Wanita Makin Menyenang di Usia “Mature”

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 26 November 2014 | 06:32 WIB

Dibaca: 9 kali

Siapa bilang wanita makin tidak menyenangkan ketika usianya terus bertambah? “Tidak,” rilis sebuah riset yang dilakukan produk Sylik. Justru, tulis Sliyk dalam blog perusahaannya, wanita akan menjadi lebih menarik dan menyenangkan ketika memasuki dan menjalani usia “mature.”

Pertambahan usia tidak menjadi halangan untuk wanita dalam merasa kehidupan seksnya. Mereka di usia “mature” malah lebih semenyenangkan dibanding masa awal-awal pernikahan.

Riset terbaru dari Slyk ini mengindikasikan wanita justru semakin ‘panas’ ketika mencapai usia tiga puluhan.

Riset yang dilakukan Slyk mengungkapkan wanita merasakan peningkatan frekuensi bercinta setelah usia melewati tiga puluh tahun. Tujuh puluh satu persen dari mereka yang jadi responden mengaku bercinta satu minggu sekali. Dan hampir lima puluh persen menikmati seks bersama pasangan dua sampai tiga kali seminggu.

Dibandingkan dengan wanita berusia remaja dan pasca remaja, frekuensi bercinta wanita berusia “mature” lebih sering. Mereka bisa bercinta minimal satu minggu sekali.

Kepada wanita “mature” ini juga ditanyakan jika punya waktu dua puluh lima jam dalam sehari untuk ‘me’ time, apa yang akan dilakukan?

Hampir lima puluh persen menjawab mereka akan menggunakannya untuk bercinta dengan pasangannya. Jawaban ini paling dominan dibandingkan aktivitas lainnya menonton televisi, hangout dengan teman, atau kegiatan santai lainnya.

Saat usia mencapai empat puluhan yang selama ini diidentikan dengan mulai terjadinya menopause, frekuensi seks pun tidak menurun untuk wanita. Tujuh puluh persen wanita di usia inin juga mengaku mereka bercinta setidaknya satu minggu sekali.

Riset Sylk ini juga membuktikan menopause tidak membuat wanita kehilangan gairahnya. Wanita berusia enam puluhan pun, yang disurvei , mengakui mereka tetap bisa menikmati keintiman..

Yang membuat wanita kehilangan gairahnya bukanlah pertambahan usia. Survei mengungkapkan hal-hal seperti masalah keuangan dan masalah pekerjaan justru menjadi penyebab libido wanita menurun.

Bagaimana menjaga agar wanita bisa langgeng bersama pasangannya?

Salah satunya dengan berbagi tugas mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, mengepel, dan menyuci.

Pekerjaan inii banyak dilakukan pasangan modern, terutama mereka yang tidak memiliki asisten rumah tangga atau pembantu. Apa dampak dari berbagi tugas rumah tangga ini pada kehidupan seks?

Riset yang dilakukan Sabino Kornrich, Julie Brine, Katrina Leupp dan dipublikasikan di The American Sociological Review mengungkapkan hal berbeda dari asumsi banyak orang.

Selama ini orang beranggapan pembagian tugas yang adil di antara suami-istri bisa membuat pernikahan menjadi lebih baik, termasuk kehidupan seks.

Namun ternyata dari riset berjudul Egalitarianism, Housework and Sexual Frequency in Marriage itu ditemukan, ketika pria mengerjakan pekerjaan rumah tangga, pasangan menjadi lebih jarang bercinta.

Lebih spesifik lagi, ketika pria melakukan pekerjaan yang oleh peneliti disebut tugas feminin seperti mencuci, memasak dan bersih-bersih, pasangan menjadi menuruni frekuensi bercintanya dalam sebulan dibandingkan dengan pasangan yang pihak suaminya lebih banyak melakukan tugas rumah tangga yang lebih maskulin seperti membuang sampah atau memperbaiki mobil.

Hasil berbeda disampaikan oleh profesor dari Universitas Cornell, Sharon Sassler. Da;am tulisannya untuk Council of Contemporary Families, Sassler mengaku melakukan penelitian untuk melihat apakah memang pembagian tugas rumah tangga ini berpengaruh pada frekuensi bercinta pasangan. Dia dan timnya menganalisa data terbaru yang menurutnya lebih terbaru ketimbang riset dari Sabino Kornrich dan kawan-kawan.

Dari riset Sassler terungkap, pasangan yang berbagi tugas rumah tangga frekuensi dan kepuasan seksnya sama seperti pasangan yang pihak istrinya mengerjakan pekerjaan rumah.

“Bahkan pasangan yang egaliter ini peringkatnya sedikit lebih tinggi di semua kategori, mereka lebih sering bercinta dan kepuasaan seksnya lebih baik ketimbang pasangan konvensional,” tulisnya di situs Contemporary Families.

Riset lainnya yang dipublikasikan dalam jurnal Sex Roles mengungkapkan hal serupa dengan Sassler.

Penelitian tersebut mengungkapkan ketika pasangan berbagi tugas rumah tangga dengan adil, kepuasaan istri pada hubungan pernikahan lebih tinggi. Riset itu membantah kalau wanita jadi tidak merasa bergairah pada pasangannya ketika si pria melakukan tugas yang bersifat feminin seperti mencuci piring.

Komentar