Bantahan PKS Tentang Korupsi Luthfi Seperti “Menubruk” Angin

Penulis: Darmansyah

Senin, 20 Mei 2013 | 11:06 WIB

Dibaca: 0 kali

Bantahan para kader PKS tentang keterlibatan mantan presidennya, Luthfi Hasan Ishak yang “menggendong’ nama partainya dalam kasus korupsi kuota impor daging sapi di Kementan sepertinya “menubruk” angin.

Bukti keterlibatan Luthfi bersama partai gandengannya, berikut Ahmad Ftahanah,  kini dikepung oleh pernyataan saksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Para saksi, mulai dari Elizabeth Lima, Ahmad Fathanah dan saksi lainnya, tidak hanya menyelipkan keterangan tentang keterlibatan perorangan dalam kasus ini, tetapi menyeret nama PKS di dalamnya.

Para kader PKS yang semula tampil garang dengan retorik “putih”nya kini mulai keder dan berbicara lunak dengan menyerahkan kasus ini ke pengadilan. Mereka bernyanyi dalam komentarnya, seperti lagu Iwan Fals, “bongkar-bongkar.”

Kalau Iwan Fals melantun lagu “Bongkar” dengan nada bersemangat, maka kader PKS menyuarakannya dengan sedikit meriang. Bahkan, dalam keterangan terbaru, terkuak bukti bahwa Sefty, istri ketiga Ahmad Fathanah pernah mengantarkan bungkusan uang bergepok kepada Luthfi. Nah, mau apalagi.

Banyak bukti menarik lainnya di persidangan  ketika tim jaksa penuntut umum KPKi memutar sejumlah rekaman pembicaraan Luthfi Ahmad Fathanah. Selain mengungkapkan soal rencana pemberian fee Rp 40 miliar sejumlah rekaman menunjukkan keakraban antara Luthfi dan Fathanah. Misalnya saja, salah satu rekaman yang dibuka dengan obrolan seputar istri.

Istri-istri antum, Luthfi, sudah menunggu semua,” ucap Fathanah kepada Luthfi sambil terkekeh.  Luthfi pun membalas ucapan Fathanah itu dengan tertawa, lalu berkata, “Yang mana saja?” “Ada semuanya,” ucap Fathanah. Setelah itu, Luthfi bertanya lagi, “Yang pustun, pustun apa jawa sarkia?” “Pustun,” jawab Fathanah kemudian terdengar tawa dari kedua suara ini.

Belum diketahui apa maksud kata “pustun” dan “jawa sarkia” dalam rekaman percakapan tersebut. Jika ditelusuri, kata pustun atau pasthun bisa berarti sebutan untuk orang-orang Pakistan, Afganistan, atau yang berasal dari etnis di Timur Tengah.

Sementara istilah “jawa sarkia” bisa dipandang sebagai dua kata yang disatukan. Jawa merujuk pada suku Jawa, sedangkan sarkia dalam bahasa Arab berarti Sarkiyah, yang artinya timur. Jika digabungkan, “jawa sarkiah” bisa berarti Jawa Timur.

Lantas, benarkah Luthfi memiliki istri dari ras Pakistan dan suku Jawa Timur? Hanya Luthfi dan Fathanah yang bisa menjawab.

Harian “Kompas” dalam edisi akhir pekannya menuliskan dengan sangat bagus tentang keterlibatan petinggi PKS ketika bertemu dengan Direktur PT Indoguna Elizabeth Liman di sebuah kamar mewah sebuah hotel di Medan.

Inilah saduran dari sebagian tulisan itu pertemuan yang menghadirkan Luthfi, Fatahanah, Suswono, Menteri Pertanian, dan petinggi Indoguna yang  ternyata membahas kuota impor daging sapi.

Juga di Hotel Arya Duta Medan hadir  Elda Devianne Adiningrat, orang yang membantu mengurus perizinan daging sapi impor. Ia yang mengaku  menelepon Maria Elisabeth Liman untuk memastikan agar siap-siap bertemu Menteri Pertanian Suswono. Elisabeth adalah Direktur Utama PT Indoguna Utama, yang saat ini sudah menjadi tersangka kasus dugaan suap kuota impor daging sapi.

Elisabeth memang berangkat ke Medan bersama Elda, Ahmad Fathanah, Soewarso (sahabat Suswono), dan para petinggi PKS lainnya. Misinya adalah menyampaikan data soal perkembangan krisis daging, termasuk fenomena bercampurnya daging sapi dengan gading celeng dan tikus.

”Siapa yang menyediakan akomodasi ke Medan?” tanya Ketua Majelis Hakim Purwono Edi Santosa.

”Saya, dong Pak. Kalau pebisnis itu, kalau di hotel, ya saya yang bayar,” jawab Elisabeth dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (15/5).

Kesaksian itu disampaikan dalam sidang perkara dugaan suap kuota impor daging dengan terdakwa Arya Abdi Effendi, Direktur Operasional PT Indoguna, dan Juard Effendi, Direktur Human Resources Development dan General Affair PT Indoguna

Elisabeth, Suswono, Soewarso, dan Fathanah kemudian menuju ke kamar Luthfi. ”Saya sampai di kamar ada Pak LHI (Luthfi). Kira-kira dua menit datang Suswono dan Soewarso. Jadi diperkenalkan, ini Ibu Elisabeth, saya dikatakan Ketua Aspidi (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia),” kata Elisabeth.

Elisabeth adalah salah satu pendiri Aspidi, 26 tahun lalu. ”Sekitar 27 tahun lalu, asupan daging kita 50 gram per tahun. Waktu itu kami coba naikkan supaya keturunan kita lebih bagus otaknya. Setelah 26 tahun, asupan naik 2,2 kilogram, tapi setahun terakhir turun 1,9 kilogram, itu pun bercampur celeng dan tikus,” ujarnya.

”Hati saya miris, maka saya ketemu Pak Menteri,” lanjutnya.Namun, pertemuan yang dinantikan itu justru membuat ia tak menentu. Menteri marah dengan data yang disajikannya. ”Katanya, data tidak absah,” kata Elisabeth.

Eisabeth berusaha menunjukkan kesalahan perhitungan dari Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik. Namun, hal itu tidak menggoyahkan prinsip Menteri Pertanian.Elisabeth juga menyampaikan, saat ini banyak sapi betina lokal yang produktif dipotong. ”Saya sampaikan 100 persen keprihatinan ini sebagai orang Indonesia. Saya sedih melihat kondisi ini,” tuturnya. Elisabeth marah datanya dianggap tidak valid. ”Menterinya pergi, ya saya minggat,” katanya.

Dua hari setelah menjadi saksi, Suswono pun datang ke Pengadilan Tipikor untuk dimintai keterangan. Ia memang mengakui sempat marah dengan Elisabeth yang membawa data tidak valid. ”Beliau sampaikan data produksi, juga sampaikan ada data yang salah di Kementerian Pertanian sehingga beliau sampaikan data baru,” kata Suswono.

Suswono hadir dalam pertemuan di Medan karena diminta PKS dalam safari dakwah. ”PKS minta saya dihadirkan karena ada dialog dengan para tokoh di Medan,” ujarnya.Malam sebelumnya, ia sudah mendapat informasi dari rekannya, yaitu Soewarso, bahwa ada pelaku usaha yang yang akan mengajak bertemu.

Pertemuan pun hanya berlangsung sekitar 20 menit. Luthfi mengatakan, tidak ada pembahasan soal kuota impor dalam pertemuan itu.Pertemuan tersebut murni untuk membicarakan keresahan masyarakat soal krisis daging Dalam sidang itu, krisis daging tersebut kemudian memunculkan isu tentang celeng dan tikus. Tentu yang dimaksud daging celeng dan daging tikus, bukan makna kiasannya.

 

Komentar