Idris Sardi, Legenda Musik Itu Berpulang

Penulis: Darmansyah

Senin, 28 April 2014 | 10:04 WIB

Dibaca: 0 kali

“Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un” Salah satu maestro musik Indonesia, Idris Sardi, meninggal dunia di rumah sakit Meilia Cibubur Senin pagi, 28 April 2014, pukul 07.25 WIB.

Tokoh musik biola ini lahir pada 7 Juni 1938, anak dari pemain biola orkes RRI Studi Jakarta, M.Sardi. Idris Sardi meninggal ada umur 75 tahun. Ia adalah anak dari pemain biola Orkes RRI Studio Jakarta, Sardi.

Di dunia film, almarhum dikenal sebagai komponis dan ilustrator musik bertangan dingin sehingga beberapa kali mendapat anugerah Piala Citra untuk kategori Penata Musik Terbaik untuk beberapa film yakni Pengantin Remaja, Perkawinan, Cinta Pertama, Doea Tanda Mata.

Almarhum mewariskan talenta musiknya kepada dua anaknya dari pernikahannya dengan Zerlita, Santi Sardi dan Lukman Sardi, keduanya sukses berkarir di dunia film.

Idris Sardi dikenal juga sukses melahirkan talenta-talenta baru di musik biola dengan melahirkan sejumlah violis berbakat di Tanah Air, satu diantaranya yang terkenal adalah Maylaffayza Wiguna.

Karena kecintaannya terhadap musik biola, Idris pernah memiliki mobil dengan nomor plat B 10 LA, yang berarti biola, meski akhirnya diganti lantaran mengundang kritik dan perhatian luas dari publik

Kabar duka tersebut langsung tumpah ruah bersahutan dengan ucapan dukacita di media sosial Twitter.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon lewat akunnya mengabarkan, “Telah wafat maestro IDRIS SARDI td pagi jam 07.25 di RS Meilia, Cibubur. Semoga almarhum diterima di sisi terbaik Allah SWT.”

Akun lain atas nama Stanley_tulung mengatakan, jenazah Idris akan disemayamkan di Rumah Kreatif Fadli Zon. Dia menggaku mengutip informasi itu dari Santi Sardi, anak Idris. Namun, di akun Santi justru tak ada informasi apa pun soal berpulangnya sang ayah.

Sang maestro biola Idris Sardi Idris Sardi menderita sakit sejak pertengahan Desember 2013.

Violis yang sudah merekam sekitar 1.900 karyanya dalam compact disc atau CD ini menderita penyakit semacam slam yang banyak di lambung sampai mengganggu kerja katup paru-paru dan juga mengidap penyakit lever.

Sulung dari delapan bersaudara yang lahir di Jakarta 7 Juni 1938 ini terakhir melakukan konser pada 16 Desember 2013 bertajuk “Konser Tunggal Maestro Biola Idris Sardi” di Theater Perpustakaan Nasional RI berkaitan dengan peluncuran situs web Kepustakaan tokoh perfilman Indonesia.

Perjalanan Sang Legenda tidak bisa lepas dengan biola yang mulai digaulinya diusia lima tahun. Darah seni mengalir deras dari Sang Ayah Mas Sardi yang merupakan seorang multi instrumentalis dan juga pemain berbagai aliran musik seperti jazz, hiburan, klasik serta Sang Ibu Hadidjah yang adalah seorang aktris terkenal kala itu.

Sebelumnya sang maestro dalam kondisi kritis akibat komplikasi penyakit yang dideritanya.

”Kondisinya semakin lemah dan menurun dan langsung dibawa ke rumah sakit,” begitu yang diungkapkan anaknya, pemain filem Lukman Sardi beberapa hari lalu.

Idris Sardi yang sudah menderita sakit cukup lama, selama ini dirawat di kediamannya di kawasan Beji, Depok. Saat itu beliau sering berada dalam kondisi kritis. Dan pernah pula dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta ketika kondisinya parah.

Selama di rawat ia selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak memberitahukan beliau dirawat di rumah sakit mana. Ia hanya bermohon doa dari setiap masyarakat Indonesia.

Doakan agar Allah SWT mengangkat penyakit saya, memberikan kesembuhan dan tetap berkarya mengawal generasi pencinta musik Indonesia. Begitu yang ia pesankan.

Idris Sardi juga meminta kepada anaknya untuk hanya mengirimkan foto pemberitahuan tentang sakitnya. Foto itu menggambarkan dirinya dalam kondisi terbaring dengan mengenakan nafas buatan dan jarum infus menempel di tangan kanannya.

Dalam perjalanan bermusiknya, Idris Sardi, pada usia enam tahun, untuk pertama kali mengenal biola. Pada umur sepuluh tahun ia sudah mendapat sambutan hangat pada pemunculannya yang pertama di Yogyakarta tahun 1949. Boleh dikatakan sebagai anak ajaib untuk biola di Indonesia, karena di usia muda sekali sudah lincah bermain biola.

Tahun 1952 Sekolah Musik Indonesia dibuka, dengan persyaratan menerima lulusan SMP atau yang sederajat. Pada tahun 1952, Idris Sardi baru berusia 14 tahun, sehingga ia belum lulus SMP, namun karena permainannya yang luar biasa ia bisa diterima sebagai siswa SMIND tersebut.

Bersama temannya yang juga pemain biola, Suyono yang juga sudah almarhum namun bukan anak ajaib, yang lebih tua 2 tahun merupakan dua orang siswa SMIND yang berbakat sekali.

Guru biola Idris waktu di Yogyakarta adalah George Setet, sedangkan pada waktu di Jakarta adalah Henri Tordasi. Kedua guru orang Hongaria ini telah mendidik banyak pemain biola di Indonesia.

Ketika ayahnya, M. Sardi meninggal, 1953, Idris dalam usia 16 tahun harus menggantikan kedudukan sang ayah sebagai violis pertama dari Orkes RRI Studio Jakarta pimpinan Saiful Bahri.

Pada tahun 60-an, Idris beralih dari dunia musik biola serius, idolisme Heifetz, ke komersialisasi Helmut Zackarias.

Seandainya dulu Idris Sardi belajar klasik terus pada tingkat kelas master dengan Jascha Heifetz atau Yahudi Menuhin, maka ia akan menjadi pemain biola kelas dunia setingkat dengan Heifetz dan Mehuhin. Namun, meskipun dia belum pernah belajar biola di luar negeri, ia tetap setingkat dengan Zacharias.

dari berbagai sumber

Komentar