Gawat!! Nasi Putih Mengandung Arsenik

Penulis:: Darmansyah

Sabtu, 8 November 2014 | 17:26 WIB

Dibaca: 0 kali

Ini berita gawat untuk pemakan nasi di seluruh dunia. Ternyata, Nasi putih yang kita asup setiap saat mengandung racun mematikan. Arsenik. Racun ini, tentu dalam jumlah paparan besar, telah membunuh Munir, penggiat HAM.

Tapi racun arsenik dalam jumlah yang terbatas juga bisa mematikan seperti yang dialami Napoleon Bonaparter ketika di buang ke Elba.

Belum lama ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau di kenal dengan FDA menemukan adanya pencemaran arsenik dalam beras beserta produk turunannya.

Cemaran arsenik ditemukan setelah melakukan pengujian terhadap 1.300 sampel produk beras di Negeri Paman Sam tersebut

FDA menegaskan, kadar arsenik dalam beberapa produk tersebut masih terlalu rendah untuk menimbulkan efek langsung atau dampak negatif bagi kesehatan jangka pendek.
Lembaga tersebut akan melakukan penelitian lebih lanjut menggunakan alat baru guna mengetahui lebih spesifik ragam jenis arsenik dalam makanan serta menganalisa dampak negatifnya untuk jangka panjang.
Seperti diketahui, arsenik merupakan senyawa pemicu kanker atau dikenal dengan istilah karsinogen pada manusia. Arsenik dapat ditemukan dalam bentuk organik dan inorganik. Keduanya digabung menjadi jumlah arsenik total.

Laporan FDA ini merupakan tindak lanjut dari permintaan Consumer Reports kepada pemerintah pada 2012 lalu untuk membatasi kandungan arsenik di dalam beras, menyusul hasil pemeriksaan terhadap 60 produk beras terpopuler di AS. Hasil temuan menunjukkan sebagian besar produk beras mengandung arsenik yang bersifat karsinogen.

Direktur keamanan dan kelestarian konsumen Consumer Reports, Urvashi Rangan menyambut baik langkah FDA menindaklanjuti laporan dari pihaknya. Ia mengimbau masyarakat tidak perlu berlebihan merespon laporan tersebut.
“Dengan temuan i
ni masyarakat perlu tahu jika masalah ini penting. Namun bukan berarti harus membuang semua beras dari dalam lemari mereka,” kata Rangan.

Dalam laporannya, FDA mengatakan kadar arsenik inorganik (jenis paling beracun) pada beras beragam dalam setiap porsi penyajian. Beras instan memiliki kandungan paling rendah, sementara jenis brown rice paling tinggi.

Pada produk beras, kadar arsenik anorganik lebih rendah per porsi penyajian. Kandungan paling rendah ada di dalam makanan bayi, sedangkan tertinggi ada dalam pasta beras.

Sementara pada brown rice, kandungan arsenik anorganik paling tinggi Sedangkan pada bentuk instannya mengandung berada pada posisi sedang arsenik inorganik.

FDA menolak untuk menyebutkan spesifik sampel atau merek yang diteliti. Alasannya, meskipun jumlah sampel cukup besar untuk meneliti arsenik dalam beras dan produk turunannya, tetapi jumlah sampel ini tidak cukup besar untuk mengevaluasi suatu produk secara lebih spesifik.

Untuk meminimalkan paparan arsenik anorganik, FDA merekomendasikan masyarakat untuk menerapkan pola makan yang baik dan seimbang untuk mencegah efek negatif dari terlalu sering menyantap satu jenis makanan. Masyarakat juga dapat mengonsumsi jenis pangan lain sebagai variasi makanan selain beras.

Kandungan zat-zat berbahaya bisa kita dapatkan dari mana saja, termasuk dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti nasi. Penelitian di Amerika Serikat itu menunjukkan, arsenik bisa terkandung di dalam beras.

Menurut penjelasan Badan Litbang Kementrian Pertanian RI, arsenik dalam beras sangat ditentukan oleh faktor lingkungan tempat padi tersebut tumbuh.

“Bisa saja kalau sawahnya itu adalah bekas tambang atau dari pupuk yang digunakan. Persawahan yang berada di dekat pabrik atau sungai tercemar juga dikhawatirkan bisa membuat arsenik ditemukan pada beras,” katanya.

Kementrian Pertanian akan melakukan pengecekan kadar logam jika ada laporan dari masyarakat. Namun sejauh ini belum ada laporan sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Salah satu cara untuk membatasi paparan arsenik bisa dilakukan dengan tidak mengonsumsi nasi secara berlebihan. Membeli beras yang sudah mendapatkan sertifikat SNI juga bisa menjadi cara karena ada aturan bahwa produk tersebut harus terbebas dari zat kimia berbahaya.
Sumber : FOX NEWS

Komentar