Obesitas Itu Bukan Berarti Tidak Sehat

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 10 Februari 2016 | 08:56 WIB

Dibaca: 0 kali

Ilmuwan dari University of California, Los Angeles, secara mengejutkan menemukan puluhan juta orang di Amerika Serikat yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan melalui hitungan indek massa tubuh atau dikenal dengan “Body Mass Index” berada dalam kondisi yang sehat.

Untuk mengetahui apakah indeks massa tubuh memiliki korelasi dengan tanda-tanda kesehatan, tim peneliti dari UCLA menganalisa data dari individu yang berpartisipasi dalam survei nasional tentang pemeriksaan kesehatan dan nutrisi dalam rentang waktu tujuh tahun.

Dari data itu mereka mengamati tekanan darah, kadar trigliserida, kolesterol, glukosa, resistensi insulin dan data protein C-reaktif yang bisa menjadi penanda penyakit jantung dan peradangan.

Hasilnya, mereka menemukan sebanyak orang yang kelebihan berat badan dan mereka yang obesitas, dari sudut pandang metabolisme, ternyata cukup sehat.

Di sisi lain, individu dengan bobot yang mempunyai angka indek massa tubuh normal malah memiliki metabolisme yang tidak sehat.

“Saya pikir, alasan orang masih mengandalkan IMT adalah karena mudah.”

“ Jika Anda tahu berat badan seseorang dan Anda tahu tinggi seseorang, kemudian akan muncul nilai ajaib ini, “kata ketua peneliti A. Janet Tomiyama, yang juga merupakan psikolog di UCLA, seperti dikutip dari Los Angeles Times.

Tomiyama dan timnya menilai fokus pada penanda kesehatan yang lebih baik seperti tekanan darah menjadi cara yang baik untuk mengukur kesehatan.

Mengukur indeks massa tubuh bisa dilakukan dengan cara membagi berat tubuh dalam ukuran kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter.

Menurut Pusat Pengendali dan Pencegah Penyakit, indek massa tubuh yang sehat berkisar antara sembilan belas hingga dua puluh lima.

Sementara yang tergolong kelebihan berat badan memiliki indeks massa tubuh dua puluh hingga tiga puluh.

Sedangkan orang yang mengalami obesitas memiliki indeks massa tubuh tiga puluh atau lebih.

Namun seiring berjalannya waktu, para peneliti menduga bahwa yang memiliki nilai sehat dilihat dari IMT-nya ternyata sangat tidak sehat.

Sebaliknya, orang yang memiliki nilai IMT lebih tinggi malah mempunyai bentuk tubuh yang sangat baik.

“Kami pikir IMT hanya indikator yang benar-benar kasar dan mengerikan tentang kesehatan seseorang.”

“ Masyarakat terbiasa mendengar ‘obesitas,’ dan mereka keliru melihatnya sebagai hukuman mati. Padahal obesitas hanyalah ukuran berdasarkan IMT,” ujar Tomiyama

“Para pembuat kebijakan harus mempertimbangkan konsekuensi yang tidak diinginkan dari hanya mengandalkan IMT’

“ Dan peneliti harus berusaha untuk menciptakan alat diagnostik yang berhubungan dengan berat badan dan kesehatan kardiometabolik,” tulis para peneliti dalam penelitian yang diterbitkan pada International Journal of Obesity.

Studi sebelumnya telah menggambarkan sebuah “paradoks obesitas dengan berbagai penyakit terutama gagal jantung.

Dalam studi itu indeks massa tubuh yang lebih tinggi dikaitkan dengan lebih rendah kematian.

Namun, sedikit yang diketahui tentang dampak obesitas pada kelangsungan hidup setelah infark miokard akut.

Studi terbaru menyimpulkan bahwa “paradoks obesitas”, studi ini dipublikasikan dalam American Journal of Medicine.

Dua set analisis dilakukan dengan menggunakan Cox proportional hazards regression dengan pecahan polinomial untuk model BMI sebagai variabel kategori dan berkesinambungan.

Untuk menilai hubungan independen dari BMI dengan kematian, analisis diulangi, disesuaikan untuk tujuh domain karakteristik pasien dan klinis.

Dari studi tersebut peneliti menyimpulkan, tampaknya ada suatu “paradoks obesitas” di antara pasien setelah infark miokard akut seperti yang lebih tinggi BMI dikaitkan dengan kematian yang lebih rendah.

Efek yang ini tidak dipengaruhi oleh karakteristik pasien dan sebanding di usia, jenis kelamin, dan subkelompok diabetes.

Memiliki tubuh yang langsing dan berat badan ideal tentu saja lebih banyak memberikan manfaat positif untuk tubuh kita.

Jika seseorang mengalami obesitas, tentu saja banyak penyakit yang bisa timbul karenanya.

Resiko penyakit yang ditimbulkan antara lain adalah diabetes dan gangguan kesuburan reproduksi.

Seperti dikutip “nuga” dari laman situs “wikipedia,” obesitas itu sebenarnya adalah suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak tubuh yang terakumulasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan, yang kemudian menurunkan harapan hidup dan/atau meningkatkan masalah kesehatan.[

Seseorang dianggap menderita kegemukan atau obese, bila indeks massa tubuh, yaitu ukuran yang diperoleh dari hasil pembagian berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, lebih dari tiga puluh kilogram

Kegemukan meningkatkan peluang terjadinya berbagai macam penyakit, khususnya penyakit jantung, diabetes tipe 2, apnea tidur obstruktif, kanker tertentu, osteoartritis dan asma

Kegemukan sangat sering disebabkan oleh kombinasi antara asupan energi makanan yang berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, dan kerentanan genetik, meskipun sebagian kecil kasus terutama disebabkan oleh gen, gangguan endokrin, obat-obatan atau penyakit psikiatri.

Hanya sedikit bukti yang mendukung pandangan bahwa orang yang gemuk makan sedikit namun berat badannya bertambah karena metabolisme tubuh yang lambat; rata-rata orang gemuk mengeluarkan energi yang lebih besar dibandingkan orang yang kurus karena dibutuhkan energi untuk manjaga massa tubuh yang lebih besar.

Kegemukan adalah penyebab kematian yang dapat dicegah paling utama di dunia, dengan prevalensi pada orang dewasa dan anak yang semakin meningkat, sehingga pihak berwenang menganggap kegemukan sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat paling serius pada abad 21.

Kegemukan umumnya merupakan stigma di dunia modern, khususnya di dunia barat, meskipun pada suatu waktu dalam sejarah, kegemukan secara luas dianggap sebagai simbol kekayaan dan kesuburan, dan masih dianggap demikian di beberapa bagian di dunia hingga sekarang.

Komentar