Olahraga Intensitas Tinggi Tak Diperlukan

Penulis: Darmansyah

Selasa, 16 April 2019 | 12:22 WIB

Dibaca: 0 kali

Olahraga intensitas tinggi memang banyak manfaat.

Sebut saja, mulai dari membakar lemak lebih efektif, durasinya singkat, meningkatkan  kesehatan jantung, bahkan bisa menurunkan berat badan dan melancarkan metabolisme dalam tubuh.

Namun, jangan sembarangan melakukan olahraga intensitas tinggi ini.

Olahraga ini sangat berat dan melelahkan. Lalu bagaimana jika sedang puasa?

Mungkinkah melakukan latihan ini?

Ya, untuk Anda tahu, saat berolahraga, detak jantung dan pernapasan Anda akan meningkat dan mengantarkan oksigen dalam jumlah besar dari paru menuju aliran darah.

Denyut jantung dan intensitas olahraga berhubungan langsung dan linier: semakin intens olahraga yang dilakoni, semakin tinggi denyut jantung.

Saat berolahraga dengan intensitas tinggi, Anda akan mencapai denyut jantung maksimal. Namun, berolahraga dengan intensitas tinggi dan denyut jantung maksimal tak selalu baik bagi tubuh.

“Intensitas tinggi ini jarang dapat dipertahankan dan dengan sendirinya meniadakan potensi manfaat latihan,” tulis ahli fisiologi dari Curtin University, Amerika Serikat, Angela Spence

Sel-sel otot membutuhkan dua bahan utama seperti glukosa yang berfungsi sebagai bahan bakar dan oksigen. Otot sangat bergantung pada pembuluh darah untuk memberikan nutrisi dan oksigen yang diperlukan tubuh.

“Semakin banyak otot yang digunakan dalam berolahraga, semakin banyak darah yang didistribusikan ke jaringan aktif,” kata Spence.

Ketika olahraga dilakukan dalam intensitas tinggi, otot mulai memproduksi laktat. Meski berfungsi sebagai bahan bakar, namun laktat akan menumpuk dan mengganggu fungsi sel saat produksi melebihi metabolisme.

Titik di mana laktat mulai menumpuk dikenal dengan istilah ambang laktat. “Olahraga apa pun yang dapat dipertahankan dengan nyaman biasanya berada di bawah ambang batas ini,” kata Spence.

Untuk diketahui, olahraga intensitas tinggi adalah latihan yang sedang tren dalam dunia kebugaran. Pada latihan ini tubuh dibuat sampai titik benar-benar kelelahan, cukup keras hingga Anda tidak bisa berbicara saat latihan karena akan luar biasa ngos-ngosan.

Meskipun berat, latihan ini dapat membantu membakar lebih banyak kalori dengan waktu latihan yang relatif lebih singkat, dan juga meningkatkan tingkat kebugaran.

Namun, latihan ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebab latihan ini akan menguras tenaga habis-habisan. Maka itu diperlukan persiapan dengan energi tubuh yang optimal sebelumnya agar tidak membahayakan atau merugikan.

Menurut dr. Javaid Shah, seorang dokter spesialis di Dubai olahraga sangat penting saat puasa, tapi olahraga intensitas tinggi saat puasa tidak dianjurkan. Apalagi jika dilakukan sebelum berbuka puasa.

Saat sore hari sebelum buka puasa, tubuh memiliki cadangan energi yang semakin menipis akibat puasa seharian penuh. Tubuh cenderung memiliki simpanan gula darah (energi) yang sedikit.

Sedangkan, untuk melakukan olahraga dengan intensitas tinggi memerlukan energi yang sangat besar.

Jika tubuh dipaksa untuk melakukan olahraga intensitas tinggi saat masih puasa, ini akan membuat kadar gula darah atau energi habis lebih cepat.

Untuk mendapatkan energi kembali ini berasal dari makanan atau minuman berkalori yang Anda konsumsi.

Ketika tubuh Anda tidak cukup makan atau minum saat melakukan aktivitas fisik yang sangat berat maka tubuh bisa mengalami gejala-gejala hipoglikemia (kadar gula darah rendah).

Latihan yang berat akan menguras gula darah di dalam tubuh semakin cepat. Ketika gula darah menurun dan semakin sedikit, ini akan memengaruhi berbagai sistem di dalam tubuh.

Sistem saraf adalah salah satu sistem yang sangat sensitif terhadap perubahan gula darah. Efek neurologis pertama yang akan terjadi adalah gemetar, linglung, dan kelelahan yang sangat berat.

Jika itu sudah terjadi, ini menandakan bahwa gula darah Anda benar-benar sudah rendah dan Anda perlu mengurangi intensitas latihan atau bahkan berhenti, dan mengonsumsi makanan dan minuman untuk mengisi kembali energi tubuh.

Gula darah yang rendah setelah melakukan olahraga juga dapat mengganggu kondisi sistem pencernaan. Awalnya mungkin Anda merasa sangat lapar saat olahraga, tetapi karena gula darah semakin rendah karena beban yang berat, Anda akan mengalami mual dan muntah.

Jika Anda mengalami gejala-gejala ini Anda harus segera berhenti dan mengambil tindakan pencegahan yang tepat untuk meningkatkan kadar gula darah.

Gula darah yang semakin merendah bisa memengaruhi sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Detak jantung akan berdetak semakin cepat bahkan bisa berdetak lebih dari 150 beat per menit, berkeringat dingin, dan pucat.

Jika sudah begini, olahraga bukannya bisa jada kondisi fisik malah justru mengancam kesehatan.

Saat puasa, tubuh cenderung memiliki gula darah yang rendah. Ketika ditambah dengan aktivitas fisik yang sangat berat, cadangan gula darah dalam tubuh pun akan tersedot semakin habis.

Maka timbullah berbagai macam dampak yang bisa membahayakan tubuh.

Beberapa orang mungkin ada yang melakukan latihan ini, tapi itu semua kembali pada kemampuan tubuh masing-masing dan bagaimana pola latihan Anda biasanya. Bagi Anda yang tidak terbiasa melakukan latihan jenis ini, sebaiknya tidak mencobanya saat puasa.

Komentar