang bisa depresi tapi juga mengundang kanker.

Selama ini memang telah diyakini penyakit kanker  tidak disebabkan oleh faktor tunggal.

Dan, yang terbaru,  kanker bisa dipicu oleh stres kronik, termasuk yang disebabkan oleh pekerjaan.

Pria yang memiliki pekerjaan dengan tingkat stres tinggi ternyata lebih rentan terkena kanker. e.

Tim peneliti melakukan penelitian terhadap pria yang terdiagnosis kanker dan pria sehat sebagai kelompok kontrol.

Mereka yang mengaku mengalami stres jangka panjang karena pekerjaannya cenderung didiagnosis kanker paru, kolon, rektum, dan juga perut, dibandingkan dengan pria yang kondisi pekerjaan tidak stres.

Yang harus dicatat, risiko kanker itu lebih besar pada pria yang terpapar stres kerja dalam waktu lama.

Dalam penelitian tersebut, pekerjaan dengan tingkat stres paling tinggi adalah pemadam kebakaran, insinyur industri, insinyur penerbangan, ahli mekanik, serta pekerja perbaikan kendaraan dan kereta api.

Walau begitu, stres pekerjaan bisa berasal dari berbagai sumber, bukan profesinya saja.

Para partisipan studi itu mengungkapkan stres mereka disebabkan tuntutan yang tinggi, waktu, masalah keuangan, merasa tidak aman dengan pekerjaan, serta lingkungan pekerjaan yang dekat bahaya.

Kini terdapat sekitar tiga ratus lima puluh  juta orang menderita depresi

Anga ini berasal dari  Organisasi Kesehatan Dunia.

Menurut hasil studi baru, depresi pada pria dinilai lebih membahayakan kesehatan.

Berdasarkan hasil dari penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Atherosclerosis, risiko penyakit jantung fatal pada pria akibat depresi hampir sama tingginya dengan risiko penyakit jantung fatal akibat kadar Kolesterol tinggi atau obesitas.

Profesor Karl-Heinz Ladwig, penulis utama studi tersebut, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penelitian sebelumnya telah menunjukkan, depresi merupakan faktor risiko dalam mengembangkan masalah kardiovaskular.

Namun, para peneliti menemukan fakta lebih jelas bahwa depresi berkaitan dengan risiko penyakit jantung fatal pada pria.

Untuk menilai risiko, tim peneliti menganalisis data dari  pasien laki-laki  serta mengamatinya selama lebih dari satu dekade.

Mereka membandingkan dampak depresi pada jantung dengan empat faktor risiko yang paling umum: tekanan darah tinggi, Kolesterol tinggi, merokok, dan obesitas.

Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi dan merokok terkait dengan penyakit jantung

Beberapa riset telah menemukan hubungan antara pekerjaan dan risiko depresi.

Namun para ahli di Kanada mengungkapkan, depresi akibat pekerjaan pada perempuan dan pria dipengaruhi oleh hal yang berbeda.

Peneliti mengatakan, perempuan cenderung lebih rentan mengalami depresi apabila mereka tidak dihargai atas pekerjaan mereka atau tidak mendapatkan perhargaan atas apa yang mereka lakukan.

Sementara pada pria, hubungan tersebut tidak ditemukan.

Pada pria, risiko depresi lebih mungkin disebabkan karena intensitas jam kerja, terutama pada pria yang bekerja secara penuh

Sedangkan konflik keluarga dan pekerjaan turut memengaruhi risiko depresi baik pada pria maupun wanita, tetapi dalam cara yang berbeda.

Pria cenderung mengalami peningkatan risiko depresi jika kehidupan keluarga mereka memengaruhi kehidupan kerja.

Sedangkan perempuan berisiko depresi jika kehidupan pekerjaan mereka mengganggu kehidupan keluarga.

“Meskipun lebih banyak tenaga kerja perempuan dan lebih banyak pria yang menjadi tulang punggung keluarga, baik pria dan wanita mungkin melihat peran keluarga atau pekerjaan secara berbeda,” kata peneliti Jianli Wang, profesor di Departemen Psikiatri dan Komunitas Ilmu Kesehatan di University of Calgary di Alberta, Kanada.

Dalam kajiannya, Wang dan rekannya meneliti sekitar dua ribuan pria dan perempuan yang hidup di Alberta selama tiga tahun dan tidak mengalami depresi.

Peserta diikuti untuk melihat apakah mereka mengembangkan depresi.

Peserta juga diminta menjawab pertanyaan mengenai pekerjaan mereka, seperti tekanan dalam pekerjaan dan apakah mereka merasa cukup dihargai atas usaha mereka atau tidak

Komentar