Anda Bingung dengan Sebutan Hipertensi

Penulis: Darmansyah

Kamis, 9 Juli 2015 | 18:54 WIB

Dibaca: 3 kali

Anda tahu apa itu hipertensi? Mungkin tahu. Tapi ada sebagian orang yang tidak mengerti apa artinya hipertensi.

Itu tidak terjadi di Indonesia. Nun, di sana di Amerika serikat banyak orang juga bingung dengan arti hipertensi.

Banyak di antara pasien hipertensi, atawa darah tinggi, yang tidak mengonsumsi obat tekanan darah mereka yang seperti yang diarahkan dokter.

Mereka mengelola faktor gaya hidup secara efektif dan berdasarkan hasil penelitian terbaru, seperti dilansir dari laman Reuters, separuh orang dengan tekanan darah tinggi, kondisinya tidak terkontrol dengan baik.

Mungkin ini disebabkan karena pasien seringkali percaya, hipertensi artinya ‘terlalu banyak ketegangan’ atau terlalu banyak stres, kata penulisnya.

Pada kenyataannya, hipertensi mengacu kepada tekanan darah tinggi.

Kondisi ini terjadi manakala kekuatan memompa darah melalui arteri terlalu kuat.

Tekanan darah tinggi kronis dapat menegangkan jantung, merusak pembuluh darah, dan meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, masalah ginjal, bahkan kematian, berdasarkan Badan Kesehatan Nasional di Amerika Serikat.

Pasien yang salah paham dengan istilah hipertensi dapat menganggap manajamen stres, untuk mengontrol tekanan darah tinggi, sebagai kondisi psikologis.

Dan bukan fisiologis, berdasarkan perspektif Barbara G. Bokhour dan Nancy R. Kressin dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Boston di dalam jurnal Circulation: Cardiovascular Quality and Outcomes.

Pasien-pasien ini mungkin lebih fokus membenahi manajemen stres, bukan mengonsumsi obat tekanan darah yang efektif, misalnya diuretik, calcium-channel blockers, atau zat penghambat ACE.

“Mengelola stres adalah hal yang baik, terutama untuk kesehatan menyeluruh. Namun, untuk hipertensi, manajemen stres tertentu tidak akan cukup,” kata Bokhour seperti dilansir dari Reuters.

Mengelola gaya hidup dan mengonsumsi obat yang diresepkan jauh lebih penting untuk mengendalikan tekanan darah, ujarnya. Para praktisi kesehatan menggunakan istilah hipertensi, tapi tidak selalu eksplisit menghubungkannya dengan tekanan darah.

Bokhour dan Kressin menunjukkan bahwa dokter harus menggunakan istilah ‘tekanan darah tinggi’ daripada hipertensi saat mereka berbicara dengan pasien.

Hipertensi, seperti didapatkan dari Wikipedia, sering disebut dengan tekanan darah tinggi. Dan juga disebut juga dengan hipertensi arteri, dimana kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat.

Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah.

Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi atau berelaksasi di antara denyut.

Hipertensi terbagi menjadi hipertensi primer atau hipertensi sekunder.
.
Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk stroke, infark miokard atau serangan jantung, gagal jantung, aneurisma arteri penyebab penyakit ginjal kronik.

Bahkan peningkatan sedang tekanan darah arteri terkait dengan harapan hidup yang lebih pendek. Perubahan pola makan dan gaya hidup dapat memperbaiki kontrol tekanan darah dan mengurangi resiko terkait komplikasi kesehatan.

Meskipun demikian, obat seringkali diperlukan pada sebagian orang bila perubahan gaya hidup saja terbukti tidak efektif atau tidak cukup dan biasanya obat harus diminum seumur hidup sampai dokter memutuskan tidak perlu lagi minum obat.

Seseorang yang pernah mengalami tekanan darah tinggi, pada kondisi normal dapat saja mengalami tekanan darah kembali dan ini yang harus diwaspadai, banyak kasus stroke terjadi pada saat seseorang lepas obat.

Dan banyak orang tidak menyangka bahwa seseorang yang biasanya mengalami tekanan darah rendah suatu kali dapat juga mengalami tekanan darah tinggi. Oleh karena itu pengontrolan tekanan darah secara rutin mutlak dilakukan.

Komentar