Menata Hunian Kecil Ala Rumah Jepang

Penulis: Darmansyah

Senin, 6 Oktober 2014 | 16:31 WIB

Dibaca: 0 kali

Belajarlah dari Jepang bagaimana memiliki rumah “wah” dengan lahan kecil tapi maksimal pemanfaatannya lewat fleksibiltas ruang. Dibutuhkan kecerdasan mengakali lahan agar hunian tetap nyaman bagi Anda dan keluarga.

Begitu yang ditekankan sebuah tulisan di situs “designboom” agar Anda mampu beradaptasi dengan keadaan sekeliling dengan memilih perabotan yang tidak menyesakkan rumah.

Hunian yang memaksimalkan alur kecil dalam ruangan, terutama untuk menyediakan akomodasi tamu yang luas dan terang benderang. Alur kecil tersebut bisa disebar diseluruh lantai.

Dalam desain interior cara ini dikenal dengan konsep split level, fungsi dan penempatannya sangat tepat, yaitu ditempatkan saling bersisian untuk memastikan lingkungan di dalamnya saling terhubung dan terintegrasi.

Tak ada yang terhalang oleh salah satu dinding atau pintu, karena ruang tangga pun dimasukkan sebagai ruang tamu tambahan. Yang ada justru suasana terang ke dalam ruangan dan membuatnya terasa lapang. Hunian mungil yang lapang!

Jepang memang terkenal dengan desain-desain interior yang menakjubkan. Mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan lahan kecil. Misalnya dengan memanipulasi jarak antara lantai dan langit-langit untuk beradaptasi dengan kebutuhan di masa akan datang.

Selain itu, ruangannya juga memiliki kekhususan, yaitu langit-langit yang mencapai empat meter. Sebuah jendela kaca berukuran besar menghadap ke utara. Lewat jendela ini, pemilik rumah dapat menyaksikan pemandangan yang ada di taman dekat rumah mereka.

Rumah dengan konsep sederhana yang membuat semua bagian rumah dapat digunakan secara efektif. Uniknya, meski efektif, rumah ini juga tidak kehilangan unsur estetika.

Dari sekian banyak cara atau gaya menata rumah, sejak dahulu rumah-rumah tradisional Jepang terkenal sederhana dan efisien. Mungkinkah, gaya interior rumah Jepang ini dapat kita terapkan.

Penggunaan sumber daya yang efisien adalah bagian mendasar dari kebudayaan Jepang. Ruangan-ruangan dirancang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Sebagai contoh, tempat tidur ala futon Jepang dapat dilipat dan disimpan pada pagi hari agar ruangan dapat digunakan untuk keperluan lain.

Penataan ruangan juga dapat dirubah sewaktu-waktu karena sekat-sekat ruangan hanya terbuat dari layar shoji. Layar ini dapat dengan mudah diubah posisinya.

Walaupun berdinding kertas, rumah-rumah Jepang juga menjunjung tinggi privasi. Dinding kertas membuat cahaya dapat tembus ke ruangan lain, namun satu ruangan dan ruangan lainnya tetap bersekat.

Baik gaya Jepang tradisional maupun modern, orang-orang Jepang tetap menggunakan material dari alam seperti bambu, kayu, sutra, tikar padi jerami, serta kertas.

Rumah-rumah bergaya Jepang juga biasanya memberikan elemen yang membuat penghuninya menjadi nyaman dan rileks. Dengan menciptakan suara air mengalir, misalnya.

Selain dekat dengan alam, gaya rancangan Jepang juga terkenal karena kesederhanaannya. Kesederhanaan dapat membuat ruangan terasa lebih luas.

Jepang seringkali menggunakan warna natural dari kayu, bambu, kertas, dan jerami. Mereka juga terkadang menggunakan warna hitam, putih mencolok, abu-abu, dan coklat buatan.

Gaya pencayahaan Jepang menggunakan teknik diffuse lighting, baik cahaya dari alam maupun cahaya buatan sehingga pencahayaan menjadi lebih lembut berkat adanya shoji screen.

Beberapa elemen tradisional Jepang yang kerap digunakan di antaranya fusuma atau panel yang biasanya terbuat dari kayu, kertas, atau bahan. Sementara shoji screen terbuat dari bingkai kayu dan kertas yang tembus cahaya.

Biasanya shoji digunakan sebagai jendela, pintu, dan pemisah ruangan. Sementara tatami adalah lantai tradisional Jepang yang dibuat dari tikar jerami. Saat ini, tatami masih digunakan di rumah atau apartemen modern Jepang.

Selain itu, ada juga yang disebut dengan tokohama, yaitu ruangan kecil yang biasanya digunakan untuk upacara meminum teh. Biasanya, tokohama diisi dengan rangkaian bunga bergaya ala ikebana atau kaligrafi Jepang.

Komentar