Gangguan Pada Tubuh Seorang Patah Hati

Penulis: Darmansyah

Senin, 23 April 2018 | 11:28 WIB

Dibaca: 0 kali

Patah hati. Dan apakah Anda  pernah merasakan efeknya secara fisik?

Jika ya, berikut adalah alasannya.

Seperti yang dilansir dari The Guardian, menurut Ronald A. Alexander, seorang psikoterapis di California dan Colorado, serta penulis buku, “Anda tidak sendirian saat berada di tempat tidur dan menarik diri dari dunia.”

Ibarat sebuah kapal, hati yang pataj dapay meninggalkan perasaan seolah-seolah kehilangan kemudi.

Menangis, terisak, dan persaan sedih adalah hal yang lumrah, tapi (ternyata) ada gejala fisik juga.

Berbicara tentang patah hati, setidaknya ada beberapa tahap. Yang paling awal adalah kacaunya jadwal tidur Anda.

Gangguan tidur seperti insomnia biasa terjadi untuk yang baru saja menjadi ‘single’, kata Alexander.

Depresi akibat putus cinta juga dapat membuat Anda terus-menerus gelisah; mengganggu proses biologis yang berujung pada tidur larut malam.

Alexander mengatakan, “Ketika Anda mengalami patah hati, Anda akan cenderung sulit untuk menenangkan pikiran, membuangnya jauh-jauh, dan beristirahat.” Hal ini disertai Kecemasan dan jantung yang berdegup kencang.

Menurut Alexander, sangat penting untuk mengetahui bahwa kesedihan dan duka hati dapat mempengaruhi sistem saraf. Hal ini normal bagi keadaan hypoarousal, dimana dapat memicu perasaan hilang kendali.

Dalam beberapa kasus  ektsrem, perpisahan dapat menyebabkan gejala mirip serangan jantung.

Sindrom patah hati, atau kardiomiopati Takotsubu, pertama kali dijelaskan dalam literatur medis Jepang, merupakan kondisi jantung sementara yang terlihat dan terasa seperti serangan jantung, serta sering disebabkan oleh situasi penuh tekanan, misalnya kematian orang yang dicintai atau putus cinta.

Harmony Reynolds, ahli jantung di New York University Langone Medical Centre, kepada The Huffington Post mengatakan bahwa sindrom patah hati didiagnosis pada sekitar satu hingga dua persen pasien yang datang ke rumah sakit dengan gejala serangan jantung.

Perubahan elektrokardiogram dan tes darah kepada yang mengalami sindrom patah hati mirip dengan pasien yang terkena serangan jantung, meskipun arteri jantung tetap terbuka.

“Pasien yang sedang mengalami sindrom patah hati memiliki kelainan fungsi otot jantung signifikan,” tutur Reynolds.

Kerusakan otot jantung bisa pulih selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Sayangnya, pasien yang telah mengalami sindrom patah hati terus mengalami peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.

Sindrom patah hati bisa diobati. Jeanine Romanelli ahli jantung di Lankenau Medical Center, Wynnewood, Pennsylvania mengatakan bahwa sebelum memvonis dan mengobati sindrom patah hati, dokter harus membasmi dulu penyebab potensial lainnya seperti penyakit jantung, pembekuan darah, atau penyumbatan.

Romanelli lebih lanjut mengatakan bahwa pendekatan yang dilakukan pada penderita sindrom patah hati sama dengan pendekatan pengobatan untuk kerusakan jantung, pengencer darah, serta inhibitor ACE dan beta blocker.

Dan, karena sepuluh persen pasien diberi kesempatan kesempatan menjalankan kehidupan kedua, maka akan dipantau kemajuannya dengan menggunakan ultrasound.

Ketika patah hati, sering kali melampiaskan pada hal-hal yang tidak baik.

Oleh karena itum Romanelli menyarankan untuk mengikuti kegiatan yang dapat membantu menghilangkan depresi dan rutin dilakukan.

“Teknik mengatasi depresi dengan cara tak sehat seperti minum atau makan berlebihan akan membahayakan jantung Anda,” tutur Romanelli.

Menurutnya, meditasi, bernapas dalam-dalam, yoga,  vakum dari media sosial untuk lebih sering bertemu dengan teman. atau membaca buku dapat membantu Anda.

Walaupun terdengar biasa, cukup ingatkan diri Anda sambil tarik napas dalam-dalam bahwa lingkungan Anda mampu membantu saat Anda hilang kendali.

“Bernapaslah, hubungi teman untuk mendapat dukungan, konseling, atau berjalan-jalan,”tutur Alexander. Dan yang lebih penting ingatlah bahwa: Kejadian tersebut akan segera berlalu

Komentar