Cara Bicara Bisa Jadi Penilaian Kepribadian

Penulis: Darmansyah

Jumat, 31 Agustus 2018 | 10:26 WIB

Dibaca: 1 kali

Laman kesehatan terkenal “hello sehat” kembali menulis tentang gaya bicara seseorang dikaitkan dengan kepribadiannya.

Ya, gaya dan cara bicara setiap orang akan berbeda-beda. Namun, ternyata cara bicara seseorang bisa menunjukkan besar penghasilan yang didapatkan. Benarkah? Simak ulasannya di sini.

Biasanya seseorang menilai tingkat sosial atau penghasilan orang lain dari cara berpakaiannya sehari-hari.

Ketika Anda melihat pria dengan pakaian rapi berdasi dan berjas, mungkin Anda akan berpikir ia adalah orang kaya.

Lain lagi, jika Anda melihat seseorang dengan pakaian yang biasa-biasa saja, mungkin Anda berpikir ia hanya orang biasa yang memiliki ekonomi menengah.

Namun, itu semua hanyalah penilaian dari diri Anda sendiri. Karena belum tentu orang yang memakai baju yang santai atau tidak berdasi bukan orang kaya.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa CEO dengan penghasilan tinggi memiliki cara bicara tertentu atau berbeda dengan yang lain.

Cara bicara bisa menunjukkan lebih banyak penilaian tentang orang lain daripada yang Anda duga.

Penelitian menunjukkan bahwa hanya perlu 30 milidetik percakapan, cukup untuk mengatakan kata sapaan seperti “halo” bagi lawan bicara untuk menilai dan mengetahui latar belakang etnis atau budaya seseorang.

Karena setiap budaya memiliki cara bicara yang berbeda dan khas.

Biasanya seseorang bisa sangat cepat menilai orang lain berdasarkan cara bicara atau gaya bicara, dan seringkali tidak menyadari bahwa Anda sedang melakukannya.

Cara bicara dapat memicu penilaian sosial secara cepat, otomatis, dan kadang-kadang tidak sadar.

Selain itu, dari cara bicara, seseorang dapat membuat penilaian cepat tentang kepribadian Anda.

Penelitian telah memperkuat bagaimana pendengar dapat menghubungkan semua jenis sifat pribadi yang tidak berhubungan dengan seorang pembicara.

Ini berdasarkan daya tarik fisik, status sosial, kecerdasan, pendidikan, karakter yang baik, sosialisasi, bahkan kriminalitas, hanya berdasarkan dari cara bicara yang didengar.

Berkat sikap bahasa ini, bagi sebagian orang, aksen atau cara bicara menjadi sumber kebanggaan budaya, tetapi bagi yang lain, tidak begitu.

Sikap-sikap ini begitu meresap sehingga para pembicara dapat menilai dialek dan aksennya sendiri sama kerasnya seperti yang dilakukan orang lain.

Prasangka yang mendarah daging ini telah menunjukkan bahwa orang-orang secara spontan menilai orang lain dari cara atau aksen berbicaranya sebagai orang yang lebih kompeten, cerdas, efektif, dan lebih cocok untuk pekerjaan profesional dengan status tinggi.

Kemudian tanpa disadari, perlakuan dan penilaian seperti ini sebenarnya tanda dari diskriminasi.

Penilaian Anda ini bisa menyulitkan seseorang untuk mencari pekerjaan, mendapatkan pendidikan, atau bahkan mencari rumah, karena hanya menduga-duga apa yang Anda ketahui tentang orang lain.

Cara berbicara memang akan terbentuk ketika anak sudah mulai bisa bicara, bahkan mulai dari dalam rahim.

Bayi mulai bisa mendengar bahasa-bahasa yang ibunya berikan atau orang lain di keluarganya.

Namun, seiring bertambahnya usia dan pengaruh dari lingkungan sekitar, cara atau dan aksen bicara seseorang bisa berubah.

Cara bicara ini bisa berubah tergantung pada siapa dan di mana ia bicara. Karena mungkin orang lain bicara menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.

Komentar