Awas!! Hipertensi Bikin Pikun di Usia Tua

Penulis: Darmansyah

Jumat, 28 April 2017 | 09:09 WIB

Dibaca: 2 kali

Apakah Anda termasuk orang sehat?

Tak pernah memiliki riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi?

Nah, untuk itu jangan khawatir berlebihan bila pada satu saat kala mengukur tensi tekanan darah Anda tiba-tiba melonjak.

Untu Anda tahu tTekanan darah  bisa saja melonjak ketika dipompa jantung ke seluruh tubuh.

Bila tekanan ini konsisten tinggi, bisa merusak pembuluh darah sehingga tubuh beresiko mengalami berbagai penyakit seperti serangan jantung, bahkan stroke.

Walau begitu, tekanan darah normal yang mendadak jadi tinggi, bahkan naik 15-20 poin dari biasanya, tidak berbahaya jika hanya berlangsung sementara.

Ada beberapa kondisi yang tak terkait penyakit yang bisa menyebabkan tekanan darah mendadak tinggi.

Sebut saja saat kita merasa grogi dan takut bertemu dokter, jantung akan berdetak lebih keras.

Kondisi ini ternyata umum terjadi. Para ahli menyebutnya sebagai ” hipertensi jas putih”, yang dapat membuat bacaan tekanan darah naik lima belas poin.

Tarik napas dalam melalu hidung dan keluarkan lewat mulut untuk menenangkan diri. Hal ini bisa membuat detak jantung lebih lambat dan tekanan darah kembali normal.

Lainnya, bila dikejar waktu untuk segera menghadiri pertemuan penting dengan klien tetapi Anda masih stuck di jalan yang macet?

Ini terjadi pada setiap warga kota besar yang setiap hari menjadi komuter. Kabar buruknya, stres karena terburu-buru ini bisa membuat tekanan darah sedikit naik.

Saat kita berjalan cepat atau berlari, detak jantung meningkat karena harus memompa lebih banyak darah untuk membuat otot lebih kuat.

Makin banyak darah yang dipompa berarti tekanan pada dinding pembuluh darah juga lebih kuat. Tekanan darah pun meningkat.

Saat kandung kemih penuh dan tak juga dilepaskan, tubuh akan memberi sinyal untuk melepaskan hormon stres seperti adrenalin yang akan mengaktifkan respon lawan atau tinggalkan.

Ini akan membuat pembuluh darah menyempit sehingga tensi darah naik.

Penyebabnya adalah kafein. Bagaimana mekanisme kafein membuat tekanan darah naik belum jelas, tapi salah satu teori menyebut

kemungkinan karena tubuh memproduksi lebih banyak adrenalin yang akan membuat detak jantung meningkat. Kafein biasanya berpengaruh pada orang yang tidak biasa minum kopi.

Dalam suhu yang dingin, pembuluh darah dekat permukaan kulit akan mengerut dan mengirim lebih banyak darah.

Tujuannya agar organ tubuh vital tetap hangat, namun efeknya juga membuat tekanan darah naik. Ketika pembuluh darah menyempit, darah yang melewatinya akan mengalami tekanan lebih.

Memang hipertensi atau tekanan darah tinggi selama ini lebih dikenal sebagai faktor risiko terjadinya stoke hingga penyakit jantung.

Namun, hipertensi sebenarnya bisa merusak semua organ tubuh.

hipertensi ternyata menjadi salah satu faktor risiko terjadinya demensia atau kepikunan pada usia lanjut.

Hipertensi muda yang tidak terkontrol faktor risiko pikun di usia senja,” ujarnya.

hipertensi turut memengaruhi kerusakan pembuluh darah di otak yang memicu terjadinya stroke apabila tidak terkontrol.

Selain itu, sejumlah penelitian menemukan bahwa hipertensi juga bisa merusak sel-sel di otak yang terkait dengan fungsi kognitif.

Kerusakan tersebut bisa berlanjut menjadi demensia.

Penelitian menemukan, wanita yang terkena stoke berpotensi mengalami demensia 7 kali lipat dibanding pria yang hanya berisiko empat kali lipat.

hipertensi bisa menyerang di usia muda. Apalagi jika memiliki riwayat keluarga yang terkena hipertensi.

Pemeriksaan tekanan darah secara rutin membantu menemukan penyakit hipertensi sejak dini. Dengan begitu, tekanan darah pun bisa dikontrol sejak dini.

Meski demikian, langkah terbaik adalah mencegah jangan sampai terkena hipertensi. Mulailah pola makan sehat dengan membatasi asupan garam, tidak merokok, hingga olahraga secara teratur.

Semakin banyak orang sehat yang menderita tekanan darah tinggi namun tidak terdeteksi, sebuah penelitian dalam American Heart Association jurnal Circulation memperingatkan.

Para peneliti dari Stony Brook dan Columbia University menganalisis 888 orang orang dengan cacatan tekanan darah yang normal. Namun, ketika peneliti melakukan pantauan tekanan darah selama 24 jam, hampir 20 persen dari peserta ternyata menderita tekanan darah tinggi.

Temuan, menunjukkan bahwa pemantauan 24 jam lebih efektif ketimbang pemeriksaan tekanan yang dilakukan on the spot di rumah sakit.

Keadaan ini dikenal sebagai hipertensi bertopeng, yaitu ketika seseorang memiliki hasil pemeriksaan tekanan darah sehat di hadapan dokter, tetapi menampilkan tekanan darah yang berbeda di waktu lainnya, seperti malam hari.

Menariknya, risiko terbesar hipertensi yang tak terdeteksi ini dialami oleh orang-orang muda, terutama pria.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat memiliki gejala tidak terlihat. Tetapi jika tidak diobati, dapat meningkatkan risiko kesehatan serius seperti serangan jantung dan stroke.

“Tekanan darah tinggi yang terus-menerus dapat berpotensi mengancam nyawa, seperti penyakit jantung, serangan jantung, stroke, gagal jantung, penyakit arteri perifer, aneurisma aorta, penyakit ginjal, demensia vaskular,” kata Dr Schwartz, penulis utama, Profesor Psikiatri dan Sosiologi di Stony Brook dan Dosen di Universitas Columbia.

Untungnya, hipertensi dapat dengan mudah diobati dengan perubahan gaya hidup. Pilihan makan sehat serta rutinitas olahraga dapat secara drastis mengurangi risiko serangan jantung, stroke dan demensia.

Tetapi karena tekanan darah tinggi memiliki begitu sedikit gejala, banyak yang tidak tahu sampai mereka merasakan sakit.

 

Komentar