Sinabung Makin Menyengsarakan

Penulis: Darmansyah

Selasa, 10 Desember 2013 | 15:49 WIB

Dibaca: 4 kali

Perkampungan di kaki Sinabung yang diselimuti abu vulkanik dari erupsi gunung api di KaKabupaten Kari itu, yang terus terjadi setiap hari

“Sinabung makin menyengsarakan. Erupsi dan erupsi lagi. Dan kampong-kampung di seputarnya sudah diselimuti abu vulkanik. Sinabung memang sedang sakit,” tulis Arminsyah, wartawan “nuga.co,” dari Medan yang baru saja ziarah ke Kabanjahe dan Brastagi.

“Menyedihkan,” tulis Arminsyah di surat elektronik siang ini, Selasa, 10 Desember 2013. Pengungsi yang menunggu dan menunggu. Mereka bsan, lelah dan stress karena harus mengosngkan rumah dan hidup di pengungsian.

Arminsyah mencatat, banyak dari pengungsi yang “stress” karena “tidur makan.” “Mereka suku pekerja. Mereka adalah peladang yang pintar dengan sumber penghasilan dari pertanian sayuran dan hortikultura.

“Saya menyaksikan perkampungan yang kosong. Perkampungan dengan rumah-rumah diselelimuti abu vulkanik. Bahkan dari petak-petak perkebunan masih terdengar suara petani yang membersihkan ladangnya. Tragis,” tulis Arminsyah setelah selama sepuluh hari absen bersama para pengungsi.

Jumlah pengungsi erupsi Sinabung, tulis Arminsyah, mengutip data dari Posko Gabungan Sinabung di Kabanjahe, hingga Selasa pagi, 10 Desember 2013, telah mencapai 17.105 jiwa atau 5.557 kepala keluarga.
Sepuluh hari lalu, tulis Arminsyah, catatan yang ada di Posko, menunjukkan angka 11.000 jiwa.

Peningkatan jumlah pengungsi tersebut terjadi karena setiap hari Gunung Sinabung meletus dan mengeluarkan debu panas. “Sehingga warga desa yang berada di bawah radius lima kilometer dari kawah Gunung Sinanbung terpaksa harus mengungsi dan mencari lokasi yang aman,” tulis Arminsyah mengutip pejabat Kabupaten Karo.

Pemerintah Kabupaten Karo, saat ini terus bekerja keras mencari dan menyediakan tempat penampungan bagi penduduk yang jadi korban erupsi Gunung Sinabung.Ini harus dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab kepada masyarakat yang dilanda bencana.

“Pemkab Karo, BPBD Sumut, TNI-Polri, institusi pemerintah terkait lainnya dan relawan terus bekerja keras untuk membantu para pengungsi untuk meninggalkan desa dan rumah mereka akibat terus terjadinya erupsi Gunung Sinabung.

Pengungsi yang berdesakan di jambur-jambur, ditempatkan di 31 lokasi penampungan. Mulai dari Los Tiga Binanga, GBKP Payung, Masjid Agung Kabanjahe, Asrama Kodim Kabanjahe, Jambur Natolu, Islamic Center, Los Tanjung Mbelang, dan Los Tanjung Pulo.

Pengungsi tersebut berasal dari 23 desa dan dua dusun, seperti Desa Sukameriah, Desa Guru Kinayan, Desa Selandi Lama, Desa Kutarakyat dan Desa Sigaranggarang di Kecamatan Payung, Desa Berastepu, Desa Sibintun, Desa Gamber dan Desa Kuta Tengah, Desa Kuta Mbelin, Desa Kebayaken, Desa Kuta Tonggal dan Desa Sukanalu di Kecamatan Simpang Empat.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak sebulan lalu telah menetapkan status Sinabung dari level Siaga menjadi “Awas” setelah erupsi dahsyatnya Minggu, 24 November 2013, sekitar pukul 10.00 WIB.

Status Awas tersebut berpotensi menyebabkan makin meluasnya lontaran material yang jaraknya diperkirakan mampu mencapai empat kilometer sehingga masyarakat yang bermukim dalam radius lima km dari kawah Gunung Sinabung direkomendasikan untuk mengungsi.

Tidak hanya masalah pengungsi, ransum, posko dan kehidupan mereka yang menjadi kesibukan Pemda, tapi juga anak-anak sekolah. Sebanyak 2.856 anak yang menjadi korban erupsi Sinabung, hingga saat ini tetap dapat belajar di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas, yang jaraknya cukup dekat dari lokasi posko pengungsian.

Pelajar korban erupsi Gunung Sinabung itu belum memungkinkan untuk dapat kembali belajar di desanya masing-masing, karena tempat tinggal mereka umumnya berada pada radius lima kilometer dari gunung berapi tersebut.

Pemerintah Kabupaten Karo tetap memperhatikan pelajar di daerah tersebut agar jangan sampai mereka terganggu menimba ilmu. Para pelajar tersebut saat ini umumnya mengikuti pelajaran di gedung SD,SMP dan SMA yang jaraknya relatif dekat dari Posko Penampungan di Kabanjahe.

Data yang diperoleh, saat ini terdapat ratusan tempat belajar disediakan Pemkab Karo bagi anak pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung. Beberapa di antaranya di Centrum GBKP Kabanjahe, SD SMP/SMA GBKP Kabanjahe dan SD Xaverius 1, 2 dan 3 Kabanjahe.

Selain itu, di SMP RK 1, SMA RK 2, Gedung Nasional, SD Negeri 3, SMP/SMA GBKP, SD Masehi 4, SMP Bhayangkari, SMA 2, SD Inpres Simpang Katepul dan SMP/SMA Imanuel Kabanjahe.

Komentar