Dimulai, Transisi Kekuasaan Mesir Usai Kudeta

Penulis: Darmansyah

Kamis, 4 Juli 2013 | 16:51 WIB

Dibaca: 0 kali

Militer Mesir menggulingkan Presiden Muhammad Mursi, Rabu malam. Ketua Mahkamah Agung Mesir ditunjuk sebagai pemimpin sementara. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mesir, Jenderal Abdul Fattah al-Sisi, mengumumkan penangguhan konstitusi dan menyerukan digelarnya pemilihan presiden lebih awal dengan menyingkirkan presiden pertama yang dipilih melalui pemilu tersebut.

Al-Sisi menyatakan, militer telah menyadari bahwa orang-orang Mesir —yang menyerukan kami untuk mendukung mereka— sebenarnya tidak menganggap kami memiliki kekuasaan, tetapi kami bertugas untuk melakukan pelayanan publik dan menjamin perlindungan revolusi mereka.

Dalam pidato itu, Jenderal Sisi juga menyampaikan bahwa Presiden Mursi gagal memenuhi tenggat waktu yang diberikan oleh militer untuk mengatasi krisis.

Pernyataan itu disambut sukacita ribuan demonstran yang telah lama berunjuk rasa. Bendera Mesir berkibar di atas atap di kawasan Alun-alun Tahrir. Warga pun juga meluapkan kemenangan dengan keluar rumah dan berkeliling kota dengan arak-arakan

Tumbang Mursi adalah bagian dari konspirasi politik militer. Setahun setelah Muhamad Mursi terpilih sebagai presiden dalam pemilihan umum pertama Mesir, jutaan masyarakat negara itu turun ke jalan untuk menuntut Mursi mundur.

Keluhan para demonstran antara lain terkait tuduhan adanya upaya agar birokrasi pemerintah diisi orang Ikhwanul Muslimin. Mursi adalah anggota kelompok itu.

Apa itu Ikhwanul Muslimin? Ikhwanul merupakan kelompok agama dan politik yang didirikan atas keyakinan bahwa Islam bukan hanya agama, tetapi juga cara hidup. Kelompok tersebut menganjurkan untuk menjauhi sekularisme dan kembali ke aturan Alquran sebagai dasar bagi kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara yang sejahtera.

Ikhwanul secara resmi sebenarnya menolak penggunaan cara-cara kekerasan dalam pencapaian tujuannya. Namun, cabang-cabang Ikhwanul Muslimin pernah dikaitkan dengan sejumlah serangan yang terjadi di masa lalu. Para pengecam pun menyalahkan kelompok tersebut sebagai pemicu berbagai masalah di tempat lain di Timur Tengah. Banyak yang menganggap perkumpulan itu sebagai cikal bakal dari militan islamis modern.

Ikhwanul Muslimin telah menjadi bagian dari kancah politik di Mesir selama lebih dari 80 tahun. Kelompok itu dibentuk Hassan al-Banna tahun 1928. Al-Banna dan para pengikutnya awalnya dipersatukan oleh keinginan untuk mengusir Inggris dan menghilangkan pengaruh Barat yang “merusak”. Slogal asli Ikhwanul Muslimin adalah “Islam merupakan solusi”.

Pada tahun-tahun awal berdirinya, kelompok itu berkonsentrasi pada pelayanan agama, pendidikan, dan sosial. Namun semakin lama Ikhwanul Muslimin pindah ke ranah politik dan seringkali melakukan protes terhadap pemerintah Mesir. Tahun 1940-an, sebuah kelompok sayap bersenjata Ikhwanul Muslimin disalahkan atas serangkaian tindak kekerasan, termasuk pembunuhan terhadap Perdana Menteri Mesir, Mahmud Fahmi, tahun 1948, tak lama setelah ia memenintahkan pembubaran Ikhwanul Muslimin.

Al-Banna sendiri dibunuh tak lama setelah itu. Para pendukungnya mengklaim bahwa ia dibunuh atas keinginan pemerintah.

Kelompok itu bergerak di bawah tanah pada tahun 1950-an, dan selama beberapa dekade berada dibawah penindasan para penguasa Mesir menyebabkan banyak anggotanya melarikan diri ke luar negeri, sementara yang lain dipenjara.

Tahun 1980-an, kelompok itu menyatakan mengingkari kekerasan dan berusaha untuk bergabung dengan proses politik arus utama, tapi dilarang oleh rezim mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak. Meski demikian, Ikhwanul tumbuh sepanjang dekade itu, sebagai bagian dari pertumbuhan di dalam Islam. Invasi pimpinan AS ke Irak tahun 2003 memicu lonjakan dalam keanggotaannya.

Tahun 2005, kelompok itu memenangkan 20 persen kursi dalam pemilihan parlemen Mesir. Mubarak lalu menindak Ikhwanul, memenjarakan ratusan anggotanya.

Komentar