Benarkah Hidup Lajang Itu Lebih Bahagia?

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 16 Agustus 2017 | 08:12 WIB

Dibaca: 0 kali

Benarkah lajang bisa bikin sehat?

Jawaban iya, menurut  data yang dihasilkan badan pusat statistik.

Data ini mengungkapkan bahwa orang yang belum menikah ternyata jauh lebih bahagia dibanding orang yang menikah atau yang sudah bercerai.

Data tersebut mengungkapkan bahwa indeks kebahagiaan orang yang belum menikah sangat tinggi

Namun benarkah orang yang belum menikah adalah orang yang memiliki kehidupan sosial dan dan mengalami pertumbuhan psikologis yang lebih besar dibanding orang yang sudah menikah.

Mengutip The Guardian, dalam presentasi di konferensi tahunan American Psychological Association, Bella dePaulo mengungkapkan bahwa orang lajang lebih terhubung dengan keluarga dan teman-temannya.

Sementara orang yang sudah menikah cenderung hanya terpaku pada keluarganya.

Dia juga mengungkapkan karena semakin banyak orang lajang maka mereka semakin sedikit mengalami emosi negatif.

Berbeda dengan orang yang sudah menikah, mereka lebih mungkin terkait dengan stres dan kesulitan besar.

Hanya saja temuan dePaulo ini tergantung pada waktu dan kondisi seseorang.

Artinya, faktor kebahagiaan si lajang juga dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan orang lain.

Seseorang yang sedang menjalin hubungan, baik pernikahan atau pacaran akan merasa tak bahagia ketika mereka memiliki hubungan yang tak sehat.

Sebaliknya, orang yang memiliki hubungan sehat dengan pasangannya juga akan bahagia.

Orang yang belum punya pasangan dan belum menikah dikatakan bahagia karena mereka juga dianggap bisa memenuhi tujuan hidup mereka dalam berbagai hal, termasuk finansial dan karier.

Sementara itu, beberapa waktu lalu, Profesor Bella DePaulo setuju dengan pilihan lajang lebih bahagia.

“Penemuan yang ada bicara. Misalnya, riset membandingkan orang yang tetap lajang dan mereka yang tetap menikah”

“ Hasilnya, lajang memiliki rasa kebulatan tekad lebih tinggi dan cenderung mengalami perkembangan dan pertumbuhan terus menerus sebagai pribadi,” kata profesor dari University of California, Santa Barbara ini.

“Riset lain membuktikan, bahwa lajang menghargai pekerjaan dibandingkan mereka yang menikah.”

“Studi lain tentang hidup orang lajang membuktikan, bahwa sikap mandiri orang yang melajang seumur hidup itu bermanfaat baik untuk mereka. Semakin mandiri, semakin kurang mereka mengalami emosi negatif. Bagi orang menikah, hal itu justru berkebalikan.

Profesor DePaulo menggambarkan dirinya selalu dan akan terus jadi lajang.

Ia mengatakan alasan di balik kehidupan tak menikah yang relatif kurang populer itu “jarang diketahui.”

“Meningkatnya jumlah orang lajang, karena mereka ingin demikian. Hidup melajang membuat mereka hidup mencapai yang terbaik, paling otentik dan paling berarti,” katanya.

“Orang lajang lebih sering menghubungi orangtua, saudara, teman, tetangga dan rekan kerja dibandingkan orang menikah. Ketika seseorang menikah mereka menjadi terisolasi,” ujarnya.

“Keasyikan dengan risiko kesepian dapat mengaburkan manfaat besar dari kesendirian. Inilah saat yang lebih akurat menggambarkan kehidupan orang lajang, mereka yang mengenali kekuatan sejati  adalah mereka yang lajang dan membuat hidup mereka jadi berarti,” lanjutnya.

DePaulo mengatakan, pasangan menikah didukung oleh perayaan pernikahan dan perkawinan yang disebut matrimania. Sebaliknya, orang lajang adalah target dari singlisme – pemberian stereotip, stigma, marjinalisasi dan diskriminasi terhadap orang lajang.

Tetapi studi akademik tidak mendukung pemikiran, bahwa menikah itu memberikan hidup yang lebih bahagia dan sehat.

“Orang-orang akhirnya berakhir di mana ketika mereka masih lajang. Dengan kata lain, hasilnya berkebalikan dengan apa yang kita percayai,” katanya.

“Para cerdik pandai mulai menyadari, bahwa relasi kasih sayang sejati tidak terbatas pada hubungan romantis atau cinta kasih antara orangtua dan anak-anak saja,” ujarnya.

BPS  kemrini merilis data hasil survei yang cukup menarik dan mengungkapkan  bahwa orang yang belum menikah atau single ternyata memiliki angka indeks kebahagiaan tertinggi dari status lainnya.

Sementara penduduk yang mengalami cerai hidup tercatat sebagai kelompok orang dengan tingkat kebahagian paling rendah.

Kalau single paling happy, setelah itu dia menikah indeks kebahagiannya turun sedikit, lalu ketika cerai maka indeks kebahagiannya turun drastis.

Hasil ini tidak berubah sejak survei lima tahun silam

Pengukuran indeks kebahagian dalam masyarakat sangat penting.

Guna melengkapi indikator pembangunan yang berpengaruh terhadap pengambilan kebijakan pembangunan.

Indeks pembangunan menurutnya bukan hanya sebatas angka pertumbuhan ekonomi, namun juga harus dilihat dari aspek sosial dan psikologis masyarakat secara menyeluruh.

Tujuan pembangunan adalah mensejahterakan masyarakat dari kualitas hidup dan ekonominya. Ekonomi yang bagus tidak menjamin penduduknya bahagia.

Komentar