Anda Stres? Hati-hati Ia Jadi Pembunuh

Penulis: Darmansyah

Selasa, 13 Januari 2015 | 11:14 WIB

Dibaca: 1 kali

Anda Stres? Depresi? Hati-hati saja. Ia Bisa Jadi Pembunuh

Depresi akan menjadi penyakit mematikan lima tahun kedepan setelah kardiovaskuler.

Itulah yang dirilis oleh Richard Kravitz, professor di University of California dalam studi terbarunya seperti yang dimuat dalam “Journal Archievs of General Psychiatry’ belum lama ini.

Menurutnya, selama ini kita hanya mengetahui tanda-tanda klasik dari depresi, misalnya merasakan kesedihan yang amat mendalam dan putus asa.

Tapi, ternyata depresi bisa terjadi dan diketahui tanpa tanda-tanda tersebut.

Penyakit ini sering disembunyikan oleh penderitanya karena mereka tidak mau di anggap “gila” ketika mengunjungi klinik kejiwaan. Mereka menahan rasa “sakit” dan menyebabkan penyakit ini menjadi akut dan “mematikan.”

“Depresi tidak hanya terlihat dari kesedihan yang mendalam,” Richard Kravitz.

Ia juga mengatakan, biasanya pasien menyangkal gejala-gejala yang mereka alami adalah sebuah bentuk dari depresi.

Sebenarnya, semakin cepat Anda meyadari bahwa Anda depresi, akan semakin cepat Anda mendapatkan perawatan dan kembali bahagia.

Padahal penyakit ini dapat menjadi penyebab disabilitas, meningkatkan morbiditas, mortalitas dan risiko bunuhdiri, serta bisa berdampak akan menurunnya kualitas hidup pasien dan seluruh keluarganya.

Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami seseorang tidak kunjung reda, atau dapat pula berkorelasi dengan kejadian dramatis yang baru terjadi atau menimpa seseorang. Angka penderita depresi di dunia cukup tinggi.

Depresi adalah suatu gangguan keadaan tonus perasaan yang secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apatis, pesimisme, dan kesepian. Keadaan ini sering disebutkan dengan istilah kesedihan atau adness, murung atau blue, dan kesengsaraan.

Manifestasi klinis dapat berbeda pada masing-masing individu namun saling berkaitan seperti perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, gangguan psikomotor, gangguan konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya serta gejala terberat adalah adanya gagasan untuk bunuh diri.

Perasaan tertekan atau depresi sepanjang hari bahkan hampir setiap hari Pikiran akan kematian yang berulang atau dikenal dengan istilah recurrent atau usaha bunuh diri Hilangnya minat atau kesenangan pada hampir semua aktivitas

Berkurangnya berat badan secara signifikan, atau bertambahnya berat badan dengan penurunan atau kenaikan nafsu makan hampir setiap hari Insomnia atau hipersomnia tiap hari.

Retardasi psikomotor atau agitasi. Kelelahan atau kehilangan tenaga setiap hari. Rasa tidak berdaya atau rasa bersalah yang tidak wajar. Tidak mampu berfikir atau berkonsentrasi, dengan daya ingat menurun

Peristiwa traumatik kehidupan dan lingkungan sosial dengan suasana yang menegangkan dapat menjadi penyebab gangguan depresi.

Sejumlah data yang kuat menunjukkan kehilangan orangtua sebelum usia sebelas tahun dan kehilangan pasangan hidup, serta hubungan antar pasangan yang tidak harmonis dapat memacu serangan awal gangguan depresi.

Sangat penting untuk mencari bantuan dari dokter jika memiliki gejala dari gangguan depresi, terlebih jika sudah mempengaruhi aktifitas fisik sehari-hari. Gejala dari depresi dapat beragam seperti yang sudah dijelaskan di atas, penyakit ini tidak dapat sembuh dengan sedirinya.

Gangguan depresi yang tidak diobati dapat menjadi semakin berat dan mengarah kepada gagasan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Banyak orang menunggu lama sebelum mencari bantuan untuk depresi, tapi sebaiknya tidak menunda. Psikoterapi adalah pilihan utama dalam pengobatan depresi.

Selain itu pengobatan dengan psikofarmako dengan mengutamakan antidepresan, terutama yang mengandung agen serotonergik seperti sertraline memberikan respon yang cukup bagus dengan pemberian obat psikostimulan dalam dosis kecil seperti amfetamin kombinasi kedua hal tersebut memberikan hasil yang cukup baik

Depresi dan rasa sakit memiliki jalur biologis dan neurotransmitter yang sama. Penelitian menunjukkan, sekitar tujuh puluh lima persen dari orang-orang yang depresi menderita sakit kronis.

Menurut sebuah penelitian di Kanada yang dipublikasikan dalam jurnal Pain, orang dengan depresi empat kali lebih mungkin untuk menderita sakit pada leher dan nyeri pinggang dibandingkan mereka yang tidak depresi.

“Ketika Anda berada dalam keadaan negatif, Anda cenderung untuk memperhatikan tubuh Anda dengan seksama, dan karena itu Anda merasakan ketidaknyamanan yang lebih akut,” jelas Kravitz.

Anda juga mungkin merasakan sakit perut dan sakit kepala, atau hanya mengalami sensitivitas yang lebih besar terhadap rasa sakit pada umumnya. Sebuah penelitian di tahun 2008 dalam Archives of General Psychiatry menemukan bahwa ketika orang-orang dengan depresi mengantisipasi rasa sakit, aktivitas otak mereka menunjukkan emosi yang lebih banyak ketimbang mencari cara mengatasinya, jadi mereka kurang mampu menangani rasa sakit tersebut.

Jika kesalahan kecil saja bisa membuat emosi Anda tersulut, atau belakangan ini kesal sudah menjadi rutinitas Anda, mungkin Anda depresi. Dalam sebuah studi tahun 2013 yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Psychiatry, orang-orang yang depresi kerap bermusuhan dengan orang lain, marah-marah, berdebat, atau marah.

“Setelah Anda berada di sisi negatif, Anda lebih mudah marah dan frustasi,” kata profesor psikiatri klinis dan ilmu perilaku di Albert Einstein College of Medicine, Simon Rego.

Salah satu ciri Anda depresi adalah kurang ekspresif. Sesuatu yang tadinya dapat membuat tertawa seketika maupun sedih akan tiba-tiba menjadi datar saja, tampak dingin dan suka menyendiri.

Perilaku seperti ini diibaratkan sebagai perilaku zombie. Dan ini juga merupakan ciri depresi.

Anda sering melamun akhir-akhir ini? Entah melamun menjadi bintang film, melamunkan pria/wanita idaman, atau bahkan melamunkan dan membayangkan hal-hal yang Anda inginkan dan impikan.

Psikolog dari Universitas Harvard mengatakan, manusia yang paling bahagia adalah manusia yang memikirkan saat ini, artinya ia sibuk memikirkan apa yang terjadi sekarang.

Ketika pikiran Anda mengembara, itu bisa membuat Anda sedih, cemas, dan tidak bahagia.Sementara, melamun lebih sering karena suasana hati yang tidak baik daripada membantu menemukan kreativitas.

Komentar