Kepribadian Pengaruhi Mimpi Saat Tidur

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 26 Oktober 2017 | 08:47 WIB

Dibaca: 0 kali

Benarkah tipe kepribadian berkorelasi dengan kualitas tidur dan apa yang menjadi mimpi dalam tidur kita?

Ya, itulah yang ditulis secara apik oleh laman “the new York post,” hari ini, Kamis, 26 Oktober.

Korelasi antara kepribadian dengan mimpi itu disimpulkan oleh sebuah hasil  studi terbaru yang melibatkan seribuan  orang di Amerika Serikat

Mereka mengungkapkan  kepribadian introvert lebih cenderung mengalami gangguan tidur dibanding mereka yang ekstrovert.

Adapun penelitian ini dilakukan oleh Best Mattress Brand dan melibatkan ciri kepribadian responden yang sudah ditentukan lewat cara Myers Briggs Test.

Seseorang yang lebih menyukai berinteraksi dengan dunia luar digolongkan sebagai ekstrovert, sedangkan seseorang yang lebih memilih dunia dalam dirinya sendiri digolongkan sebagai introvert.

Meskipun beberapa ahli tahu bahwa tes MBT tidak selalu bisa digunakan dalam segala situasi, namun tes ini secara luas dianggap sebagai penanda yang baik dari berbagai karakter.

Nah, setelah peserta mengikuti tes, mereka ditanya serangkaian pertanyaan terkait pengalaman tidur dan mimpi mereka.

Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa tipe kepribadian berkorelasi dengan kualitas tidur dan apa yang menjadi mimpi dalam tidur kita.

Orang ekstrovert lebih cenderung bisa tidur pulas tanpa terbangun, sehingga tidak mengejutkan bila golongan ini memiliki lebih banyak energi esok harinya dan merasa lebih terjaga.

Kenyataannya, mereka yang ekstrovert tujuh belas koma tujuh persen mengaku lebih merasa segar dan bertenaga saat bangun tidur daripada orang introvert.

Mimpi kita juga terpengaruh, di mana para peneliti menyimpulkan bahwa orang introvert cenderung lebih sering memiliki mimpi buruk dan mimpi yang tidak jelas daripada ekstrovert.

Studi ini juga menemukan perbedaan dalam isi mimpi, di mana ekstrovert cenderung bermimpi tentang traveling, sementara orang-orang yang fokus pada dunia dalam dirinya cenderung bermimpi tentang kondisi tubuh mereka atau melakukan sesuatu tapi tanpa hasil.

Introvert juga lebih sulit menahan tidur saat mereka ingin tetap terjaga dibanding ekstrovert.

Meski demikian, hal yang paling penting adalah menjaga diri agar cukup tidur, karena Anda  tidak bisa mengubah tipe kepribadian dalam

Studi  juga mengungkapkan seseorang yang ekstrovert juga lebih cenderung mengingat mimpi-mimpi mereka dibandingkan dengan mereka yang introvert.

Secara garis besar, dalam studi disimpulkan bahwa, “Seseorang yang introvert banyak bermimpi bahwa mereka tidak mampu memberi pengaruh pada dunia di sekitarnya, dan bermimpi tentang melakukan hal tanpa adanya respons balik,” ucap peneliti.

Para peneliti juga menjabarkan bahwa kebanyakan orang yang ekstrovert lebih banyak bermimpi melakukan suatu kegiatan, seperti travelling.

Selain itu juga ditemukan bahwa mereka yang sensitif perasaannya juga sering bicara dalam mimpinya dan mengala

Nah, seberapa sering Anda bermimpi ketika tidur?

Jika Anda tidak bermimpi sama sekali ketika tidur itu pertanda adanya hubungan dengan kualitas tidur yang buruk, bahkan bisa berdampak berbahaya bagi kesehatan.

Berdasarkan pengamatan Dr Rubin Naiman, peneliti di Pusat Pengobatan Integratif di Universitas Arizona terhadap orang Amerika, tidak bermimpi ketika tidur berkaitan dengan krisis kesehatan. Menurutnya, bermimpi merupakan bagian penting dari kesehatan fisik, mental, dan spiritual seseorang

“Banyak orang melihat tidur dan bermimpi sebagai kebutuhan sekunder dan sekadar rutinitas. Padahal, efeknya jauh lebih banyak,” ujar Naiman dilansir dari Prevention.

Mimpi merupakan efek positif dari tidur nyenyak yang dikenal dengan REM, sebuah tahap dimana otak bekerja secara aktif ketika tidur.. Jika Anda tak bermimpi sama sekali, ada kemungkinan Anda tidak cukup tidur sebelumnya, atau tidur Anda tidak cukup berkualitas.

Naiman berpendapat, tekanan jadwal kerja, konsumsi alkohol, dan obat menjadi alasan yang merusak kualitas tidur. Naiman menambahkan, kurangnya REM berkaitan dengan risiko depresi, penurunan memori, serta obesitas.

Di sisi lain, beberapa ilmuwan tidak sependapat dengan Naiman. Patrick Fuller, ahli saraf yang mengkhususkan diri dalam penelitian tidur di Harvard Medical mengatakan bahwa REM tidak terlalu berdampak terhadap kesehatan.

“Kami memiliki beberapa data bahwa REM penting untuk aspek memori tertentu, tetapi ada juga individu yang memiliki REM sedikit atau tidak sama sekali tetapi tetap sehat.” ujar Fuller.

Meski demikian, Fuller sependapat bahwa kualitas tidur yang kurang baik menjadi masalah krusial yang berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.

Ia pun memberi tips agar bisa mendapatkan tidur yang berkualitas, yakni bangun pada waktu yang sama setiap hari, tidak menggunakan komputer atau ponsel sebelum tidur, dan bangun tidur tanpa bantuan alarm.

Komentar