Seks Itu Merupakan “Zat Bahagia”

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 4 Desember 2015 | 10:26 WIB

Dibaca: 1 kali

Anda tahu bahwa seks itu sumber kebahagiaan?

Dan oleh para ahli kesehatan disebut “zat kebahagiaan.”

Apakah juga Anda tahu kegiatan seksual juga memberi efek positif bagi kesehatan, terutama bila kegiatan yang ini terus dipelihara sampai tua?

Memang sulit untuk menyingkirkan korelasi seks dengan “stempel” hawa nafsu dan kepuasan psikologis seseorang. Seks begitu lekat dengan pemenuhan libido serta permainan nakal demi menambah sensasi kenikmatan.

Dan banyak orang yang melupakan seks merupakan faktor penting dari gaya hidup sehat, lo!
Benarkah?

Kesimpulan bahwa seks bikin hidup lebih sehat ternyata bukanlah isapan jempol belaka.

Di luar aura erotis nan intim, seks memiliki segenap manfaat yang diklaim mampu membuat tubuh menjadi lebih bugar.

Dilansir oleh Examiner, mari simak fakta manfaat seks untuk kesehatan yang perlu Anda ketahui:
Misalnya, rutin berhubungan seks dapat membuat pengeluaran kalori kita jauh lebih besar dibanding latihan kardiovaskular pada umumnya.

Dengan cara ini, tujuan menurunkan berat badan bisa lebih mudah tercapai.

Dan secara pasti, seks merupakan latihan aerobik. Tergantung pada seberapa baik kita melakukannya, seks dapat membantu kita meningkatkan metabolisme. Ini baik untuk sistem kardiovaskular.

Stres menyebabkan penumpukan kortisol, yang membuat tubuh sulit untuk membakar lemak secara efisien.

Manfaat seks untuk kesehatan ialah terkait kortisol yang menjadi alasan utama mengapa banyak orang mengalami kesulitan membersihkan lemak. Nah, seks merupakan cara mudah untuk menekan munculnya stres, yang menimbulkan kortisol.

Seks juga dikenal mampu meningkatkan zat kimia di otak yang membuat kita merasa bahagia, terutama serotonin, dopamine, dan norepinephrine.

Karena kesehatan mental merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat secara keseluruhan, maka jelas seks memiliki manfaat penting bagi kesehatan.

Oksitosin adalah hormon yang dikenal terkait dengan seks yang juga bisa membangkitkan euforia dan kebahagiaan alami.

Hal ini paling sering dipicu setelah orgasme dan sangat terkait dengan perasaan cinta dan saling memiliki. Semakin banyak oksitosin yang diperoleh, semakin kita merasa lebih bahagia.

Seks juga dapat memperkuat otot-otot. Beberapa posisi seks mirip dengan gerakan saat berolahraga.

Sehingga beberapa otot tubuh dapat turut terlatih saat kita melakukan seks.

Untuk Anda tahu seks adalah secara alami dilakukan makhluk hidup.

Oleh karena itu, para ilmuwan dari seluruh dunia telah bersama-sama berusaha membuktikan bahwa seks adalah proses alami seperti fenomena alami lainnya di alam.

Frekuensi hubungan intim yang sering mungkin disarankan untuk pasangan yang ingin cepat punya anak.

Namun hal tersebut secara otomatis bisa terjadi pada orang dengan kondisi nimfomanik atau masalah otak yang berujung pada kelainan perilaku lainnya.

Bila Anda harus berjuang cukup keras untuk menunaikan hajat Anda di tempat tidur, ada kemungkinan bahwa Anda memiliki kadar kolesterol yang tinggi.

Mungkin ini terdengar konyol, tapi kolesterol tinggi benar-benar dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di Rutgers University, Robert Wood Johnson Medical School, orang yang minum obat untuk menurunkan kadar kolesterol mereka dapat benar-benar menikmati seks yang lebih baik pada akhirnya.

Setelah sesi seks bersama pasangan, sebuah studi University of Toronto, membuktikan bahwa berpelukan pasca seks penting untuk kepuasan, sebagaimana hubungan intim itu sendiri.

Kepuasan tersebut berkaitan dengan pelepasan oksitosin, yang diproduksi setelah berpelukan.

Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari University of Groningen di Belanda, melihat dampak aktivitas atau rangsangan seksual dengan respons mereka terhadap hal negatif setelahnya.

Beberapa kelompok wanita diminta untuk menonton film erotis, video olahraga, atau video kereta api.

Setelah itu, mereka diseting untuk mendapatkan kondisi yang tidak menyenangkan, seperti minum minuman di cangkir dengan serangga di dalamnya.

Peneliti menemukan bahwa mereka yang menyaksikan film erotis sebelumnya tidak berespon berlebihan dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lain.

Komentar