Suplemen, Jangan Langsung Percaya Khasiatnya

Penulis:: Darmansyah

Minggu, 3 Maret 2013 | 09:57 WIB

Dibaca: 1 kali

PERNAH  nonton infotainment? Kalau ada jangan mau tertipu dengan iklan yang dipromosi para artis yang meretorikan dagangan  suplemen yang, katanya, menjadi konsumsinnya setiap hari dan membuat sang artis bugar.

Kalau masih percaya, teliti saja produknya dan waspadai risiko, terutama,  batu ginjal. Sebab  jika Anda termasuk orang yang rutin mengasup suplemen vitamin C resiko pengendapan batu di ginjal bisa menjadi serius. Risiko tersebut terutama pada mereka yang pernah punya riwayat batu ginjal sebelumnya.

Penelitian yang dilakukan tim dari Swedia itu memang tidak melarang orang untuk mengonsumsi vitamin C. Tetapi orang yang pernah sakit batu ginjal harus mewaspadi risiko kekambuhan penyakitnya jika mereka masih mengasup suplemen vitamin.

Penelitian berskala besar tersebut mengambil data dari wawancara para pria dewasa dan lanjut usia mengenai pola makan dan gaya hidup mereka. Mereka diikuti selama 11 tahun.

Hasil analisa menyebutkan 907 pria rutin mengonsumsi vitamin C, sementara yang tidak mengasup suplemen apa pun mencapai 22.000 orang.
Dari kelompok rutin minum vitamin C, sekitar 3,4 persen menderita batu ginjal, sedangkan dari kelompok kontrol hanya 1,8 persen.

“Sejak lama memang dicurigai kalau vitamin C dosis tinggi akan meningkatkan risiko batu ginjal karena sebagian vitamin C yang diserap tubuh akan dikeluarkan urin sebagai oksalat, salah satu komponen pembentuk batu ginjal,” kata Laura Thomas, peneliti dari Karolinka Institute, Stockholm, Swedia.
Batu ginjal terbentuk dari kristal kecil yang dibentuk dari kalsium dan oksalat. Batu ginjal bisa saja keluar lewat urin tetapi seringkali menyebabkan rasa sakit. Batu ginjal berukuran besar membutuhkan operasi untuk mengeluarkannya.
Vitamin C sendiri termasuk vitamin yang penting.

Namun vitamin ini sebaiknya didapatkan dari makanan yang diasup sehari-hari. “Risiko batu ginjal dari vitamin C sepertinya tergantung pada dosis dan kombinasi nutrisi yang diasup,” kata Thomas. Dosis vitamin C yang dianjurkan bagi orang dewasa sebesar 90 mg/hari untuk laki-laki, dan 75 mg/hari untuk perempuan. Dosis tersebut tidaklah mencukupi pada perokok karena efek negatif yang ditimbulkan dari asap rokok. Oleh karena itu anjuran vitamin C dinaikkan menjadi 125 mg untuk laki-laki, dan 110 mg untuk perempuan.

Angka ini sedikit lebih tinggi dengan tujuan melindungi tubuh terhadap efek yang merugikan dari asap tembakau, sehingga tetap didapat kadar dalam darah yang sama dengan dewasa yang tidak merokok.

Pertanyaan lain juga bisa muncul bagaimana kalau kita sudah terbiasa dengan  mengonsumsi vitamin C dosis tinggi seperti yang banyak terdapat dalam sediaan suplemen di pasaran?

Ide awal penggunaan vitamin C dosis tinggi karena adanya beberapa buku yang mengatakan bahwa cara yang paling mudah bagi tubuh untuk mengabsorpsi vitamin C adalah dalam bentuk pil, dan merekomendasi penggunaan vitamin C sebagai pengobatan neutraceutical untuk melindungi terhadap flu dan kanker, sehingga membuat orang berlomba-lomba menggunakan vitamin C dalam dosis besar sampai 4000 mg/hari.

Hal ini membuat para peneliti tertarik untuk melakukan penelitian penggunaan vitamin C dosis tinggi. Ternyata efek yang timbul dari penggunaan vitamin C dosis 2 gram adalah perubahan respons insulin terhadap metabolisme karbohidrat. Efek lain yang tidak diharapkan seperti gangguan pencernaan, mual, kram perut, gas berlebihan, dan diare.

Beberapa penelitian yang sudah dipublikasi menyatakan bahwa konsumsi vitamin C yang memberikan manfaat adalah pada dosis 100-300 mg/hari. Vitamin C dalam bentuk ester merupakan vitamin C yang telah diesterifikasi menjadi asam lemak, sehingga menjadi bentuk vitamin C yang larut dalam lemak. Tujuannya untuk mempermudah vitamin C masuk ke dalam sel.

Namun, vitamin C yang didapat dari bahan alami merupakan vitamin C yang paling dan selalu aman digunakan.

Komentar