Jokowi Kini Jadi “Capres” Survei

Penulis: Darmansyah

Kamis, 21 Februari 2013 | 15:07 WIB

Dibaca: 0 kali

JOKO Widodo alias Jokowi kini muncul sebagai “calon presiden survei.” Beberapa lembaga survei, yang bak entertainment untuk mengejar kepuleran dan “uang” merilis dengan sembrono tentang elektabilitas calon presiden di 2014. Banyak di antara lembaga survei yang dipertanyakan akurasi dan validitas penelitiannya.

Menurut sebuah sumber yang muak dengan rilis merilis hasil survei menyangkut elektabilitas calon  presiden dan partai-partai, mengatakan, “mereka mempermainkan emosi publik. Mereka menzalimi informasi dengan menebar data yang secara random tidak mencerminkan realitas yang hidup di masyarakat.

Hasil survei dari sebuah lembaga yang kurang dikenal identitasnya merilis bahwa Jokowi merupakan calon presiden paling potensial di 2014. “Ini kan menipu namanya. Belum lagi menunjukkan kinerja sebagai gubernur di Jakarta dan rekam jejak yang minim dalam petak sumbangannya terhadap republic ini sudah dikatakan paling potensial,” kata sanga pengamat.

Tidak hanay pengamat yang kelabakan dengan rilis survei, mantan Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla menilai, masih terlalu dini untuk mengusung Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi menjadi calon Presiden 2014. Menurutnya, Jokowi saat ini harus fokus membuktikan kinerjanya mengurusi persoalan di Ibu Kota.

“Saya kira, Jokowi tugas utamanya membuktikan janjinya. Jangan melompat-lompat dulu,” ujar Kalla, di kediamannya, Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Kamis. Menurut Kalla, hasil survei yang menyatakan elektabilitas Jokowi tertinggi sebagai capres merupakan harapan masyarakat. Namun, popularitas Jokowi selanjutnya ditentukan oleh bukti nyata kinerjanya setelah beberapa bulan menjabat sebagai Gubernur DKI.

“Kepopuleran itu dua hal. Pertama, ekspektasi. Kemudian setelah itu akan muncul yang kedua, bagaimana membuktikan ekspektasi orang. Sementara ini, Jokowi sangat dihargai karena memberikan banyak harapan. Jokowi harus betul-betul dapat membuktikan harapan itu. Ini yang paling menentukan popularitasnya,” terang Ketua Palang Merah Indonesia itu.

Sebelumnya, dalam hasil survei dua lembaga berbeda, elektabilitas Jokowi berada di posisi teratas sebagai capres 2014. Namun, menurut JK, jika Jokowi tidak dapat membuktikan, popularitasnya justru akan menurun cepat. Menurut JK, perjalanan Jokowi saat ini masih tahap awal.

“Kalau tidak bisa buktikan itu juga kan langsung selesai persoalan survei tadi. Bahaya sekali. Kan baru ini, sekarang baru harapan,” katanya.  Menurutnya, memang tak tertutup kemungkinan seorang gubernur kemudian melangkah maju mejadi calon presiden. Namun, kata Kalla, hal itu dapat terwujud jika dapat membuktikan kinerja selama menjabat sebelumnya. Ia mencontohkan, kesuksesan mantan Wali Kota Seoul, Korea Selatan Lee Myung Bak yang kini menjadi Presiden Korea Selatan. Lee menjadi Presiden karena membuktikan keberhasilannya memajukan Seoul.
“Buktikan. Itu kuncinya,” tegas politisi senior Partai Golkar itu.

Sementara itu  seorang tokoh PDI juga bernada serupa. PDI-P  tidakl tergoda untuk masuk dalam scenario  capres atau cawapres 2014 Tidak juga untuk Jokow.”Kredibilitas Jokowi belum teruji. Jangan hanya tergantung dengan  popularitas dan kredibilitas.  Begitu Jokowi  blunder langsung jatuh di mata masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan, jika PDI-P mengusung Jokowi sebagai capres atau cawapres, mantan Wali Kota Solo itu akan dinilai sebagai sosok yang haus jabatan atau kekuasaan. Begitu pula dengan PDI-P yang menjadi tempat Jokowi dibesarkan. Menurutnya, PDI-P akan dianggap sebagai parpol yang tidak amanah, tidak konsisten, dan menghalalkan segala cara hanya untuk sebuah kemenangan di pemilihan presiden.
“Atas kedua alasan tersebut, maka PDI-P tidak akan mencapreskan Jokowi meskipun polularitas dan elektabilitasnya tertinggi. Kami juga menyadari bahwa hal itu bisa menjadi ‘jebakan Batman’ bagi PDI-P dan Jokowi,” paparnya.

“Jangan goda iman politiknya yang akhirnya dapat mengganggu konsentrasinya membangun Jakarta.” (darmansyah)

Komentar