Foto Instagram Ungkapkan Seorang Depresi

Penulis:: Darmansyah

Senin, 14 Agustus 2017 | 12:23 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs “fox news,” hari ini, mengingatkan Anda bahwa foto-foto di Instagram bisa memberitahu Anda apakah seseorang itu menderita depresi.

Ini ditandai dengan instagram Anda miliki  dipenuhi foto-foto yang digelapkan (menggunakan pilihan Slumber, Lo-Fi atau Inkwell

Bila itu yang terjadi Anda dianjurkan untuk  memeriksa kesehatan jiwa

Menurut penelitian, hal ini bisa jadi merupakan tanda seseorang mengalami depresi.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 8 Agustus di jurnal EPJ Data Science, para ilmuwan menganalisis lebih dari empat puluh ribu orang yang bersedia mengungkapkan riwayat kesehatan mental mereka.

Setengahnya  mengaku pernah dinyatakan mengalami depresi klinis dalam tiga tahun terakhir.

Dengan memuat foto-foto Instagram mereka ke dalam program komputer, para ilmuwan menemukan bahwa individu dengan riwayat depresi cenderung memasang gambar yang lebih biru, lebih gelap dan menunjukkan lebih sedikit wajah.

Program ini juga mampu mengidentifikasi individu dengan diagnosis depresi sebelumnya, dengan akurasi 7tujuh puluh persen.

“Ini bisa menjadi metode baru untuk mengetahui gejala depresi dan penyakit mental lainnya secara dini,” kata penulis studi Chris Danforth dalam laporannya.

“Penelitian ini memang belum masuk ke tes diagnostik, juga tidak dilakukan dalam jangka panjang. Tapi ini bisa jadi cara baru untuk membantu seseorang,” tambahnya.

Penelitian ini juga memberikan catatan penting, bahwa kecerdasan buatan (artifical intelligence) dapat digunakan untuk membantu mendeteksi penyakit kejiwaan di masa mendatang.

“Pasien umumnya merasa malu dan menghindari perbincangan soal kesehatan mental mereka saat bertemu dengan dokter. Namun di hadapan komputer, mereka barangkali lebih merasa nyaman,” kata Joe Taravella, PhD dan psikolog klinis, kepada Yahoo Beauty. “Kita barangkali perlu mengubah pemeriksaan dengan menghadirkan cara yang lebih nyaman agar pasien bisa bicara lebih terbuka dan jujur.”

Meski demikian, para ilmuwan juga menyadari bahwa penggunaan teknologi harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, dan tidak menyederhanakan diagnosa semata-mata berdasarkan jejak seseorang di media sosial.

“Namun karena media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, ia menjadi salah satu platform yang bisa digunakan untuk memperbaiki kesehatan mental seseorang,” kata Chloe Grass-Orkin of Rethink Mental Illness.

Untuk itu pula Anda diingatkan untuk mengetahui gejala awal dari depresi.

Dan depresi bisa membawa seseorang bunuh diri.

Untuk Anda ketahui , skitar sembilan puluh persen orang yang meninggal karena bunuh diri sebenarnya menderita penyakit kejiwaan.

Penyebab tersering gangguan jiwa itu adalah depresi.

Depresi bukanlah perasaan stres atau sedih biasa, namun perasaan yang tidak bahagia dan merasa tak punya harapan. Kondisi ini akan diikuti oleh berbagai gejala klinis.

Gejala depresi yang utama adalah gangguan mood atau perasaan hati yang menurun.

Orang yang depresi akan merasa tidak ada harapan akan kehidupan atau putus asa. Kondisi ini diikuti dengan gejala lain seperti susah konsentrasi, malas, tidak bertenaga, tidak nafsu makan, dan sering ada ide untuk bunuh diri

Gangguan tersebut berlangsung setidaknya selama dua minggu yang akan mengganggu fungsi sosial dan kegiatannya sehari-hari.

Pengalaman negatif dalam kehidupan juga bisa menyebabkan depresi, misalnya kematian orang terkasih, perceraian, perpisahan, kehilangan pekerjaan, penyakit berat, kekerasan seksual, dan sebagainy

Perempuan disebut beresiko dua kali lipat menderita depresi dibandingkan pria.

Sekitar enam  persen atau enam belas juta juta jiwa mengalami gangguan mental emosional (depresi dan kecemasan).

Itu hanya data yang dilaporkan, padahal gangguan jiwa seperti fenomena gunung es yang kelihatannya kecil tapi sebenarnya menyimpan potensi besar yang tak terlihat.

Depresi sebenarnya bisa diobati

Peran serta masyarakat juga diperlukan dengan lebih peka mengenali tanda-tanda depresi dan peduli jika ada perubahan perilaku pada orang terdekatnya.

Intinya kita harus empati, menyadari bahwa depresi bisa terjadi pada siapa pun. Jangan ragu untuk berobat.

Saat kita merasa depresi disarankan agar memikirkan hal-hal yang menyenangkan.

Sepertinya itu saran yang sederhana, namun menurut ilmu pengetahuan, anjuran itu ternyata ada benarnya.

Penelitian terbaru dari Rutgers University menemukan bahwa mengenang peristiwa-peristiwa yang menyenangkan bisa mengurangi respon tubuh terhadap stres.

Kesimpulan yang dipublikasikan di Nature Human Behavior ini diperoleh setelah peneliti Mauricio Delgado dan Megan Speer memberi ujian yang membuat seratus tiga puluh empat relawan tertekan dengan memasukkan tangan ke air yang sangat dingin.

Sebagian orang diminta memikirkan peristiwa gembira yang pernah mereka alami seperti berlibur bersama keluarganya, sedangkan yang lain diminta memikirkan pengalaman biasa seperti berangkat kerja atau menunggu kereta.

Kelompok yang diminta mengingat pengalaman gembira ternyata merasa lebih baik dan hormon kortisol yang mempengaruhi stres di tubuhnya hanya lima belas persen dibanding mereka yang memikirkan kejadian-kejadian biasa.

Para peneliti kemudian melakukan percobaan yang serupa namun sekaligus memindai otak para relawan menggunakan fMRI.

Mereka yang memikirkan pengalaman bahagia mengalami peningkatan aktivitas di bagian otak yang berkaitan dengan pengaturan emosi dan kesadaran.

“Penemuan ini membuktikan bahwa mengingat kembali atau memikirkan peristiwa gembira bisa mengurangi stres,” ujar Delgado.

“Kita jadi tahu bahwa berpikir positif dan gembira memberi dampak yang baik dan bukan sekedar ucapan klise belaka.”

Komentar