Perawat Musik Etnik Aceh

Penulis: Adi W

Senin, 24 September 2012 | 08:07 WIB

Dibaca: 1 kali

Ratusan pengunjung memadati panggung di pelataran Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Rabu malam, 19 Juni 2012 lalu. Di puncak peringatan israk mirak, Rafli Kande tampil memukau, menghibur warga sambil menunggu ceramah agama.

//… Puleh darah, gapah utak, ie ngen minyek, saya ya Allah…//
[sembuh darah, lemak otak, air dan minyak, saya ya karena Allah].

Begitulah satu bait syair lagu Puleh yang didendangkan Rafly. Berkisah tentang datangnya kesembuhan dari penyakit adalah karena kuasa Allah, lagu itu diiringi penyanjungan dan syair-syair tauhid lainnya, seperti lazim dari karya-karya Rafli.

Alat musik yang ditampilkan hanya rapai yang ditabuh anak-anak grup Kande-nya. Irama tak kalah dengan hentakan drum maupun gitar. Suara Rafli khas melengking tinggi, sesekali tangannya bergerak ikuti irama, memukau pendengar. “Di masjid ini, kami tak boleh memainkan alat musik lain, hanya rapai yang diperbolehkan,” kata Rafly.

Rafly dengan Grup Kande adalah idola di Aceh. Kemampuannya menyanyi tak diragukan lagi, di mana dia hadir suasana selalu ramai. Dia mampu menghibur warga dengan inovasinya bernyanyi dalam musik etnik Aceh, yang digabung dengan musik modern.

Inilah yang menjadi daya tariknya, menggabungkan alat musik tradisional seperti rapai, seurune kale, genderang, tambo dan berugu berpadu dengan alat modern semisal gitar, bass dan drum. Kekuatan lagunya menjadi penting, agar satu alat tak menjadi sekadar pelengkap bagi alat musik lain. “Ini selalu membutuhkan diskusi personel dan menjadi bagian sulit.”

Tempo yang dibuatpun berkarakter etnik yang akrab dengan masyarakat. Bagi Rafli, Grup Kande adalah keabsahan musik etnik modern, lirik, kostum dan Bahasa Aceh yang menjadi sebuah kesatuan. Sekilas musiknya bergaya R&B, genre musik populer yang menggabungkan jazz, gospel dan blues. Tentu saja tanpa meninggalkan karakter musik Aceh.

Syair lagu Rafly adalah syiar-syiar agama dan kritik terhadap kondisi kekinian yang terjadidi Aceh. Pesan-pesan dalam lagunya selalu akrab dengan masyarakat. Saat konflik Aceh dulunya, dia kerap menyuarakan perdamaian dan kondisi sosial kemasyarakatan. Misalnya lagu ‘Anak Yatim’ yang berkisah tentang anak kehilangan ayahnya semasa perang.

Karenanya Rafly dan Kande diterima baik masyarakat Aceh. Dia mengaku hidup dari musik dan berkecukupan. Kerap menjalani manggung di mana-mana, kadang solo dan juga bersama Grup Kande. Di Aceh, di mana pun Rafly Kande konser, penonton tak kurang dari 20.000-an. Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia kerap disambanginya. “Kalau ke luar negeri, saya pernah bernyanyi di Scotlandia, London (Inggris) dan juga Malaysia.”

Rafli mengaku lebih sering tampil solo daripada bersama Grup Kande. Maklum, mendatangkan grup yang berbilang besar dengan peralatan lengkap sampai 60.000 watt, membutuhkan energi yang besar pula.

Albumnya laku keras di Aceh. Ratusan ribu CD terjual dalam setiap album yang dikeluarkan. Hanya saja, albumnya masih belum banyak, Rafli dengan Grup Kande-nya baru mengeluarkan dua album, sedang album solonya sudah enam album.

Bakat menyanyi lelaki kelahiran Samadua, Aceh Selatan, tahun 1967 itu turun dari ayahnya, Mohammad Isa, seniman grup Meudike (melantunkan nasehat-nasehat agama). Rafli akrab dengan seni tradisi itu. Saat duduk di bangku sekolah, dia menyenangi lagu-lagu berkarakter keras seperti rock dan mencoba belajar alah musik modern. Di sekolah, kegiatan keseniannya menjadi hobby utama.

Tamat kuliah, Rafly mengabdi sebegai guru di salah satu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Aceh Barat pada tahun 1994, kegiatannya bermain musiknya sempat berhenti. Tahun 1997, dia mulai bernyanyi solo dengan musik-musik etnik yang digabungkan dengan irama modern.

Pada tahun 2000, dia pindah tugas ke MIN di Banda Aceh, dan mulai berpikir untuk membentuk sebuah grup musik. “Lagu-lagu Aceh saat itu banyak ciplakan dari musik dangdut dan remix,” katanya.

Grup dibentuk bernama Kande dengan semangat menciptakan sebuah musik etnik Aceh yang dinamis kekinian dan tak ketinggalan zaman. “Artinya enak didengar oleh orang tua dan juga yang muda.”

Dikumpulkanlah lima personel pada awalnya, mereka manggung di mana-mana dan masih kesulitan mencari sponsor. Seiring waktu, mereka terus dikenal dan kemudian terus berkembang. Kini Grup Kande punya delapan orang grup inti dan full tim ada 14 orang. Mereka ahli bermain musik tradisional dan juga modern.

Diakui, jenis musik yang dibawakan mereka dengan gabungan tradisional dan modern juga pernah dipikirkan oleh pemusik lainnya, misalnya Grup Musik Nyawoeng. Tetapi secara aplikasi, Kande disebut Rafly lebih gigih sehingga tetap eksis sampai sekarang. “Yang bagusnya diterima oleh masyarakat Aceh.”

Membina grup, dia mengaku mengedepankan kekeluargaan, sehingga anak-anak merasa nyaman dan personel tetap betah di Kande. Menurutnya, kekuatan mereka adalah pada personel yang selalu rindu untuk tampil bersama di konser-konser. Setiap kesulitan dalam musik didiskusikan bersama.

Zulkifli, personel Grup Kande mengakuinya. “Kami seperti sebuah keluarga,” ujarnya. Menurut Zul yang ahli alat musik tradisional, setiap kesulitan yang mereka hadapi dipecahkan bersama.

Dia mengakui bermain musik etnik dengan gabungan musik modern punya banyak kendala. Apalagi karakter musik Aceh tak punya pakem untuk bermain modern. Kande kemudian sebisa mungkin menggabungkan alat-alat musik semaksimal mungkin sehingga tak berkesan seperti tempelan. “Harus padu dan menjadi sebuah kesatuan, satu alat musik tidak membunuh alat yang lain,” ujar Zulkifli.

Budayawan Aceh, Azhari Aiyub mengatakan karakter musik Rafly Kande bisa diterima oleh
seluruh rakyat Aceh, karena dapat mengembalikan kerinduaan rakyat Aceh terhadap musik rakyat yang telah lama hilang. “Saat mendengar musik Rafly, pendengaran rakyat Aceh langsung merespon. Keseluruhan musik, mengembalikan sesuatu yang hilang selama ini.”

Menurutnya, karakter musik etniknya telah lama hadir dulu, lewat Seudati, Meudikee dan irama tari-tarian Aceh yang dipadukan dengan gerak. Rafly berhasil mengambil posisi itu dan membuat lagu diiringi gabungan musik tradisional dan modern.

Azhari mengakui sebelum Rafly muncul, ada musisi lain yang juga memulai karakter tersebut sepertu Grup Nyawoeng. Selanjutnya juga ada beberapa musisi yang meniru. Tapi kemudian penilaian Azhari, Rafly yangmampu bertahan. “Ini bukan yang baru, tapi merupakan bagian dari kekayanan dan khasanah musik rakyat, yang diberikan inovasi.”

Dalam teksnya, Rafly juga banyak mengadopsi nasehat-nasehat dalam cerita rakyat. Teks itu kemudian sangat berarti karena dinyanyikan dengan bagus. Tantangannya kemudian bagi Rafly dan Grup Kande adalah pada menciptakan satu jenis musik rakyat yang baru, yang dapat juga digandrungi oleh generasi ke depan yang terus tumbuh dan punya selera yang berbeda.

Pemerintah mendukung apa yang dilakukan Rafly. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Reza Fahlevi menilai Rafly telah ikut melakukan kampanye-kampanye terhadap Aceh dengan musiknya. “Ketika dia tampil kemana-mana baik dalam dan luar negeri.”

Pengakuannya, Rafly sering diajak beberapa even nasional dan internasional seperti pagelaran Internasional Musik Sufi pada tahun 2011 lalu. “Kita juga ajak dalam even-even dari pemerintah pusat untuk diselenggarakan di Aceh,” kata Reza.

Musik rafly diterima masyarakat luas di Aceh karena akrab dengan kondisi masyarakatnya. “Saya suka musik Rafly, mendengarnya tak pernah bosan,” Aisyah, warga Banda Aceh menuturkan.

//… Oh kalaye tho krang seulanga nyan, gadeh mangat beu…//
(saat layu kering, bunga seulanga itu hilang harumnya), Aisyah mencoba salah satu lirik lagu Rafly yang disukainya. []

Komentar