Israel Marah, Washington Dekati Iran

Penulis: Darmansyah

Jumat, 27 September 2013 | 16:02 WIB

Dibaca: 1 kali

Tampilannya dengan baju gamis dan surban dikepala, membuat Hasan Rouhani, Presiden “mullah” dari Iran, beda dengan pemimpin dunia lainnya apalagi ia mampu memesonakan delegasi Majelis Umum PBB lewat orasinya yang mengundang tepuk tangan ketika ia menjanjikan kesediaan negaranya menyelesaikan isu nuklir dalam tempo paling lama enam bulan kedepan.

Orasi Rouhani ini menjengkangkan provokasi Israel, yang selama berbulan-bulan menyerang keberadaan mullah berpendidikan Oxford ini, lewat opini menyesatkan tentang latar belakangnya yang lebih ekstrim dibanding penggantinya Mahmod Ahmedinejad.

Tidak hanya masalah nuklir yang dibereskan Rouhani dalam pidato pertamanya di PBB, tetapi juga ia mengundang “Barat” untuk melihat Iran secara jernih dan tidak sepotong-sepotong.

Rouhani menyindir delegasi “barat” dengan mengatakan, “melihat Iran janganlah dari kacamata “kuda Israel. Rumput Iran tetap hijau tidak belang-belang seperti dipersepsi Netanyahu.”

Sindiran Rouhani dalam kalimat sangat intelektual membuat delegasi Israel “walkout” dari ruangan dengan penuh kebencian. Sebelumnya, Rouhani telah dikerjai lewat dunia maya oleh Israel lewat manipulasi
pernyataannya. Pernyataan palsu yang direkayasa oleh Israel itu makin menjulangkan popularitas Rouhani.
Orasi Rouhani ini langsung mendapat respon “barat.” Washington, lewat Menteri Luar Negerinya John Kerry, langsung mengirim pesan kepada delegasi Iran untuk membicarakan sikap Iran selanjutnya dalam menghadapi perundingan tentang isu nuklir.

Tidak hanya respon tentang isu nuklir, AS, menurut John Kerry akan menghapus sanki negaranya untuk Iran jika pembicaraan lanjutan bisa lebih konstruktif dan bermanfaat. . Kerry menegaskan, penghapusan sanksi ini tergantung sikap Iran dalam perundingan nuklir.

Seperti diketahui, Iran kini dicekik sanksi ekonomi yang diberikan Negara-Negara Barat. Iran dihukum karena bersikeras melanjutkan program nuklirnya.

“AS tidak akan menghapus sanksi, sebelum Iran menjelaskan program nuklirnya secara transparan,” ujar Kerry, seperti dikutip AFP, Jumat, 27 September 2013. “Saya kira kita dapat meraih kesepakatan dengan Iran dalam waktu dekat,” lanjutnya.

Pernyataan Kerry dikeluarkan setelah dia melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif. Kedua tokoh bertemu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-68 yang dihelat pekan ini.

Hubungan kedua negara mulai membaik setelah Mahmoud Ahmadinejad turun dari jabatannya sebagai Presiden Iran. Ahmadinejad digantikan Hassan Rouhani yang berpandangan lebih moderat.

Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB, Rouhani merasa yakin isu nuklir Iran dapat diselesaikan dengan baik. Dia juga mengecam sanksi Barat terhadap Iran yang membuat rakyat Iran menderita.

Sehari sebelumnya, Hassan Rouhani mengecam sikap keras Negara Barat terhadap negaranya. Rouhani menyebut ancaman nuklir Iran yang selama ini diserukan Negara Barat hanya imajinasi belaka.

“Wacana tentang ancaman nuklir Iran hanya imajinasi Barat. Iran sama sekali bukan ancaman bagi dunia,” Iran tidak tertarik memiliki senjata pemusnah massal. Ancaman terbesar di Timur Tengah adalah Al Qaeda, khususnya jika mereka merebut senjata kimia milik Suriah,” lanjut Rouhani.

Ucapan Rouhani merespons klaim Presiden AS Barack Obama yang menyebut program nuklir Iran sebagai ancaman terbesar di Timur Tengah. AS dan Israel memang terus berupaya menghentikan perkembangan nuklir Iran.

Rouhani menyatakan, isu nuklir Iran bisa diselesaikan melalui jalur diplomasi. Dia bersedia membuka kembali proses perundingan yang terhenti saat Iran masih dipimpin Mahmoud Ahamdinejad.

“Saya siap ikut serta dalam pembicaraan mengenai isu nuklir Iran untuk membangun rasa saling percaya,” tutur Rouhani.

Pada kesempatan yang sama, Rouhani juga mengecam sanksi yang diberikan dunia internasional kepada Iran. Dia menyebut sanksi terhadap Iran sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan.

“Sanksi membuat warga Iran menderita. Ini adalah sebuah kejahatan,” pungkasnya.

Komentar