Israel “Marah” AS-Iran Akur

Penulis: Darmansyah

Senin, 30 September 2013 | 14:43 WIB

Dibaca: 0 kali

Israel merasa terganggu dan “berang” Washington berbaikan dengan Iran, setelah tiga puluh lima tahun bersitegang usai kasus penyanderaan di Kedubes Amerika Serikat di Teheran, dan berjanji akan mengungkap kebohongan Rouhani terhadap program nuklirnya.

Perdana Menteri Israel, Beyamin Netanyahu, seperti dikutip surat kabar terkenal Inggris “The Guardian,” menuduh niat Iran berdamai dengan Barat sebagai sebuah sandiwara.

Iran berubah sikap setelah dipimpin Presiden Hassan Rouhani. Berbeda dengan Mahmoud Ahmadinejad, Rouhani lebih memilih menggunakan sikap lembut untuk menghadapi Barat. Rouhani merangkul warga Yahudi dengan mengakui peristiwa Holocaust. Dia juga merintis proses diplomasi untuk mengakhiri sengketa mengenai program nuklir Iran.

“Saya akan mengungkap kebenaran di balik senyum manis Rouhani,” ujar Netanyahu dalam sebuah pidatonya di Tel Aviv dengan nada marah.” Saya harus mengungkap kebenaran ini untuk menjaga keamanan dunia dan Israel,” ujar politisi dari partai konservatif Likud itu.

Tidak semua warga Israel setuju dengan sikap keras Netanyahu terhadap Iran. Mereka takut sikap Netanyahu akan membuat Negara Zionis itu semakin terisolasi. “Israel akan kehilangan dukungan jika menolak keinginan Barat untuk bernegosiasi dengan Iran,” tutur pengamat pertahanan Israel, Yossi Alpher.

Menanggapi sikap penentangan Israel terhadap upaya perbaikan hubungan Iran dengan Negara Barat itu, Hassan Rouhani mulai mendekati kelompok garis keras di negaranya dengan mengumumkan tercapainya kesepakatan antara negaranya dengan Amerika Serikat terkait isu nuklir.

Rouhani menungkapkan pembicaraannya dengan Presiden AS Barack Obama melalui situs media sosial twitter agar lebih “steril” dari penjungkirbalikan kaqta-kata dan kalimat.

“Dalam pembicaraan telepon, Presiden Rouhani dan Presiden Barack Obama mengungkapkan keinginan mereka untuk segera menyelesaikan isu nuklir,” tulis akun resmi milik Rouhani di twitter, seperti dikutip Yahoo News, Senin 30 September 2013).

Rouhani juga mengungguh foto saat dia menerima telepon dari Obama. Pembicaraan antara Rouhani dengan Obama bersejarah karena merupakan pertama kalinya pemimpin Iran dan AS berkomunikasi dalam 35 tahun.

Pembicaraan telepon antara Rouhani dengan Obama merupakan kelanjutan dari pertemuan antara Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry. Kedua menteri bertemu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pekan lalu.

Sebagian pengamat menganggap aktifnya Rouhani di twitter sebagai hal yang menarik. Pasalnya, Pemerintah Iran melarang warganya menggunakan situs media sosial seperti twitter ataupun facebook.

Akun twitter Rouhani baru memiliki 64 ribu follower. Selain menulis kicauan, Rouhani juga me-retweet pesan akun lain yang sejalan dengan pemikirannya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry mulai melakukan langkah cepat dengan meminta Iran membuka progam nuklir mereka. Kerry menyebut langkah ini dibutuhkan untuk membangun kepercayaan.

Salah satu yang diminta AS untuk dibuka adalah keberadaan reaktor nuklir rahasia Fordow. Iran selama ini membantah memiliki fasilitas nuklir tersebut.

“Kita harus bisa mencapai kesepakatan. Hal ini berarti Iran harus meyakinkan kami bahwa program nuklirnya bertujuan damai,” ujar Kerry dalam sebuah wawancara televisi, seperti dikutip AFP, Senin..

“Mereka bisa segera membuka keberadaan reaktor nuklir Fordow dan menandatangani protokol internasional terkait program nuklir,” lanjut Kerry.

Perundingan antara Iran dan AS terkait isu nuklir kini kembali dimulai. Kerry sempat membahas isu nuklir bersama Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pekan lalu.

Pertemuan kedua menteri kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan telepon antara Presiden Hassan Rouhani dan Presiden Barack Obama. Pembicaraan ini bersejarah karena untuk yang pertama kali pemimpin kedua negara berkomunikasi dalam 30 tahun.

Komentar