Desa Serampah Dipastikan Hilang dari Peta

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 6 Juli 2013 | 11:04 WIB

Dibaca: 0 kali

Gempa Benar Meriah tidak hanya menelan korban meninggal, luka, kerusakan rumah dan infrastruktur lainnya, tapi juga memastikan “hilang”nya sebuah desa di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Desa Serampah, selain terbelah juga, sebagian dari lahan pedesaannya, amblas hingga 100 meter ke dasar bumi dan membentuk semacam jurang yang lebar.

Perkampungan, tempat pemukiman warga, hancur berantakan dan tidak menyisakan satu rumah pun yang layak untuk huni. Dan dipastikan pula, desa yang paling parah terkena dampak gempa 6,2 skala richter, Selasa pekan lalu itu, akan terhapus dalam peta Kecamatan Ketol, Aceh Tengah.

Desa Seurampah, sebelumnya masuk dalam Kecamatan Silihnara. Dengan membelahnya Kecamatan Silihnara menjadi dua, Silih Nara dan Ketol, Serampah masuk dalam masuk dalam kecamatan pemekaran Ketol bersama dengan 30 desa lainnya.

Dengan terbelah, amblas dan porakporandanya desa Serampah ini, dipastikan pula Kecamatan Ketol akan punya 29 desa. Camat Ketol M Saleh belum memastikan kemana warga desa Seurampah akan dimukimkan. Ia juga belum memastikan apakah pemerintah Aceh tengah akan membentuk desa baru sebagai pengganti Seurampah.

Untuk tahap awal penduduk Desa Serampah akan dievakuasi ke tempat pengungsian hingga dibangunnya rumah pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi nantinya. “Belum tahu akan di tempatkan di desa mana warga Seurampah nanti. Nanti akan kami bicarakan dengan bupati,” kata camat M Saleh.

Desa Serampah adalah desa terparah yang terkena dampak gempa berkekuatan 6,2 SR di Kabupaten Aceh Tengah. Hampir 50 persen lahan desa ambles ke lembah dan hanyut terbawa arus sungai. Kondisi ini membuat warga Desa Serampah memutuskan untuk tidak kembali ke desa mereka.

“Tempat ini sudah tidak mungkin ditempati lagi, dan kami berharap pemerintah bisa menempatkan kami di lokasi yang baru,” ujar Hasan, warga Desa Serampah.

Camat Ketol, Muhammad Saleh, mengatakan, desa di wilayahnya itu memang terbelah, amblas dan porakporanda. Kerusakannya sangat parah karena semua rumah rusak berat dan banyak warga menderita luka-luka.

“Ada enam korban meninggal di Serampah ini, semuanya sudah dikebumikan,” kata Saleh. Menurutnya longsor di Serampah terjadi di sejumlah titik. Badan jalan menuju desa di pedalaman itu banyak mengalami keretakan. Hingga hari ini perjalanan ke Serampah belum begitu mulus. Alat berat masih membersihkan materail longsor yang menutup badan jalan.

Perbukitan di dekat sungai longsor ke dalam sungai, sehingga airnya meluap ke permukiman. Sebagian tanah di desa itu juga ambles seperti terbelah dua, setelah diguncang gempa.

Dia menyebutkan sekira 200 warga Serampah kini diungsikan ke kampung lain yakni Kute Gelime. Belum diketahui kapan mereka bisa kembali ke desanya, karena kondisinya hingga sekarang belum memungkinkan untuk kembali.

“Walaupun semuanya sudah dievakuasi, tetapi Serampah tidak langsung sepi begitu saja. Anak-anak muda kampung tetap diminta untuk tinggal di desa. Mereka diminta untuk menjaga rumah-rumah yang ditinggalkan warga,” ujar Saleh.

Selain Serampah, kampung lain yang terparah akibat gempa di Kecamatan Ketol adalah Desa Bah, Pantan Penyo dan Jerata. “Ketiga kampung ini masih dibuka dengan alat berat, insya Allah beberapa jam lagi bisa sudah bisa diakses,” katanya.

Sementara itu, jumlah pengungsi di dua kabupaten, Aceh Tengah dan Bener Meriah, kini, berdasarkan data sementara mencapai 16.000 jiwa. Rinciannya, di Bener Meriah 12.500 jiwa dan di Aceh Tengah 3.500 jiwa. Pengungsi ada yang tersebar di titik-titik pengungsian, tetapi juga ada yang di halaman rumahnya.

Masyarakat sebagian masih trauma tinggal di rumah. Gempa susulan masih terjadi. Tercatat ada 23 kali gempa susulan pasca-gempa 6,2 SR pada 2 Juli lalu.

Distribusi bantuan terus dilakukan. BNPB telah mengirimkan sekitar 40 ton bantuan logistik dan peralatan ke Bener Meriah dan Aceh Tengah, baik melalui jalur darat maupun dari udara dengan pesawat Hercules dan kargo.

Hingga saat ini logistik masih mencukupi hingga 7 hari ke depan. Ketersediaan alat-alat kesehatan dan obat juga mencukupi. Kebutuhan mendesak bagi pengungsi adalah tenda keluarga, selimut, tikar/matras/kasur, permakanan, sandang, dan air bersih.

Laporan Kontributor “nuga.co” Zaini Ruslan

Komentar