Ciri-ciri Depresi yang Paling Umum Muncul

Penulis: Darmansyah

Selasa, 18 September 2018 | 10:15 WIB

Dibaca: 1 kali

Setiap orang bisa mengalami depresi.

Dan diperkirakan satu dari lima orang di dunia dapat mengalami depresi pada tahap tertentu dalam hidup mereka.

Meski begitu, gejala depresi yang muncul dan keparahannya mungkin berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain.

Apa saja ciri-ciri depresi yang paling umum dan harus Anda waspadai?

Depresi ditandai dengan memburuknya suasana hati yang menetap selama berminggu-minggu atau lebih dari enam bulan berturut-turut.

Ada beberapa gejala yang tumpang tindih antara stres dan depresi, seperti sulit berkonsentrasi, tidak bersemangat, dan kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya selalu Anda nikmati.

Namun, umumnya gejala depresi lebih terasa mewalahkan dan bisa sampai menghentikan aktivitas.

Depresi kemungkinan besar muncul sebagai hasil dari kombinasi rumit dari berbagai faktor yang meliputi:

Depresi bisa terjadi akibat ketidakseimbangan zat kimia dalam otak yang menyebabkan kadar serotonin jadi sangat sedikit.

Serotonin adalah senyawa yang bertanggung jawab untuk mengatur emosi dan mood. 

Kadar serotonin yang tinggi identik dengan perasaan bahagia dan sejahtera. Itu kenapa tingkat serotonin yang rendah umumnya dikaitkan dengan gejala depresi.

Jenis depresi ini dikenal sebagai depresi klinis.

Perubahan keseimbangan hormon juga bisa jadi penyebab depresi. 

Wanita dua kali lipat lebih rentan terkena depresi karena perubahan hormon yang terjadi selama hidupnya, seperti saat menstruasi, kehamilan, melahirkan (depresi pascamelahirkan), dan perimenopause.

Biasanya, risiko depresi pada wanita akan menurun setelah lewat usia menopause.

Masalah keseimbangan hormon akibat penyakit tiroid juga dapat memicu munculnya gejala depresi, baik pada perempuan atau laki-laki.

Pengalaman buruk di masa lalu seperti pelecehan seksual, kematian orang tercinta, atau perceraian orangtua, bisa berkembang menjadi trauma yang terbawa seumur hidup dan memicu gejala depresi.

Begitu pula dengan stres berat yang terkait dengan kejadian di masa sekarang, misalnya kebangkrutan akibat masalah finansial atau putus cinta.

Ketika seseorang terlalu terpukul dan tubuh serta pikirannya tidak mampu beradaptasi dengan tekanan tersebut, maka risiko mengalami depresi akan semakin tinggi.

Pada kebanyakan kasus, stres dan rasa sakit yang berkelanjutan dari penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, atau kanker, dapat menjadi penyebab depresi berat.

Maka itu, saat sedang sakit, dukungan orang sekitar sangat diperlukan untuk menurunkan risiko depresi.

Alkohol adalah zat depresan kuat yang bekerja menekan susunan saraf pusat otak.

Kecanduan alkohol lama-lama dapat merusak fungsi otak, terutama menyebabkan kerja hipotalamus otak terhambat. Hipotalamus adalah bagian otak yang bertanggung jawab mengatur emosi dan suasana hati si pemilik tubuh.

Kekurangan vitamin dan mineral tertentu dapat memicu gejala depresi. Selain itu, pola makan tinggi gula juga bisa memicu seseorang mengalami depresi.

Sementara itu sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa wanita memiliki kecenderungan lebih tinggi terkena depresi disbanding pria.

Studi juga telah menemukan bahwa perubahan hormon merupakan penyebab wanita rentan mengalami depresi.

Sebagai perbandingan, kasus depresi pada pria umumnya lebih sering dipengaruhi oleh penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan wanita rentan mengalami depresi dibandingkan pria:

Riwayat depresi keluarga meningkatkan peluang terjadinya depresi, baik pada pria dan wanita.

Namun, studi menunjukkan bahwa tekanan hidup yang dialami cenderung membuat wanita lebih rentan untuk mengalami stres yang berujung depresi dibandingkan pria.

Mutasi genetik tertentu yang terkait dengan perkembangan depresi berat juga hanya terjadi pada wanita.

Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan, baik secara fisik dan psikis. Berkaitan dengan depresi, studi menemukan bahwa sebelum masa puber, anak laki-laki dan perempuan sama-sama cenderung mengalami depresi

Perubahan hormon menjelang menstruasi dapat menyebabkan perubahan mood drastis (mood swing) yang seringkali menyertai nyeri PMS. Hal ini terhitung wajar.

Dilansir dari WebMD, wanita yang punya gangguan ini umumnya memiliki kadar hormon serotonin sangat rendah.

Dalam tubuh, hormon serotonin mengendalikan mood, emosi, pola tidur, dan rasa sakit. Kadar hormon memang bisa menjadi tidak seimbang menjelang atau selama menstruasi.

Akan tetapi, belum jelas penyebabnya kenapa hormon serotonin pada wanita tertentu bisa menurun drastis saat menstruasi.

Masa kehamilan tidaklah mudah, karena selama proses tersebut akan terjadi perubahan hormon yang dapat memicu terjadinya perubahan mood atau depresi pada wanita.

Perubahan hormon dan genetik semasa ini juga membuat wanita lebih rentan mengalami gangguan mood, seperti depresi.

Bahkan setelah melahirkan, wanita juga rentan mengalami baby blues dan depresi postpartum yang dapat menyulitkan wanita untuk menjalani peran barunya sebagai ibu, termasuk dalam merawat bayinya.

Beberapa wanita rentan mengalami depresi setelah proses melahirkan atau selama masa transisi menuju masa menopause.

Naik-turunnya kadar hormon reproduksi pada tahun-tahun menjelang atau selama menopause dapat memicu gejala depresi pada wanita usia lanjut.

Faktor lain yang juga dapat membuat wanita rentan depresi adalah faktor lingkungan, terutama terkait peran wanita sebagai ibu, istri, dan anak bagi orangtuanya.

Upaya tidak main-main untuk menyeimbangkan ketiga peran tersebut tidak jarang membuat wanita rentan mengalami stres kronis yang dapat memicu terjadinya depresi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa wanita mungkin lebih cenderung merenungkan masa lalu, yang baik maupun yang buruk, dibandingkan pria. Ini membuat wanita rentan mengalami gangguan kecemasan.

Tidak perlu malu untuk meminta pertolongan demi menangani depresi Anda. Depresi bukan tanda ketidakbahagiaan atau cacat karakter.

Depresi bukanlah keadaan yang wajar ditemui seperti stres atau panik. Seperti halnya penyakit fisik, penyakit mental pun memerlukan penanganan yang tepat.

Untuk mengobati depresi, Anda harus berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengobati depresi di antaranya adalah dengan menggunakan obat-obatan antidepresan, atau melalui konseling psikoterapi seperti CBT.

Perubahan gaya hidup sehat, salah satunya dengan olahraga rutin, juga dapat membantu meringankan gejala depresi. Anda berhak untuk hidup sehat dan bahagia.

Komentar