Hari Ketujuh Kematiannya, Uje Terus Disirami Doa

Penulis: Darmansyah

Jumat, 3 Mei 2013 | 08:24 WIB

Dibaca: 1 kali

Uje manusia biasa,” ujar Komaruddin Hidayat. Intelektual Islam yang sekaligus Rektor Universitas Islam Jakarta itu terpesona dengan ustaz yang di hari-hari pasca kematiannya dirindukan oleh banyak orang dan “hidup” sebagai kenangan panjang dalam umurnya yang pendek, 40 tahun.

Komaruddin, yang biasanya nyeleneh, berada dalam kerumunan ribuan jamaah di Rempoa, Tangerang, rumah keluarga Uje, Kamis malam, dihari ketujuh kepergian ustaz “gaul” itu,  untuk mengantarkan doa, bacaan tahlil, tausyiah dan shalawat yang tak pernah putus-putusnya.

Tidak hanya datang sebagai salah seorang jamaah, Komaruddin Hidayat juga ikut mengantar sepenggal tasyiahnya lewat wawancara “live” dari Metro TV, dengan mengatakan, betapa pesona Uje telah menginspirasi banyak orang untuk memahami ahkekat keberagamaan. Ia, kata Komaruddin, sebuah “oase” di tengah kegersangan nilai-nilai kejujuran terhadap diri sendiri.

Menurut Komaruddin, Uje sebuah pesona fenomenal yang bisa disentuh oleh siapa saja tanpa harus melewati kata-kata pemanis. Ia berguru sepanjang hidupnya. Mengakui ketidaktahuannya. Bertanya ketika ia tidak mengetahui jawabannya. Dan memberitahu yang ia tahu sembari mengatakan,”Inilah Uje yang dulunya hidup bagaikan ‘roller coaster’ yang turun naiknya sangtat ekstrim.”

Uje, sang ustaz yang dihari kepergiannya ditangisi ribuan orang pelayat dan jutaan pemirsan televisi, di hari ketujuh kematiannya di sambangi doa dari rumahnya di kawasan Rempoa.

Disana ada intelektual beken Komaruddin Hidayat, ada KH Ma’ruf Amin,  ada Aa Gyim, ada Rhoma Irama,  sederet artis Rossa, Nia Daniati dan entah berapa puluh ustaz muda yang pernah bergandengan tangan dengannya. Dan entah siapa lagi, tak terhitung kerumunan orang dilahan sempit pekarangan rumahnya.

Sedangkan di studio televisi TV One dan Metro TV, dua stasion televisi berita yang menyiarkan langsung acara tahlilan itu, ada Azyumardi Asra, Sanusi, Sulis dan temannya Kewel. Bahkan Anton  Medan, preman yang menemukan keimanannya dalam Islam, terbata-bata ketika sambungan wawancaranya terputus-putus.

Uje memang sebuah sosok fenomenal setelah kematiannya. Hampir semua komunitas yang pernah ia sentuh tergagap dengan lehilangannya. Bahkan, jaringan stasion televisi terpaksa menempatkan  mobil Outside Broadcast Vans (OB vans) sejak sore hari guna menyiarkan langsung  tausiah yang disampaikan dalam acara tersebut  untuk bisa dilihat lagsung oleh pemirsa di rumah.

Pesohor  semacam Rhoma Irama ikut memberikan tausiah. “Saya ada kenangan bersama almarhum. Kami berada di satu kota yang sama. Dia waktu itu sedang ada kegiatan ceramah, sementara saya konser,” ucapnya.

Diakui Rhoma, dirinya Uje memiliki latar belakang yang berbeda. “Kami banyak  bercerita tentang agama. Kami sama-sama ceramah tapi caranya berbeda,” tandasnya.

Pihak keluarga pun ikut diwawancara secara langsung. Ribuan orang yang hadir memang datang dari berbagai kota untuk mendoakannya.

Uje meninggal  pada Jumat 26 April 2013 akibat kecelakaan di kawasan Pondok Indah Jakarta. Ia  meninggal di usia 40 tahun dan meninggalkan satu orang istri dan empat anak.

Untuk mempermudah tausiah yang disampaikan para pembicara, pihak keluarga juga menyiapkan sebuah layar besar untuk mempermudah ribuan jamaah.

Komentar