Jangan Main-main dengan Rasa Sedih

Penulis:: Darmansyah

Senin, 3 November 2014 | 11:14 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda mengalami rasa sedih? Sudah berapa lama ia berlangsung. Satu, dua tiga atau lima hari. Ya. Rasa sedih bisa mengendap hingga lima hari. Itulah yang dirilis oleh sebuah studi yang dimuat di halaman “life style” surat kabar London “Daily Mail,” Senin, 03 November 2014.

Manurut tulisan di “Mail” itu, manusia tak lepas dari belitan atau kungkungan perasaan emosi. Tidak terkecuali dengan perasaan sedih, malu, atau pun kebahagiaan

Sebuah studi yangt dilakukan oleh , ilmuwan di Belgia meneliti tentang dua puluh tujuh emosi yang dialami oleh manusia.

Penelitian yang dilakukan oleh Philippe Verduyn dan Saskia Lavrijsen University of Leuven ini melibatkan ratusan siswa. Para siswa diminta mengingat perasaan emosional yang mereka alami baru-baru ini.

Para partisipan juga diminta menjawab pertanyaan mengenai strategi yang mereka gunakan untuk mengatasi emosi tersebut. Dari dua puluh tujuh emosi yang diteliti, ternyata rasa sedih bertahan paling lama.

Butuh sekitar lima hari untuk menghilangkan rasa sedih. Sementara itu, hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk menyingkirkan rasa jijik dan malu.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Motivation and Emotion tersebut merupakan riset pertama yang menyuguhkan bukti untuk menjelaskan kenapa beberapa emosi bertahan lebih lama dari lainnya.

Peneliti menemukan bahwa emosi yang bertahan singkat biasanya ditimbulkan oleh peristiwa yang memiliki kepentingan lebih rendah yang terkait dengan mereka.

Adapun, emosi yang bertahan lama cenderung disebabkan peristiwa yang memiliki implikasi kuat terhadap keprihatinan terbesar seseorang.

Jika kita merasa tersakiti dan merasa kecewa, lantas bersedih itu wajar selama kita masih menjalani kehidupan sebagai manusia normal dan masih menjalani keseharian kita yang manusiawi serta penuh dinamika.

Namun jika kita merasakan sakit hati dan kecewa berkepanjangan yang sampai berlarut-larut, bahkan sampai menahun, hal tersebut tentu tidak bisa dikatakan normal lagi, karena hal itu bisa mengakibatkan berbagai macam gangguan mental yang parah seperti depresi, frustasi dan bahkan traumatisme.

Wajar pula kija kita mengalami berbagai emosi negative dan berbagai luapan kemarahan, ketakutan atau kesedihan. Tiap manusia pasti dan berhak mengalaminya.

Namun emosi tersebut kemudian akan memiliki makna “baik” dan “buruk” untuk kita dan untuk orang-orang di sekitar kita berdasarkan bagaimana kita mengekspresikan emosi dan perasaan tersebut. Setiap orang berhak dan bisa marah, namun tidak semua orang yang marah kemudian ngamuk-ngamuk di hadapan public, kan?

Antara perasaan dan bagaimana perasaan tersebut diekspresikan merupakan dua hal yang berbeda. Bagaimana cara kita mengekspresikan perasaan kita cenderung merupakan kebiasaan yang kita bentuk dalam jangka waktu tertentu, dan oleh karenanya bisa kita biasakan ulang lagi. Kita bisa melatih cara kita dalam mengekspresikan emosi dan mengungkapkan apa yang sedang kita rasakan

Emosi negatif dan perasaan tidak nyaman merupakan dua bagian dalam diri kita yang umumnya dibenci dan dijauhi. Begitu kita merasakan rasa sakit hati, kecewa, sedih dan semacamnya kita ingin sesegera mungkin melepaskan perasaan-perasaan tersebut. Namun sayangnya, cara kita dalam mengupayakan keterlepasan dari “siksaan” tersebut sering malah memperparah suasana.

Jika emosi dan perasaan tidak nyaman anda tekan terus menerus, anda abaikan atau anda berpura-pura tidak mengalaminya, anda hanya seperti sedang memelihara bom waktu yang bisa meledak kapan saja dengan daya ledak yang sangat dahsyat.

Anda tentu mengenal seorang yang kelihatanya sangat sabar, namun sekali dia marah kemudian dia bisa sangat-sangat menyeramkan, bukan?

Anda tidak bisa melepaskan emosi negative dan perasaan tidak nyaman dengan hanya berpura-pura anda baik-baik saja, atau dengan menekan dan mengabaikan perasaan tersebut.

Namun, jika anda terlalu melepaskan perasaan dan emosi anda, membiarkanya terlampiaskan begitu saja tanpa anda kendalikan, anda justrus seperti sedang menyiramkan minyak ke dalam api. Jika anda membiarkan diri anda mengamuk karena anda marah, malah amukan anda tersebutlah yang akan membuat kemarahan anda menjadi-jadi.

Seperti mengendalikan aliran sungai, anda tidak boleh membendungnya terus menerus, namun anda juga tidak boleh membiarkan aliranya tidak terkendali.

Saat kita sedang berada dalam state yang diwarnai dengan berbagai emosi negative dan perasaan tidak nyaman kita memiliki “sensitifitas” yang lebih tinggi atau memiliki “daya magnet” yang membuat berbagai emosi negative dan perasaan tidak nyaman lain bisa muncul dengan sangat mudahnya.

Kita menjadi mudah marah, mudah sedih, mudah tersinggung, mudah kecewa dan kemudahan-kemudahan lain dalam mengalami kondisi yang lebih buruk dari sebelumnya.

Semakin lama, lingkaran setan ini akan berlanjut terus sehingga kondisi mental dan emosional anda akan terus memburuk sementara daya pikir dan kemampuan fisik anda pun akan terpengaruh dengan terus berkurang kinerjanya.

Jika anda sudah berada dalam gejolak emosional yang semakin sulit dikendalikan, semakin memburuk seiring waktu dan semakin sulit anda pahami, saya kira anda sudah harus mulai memperhatikan kondisi sub conscious mind anda dengan melepaskan beban-beban emosional yang memberatinya dan emmberatkan keseharian anda.

Komentar