Awas, Narsistik Itu Gangguan Kepribadian

Penulis: Darmansyah

Rabu, 25 Juli 2018 | 08:23 WIB

Dibaca: 1 kali

Banyak pakar yang menganggap bahwa narsisme atau narsistik  atau dikenal dengan narcissistic personality disorder merupakan salah satu dari tiga ciri utama gangguan kepribadian.

Narcissistic personality disorder dimiliki oleh satu persen penduduk dunia. Seseorang yang memiliki kepribadian narsistik egonya sangat besar sehingga mereka hanya mementingkan dirinya sendiri.

Orang narsis juga mendambakan untuk terus-menerus dikagumi oleh orang lain.

Selain itu, mereka juga merasakan kebencian ketika melihat atau mendengar orang lain bahagia — atau lebih sukses daripada dirinya.

Kenapa begitu, ya?

Orang-orang yang memiliki kepribadian narsistik sering dideskripsikan sebagai orang yang arogan, manipulatif, dan haus akan puja-puji.

Narsisme sering kali didasari oleh harga diri yang sangat rapuh yang dipengaruhi oleh rasa takut kegagalan atau takut menunjukkan kelemahan diri, dan perasaan insecure  atau tidak aman; waswas;gelisah yang tertanam dalam di benak terhadap ketidakmampuan diri.

Untuk menutupi insecurity-nya tersebut, orang yang narsis balik menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang sangat melewati batas dari sikap pede yang sehat.

Hal ini akan menumbuhkan gagasan bahwa ia adalah yang terbaik dan tidak terkalahkan, paling spesial, sehingga mereka merasa sangat yakin bahwa mereka pantas dikagumi dan mendapatkan perlakuan khusus dari orang di sekitarnya.

Namun karena harga dirinya yang rapuh tersebut, orang narsis mudah merasa diremehkan dan tidak bisa menerima kritik, bahkan yang membangun sekali pun, sehingga mereka akan berusaha kuat untuk menjatuhkan lawannya dalam rangka mengungguli yang lain.

Semua karakteristik negatif ini terlihat konsisten dalam hidupnya, baik di lingkungan kerja dan hubungan sosial.

Lantas, mengapa orang narsis benci melihat orang lain senang? Narsisme mendorong kecemburuan dan persaingan yang tidak sehat sehingga orang yang narsis tidak memiliki rasa empati, alias kepedulian dan welas asih terhadap orang lain.

Mereka mungkin saja menunjukkan rasa penyesalan, iba, atau murah hati, tapi hanya sebagai kedok untuk mendapat poin plus dari masyarakat; tidak ingin atau gagal membuat perubahan nyata dalam sikapnya.

Itu sebabnya mereka tidak dapat merasakan kebahagiaan sejati dan tulus yang berasal dari hati.

Rasa haus akan pengakuan dan puja-puji dari orang lain akan memicu cemburu dan iri terhadap orang lain, sekaligus memercayai bahwa orang lain cemburu terhadap dirinya.

Akibatnya, ketika melihat orang lain berbahagia atau sukses, orang yang narsis akan merasa terusik dan terancam eksistensi dan pamornya karena merasa dirinya tidak mampu mencapai kebahagiaan yang sama, atau lebih baik, seperti yang diraih orang lain.

Padahal, mereka merasa sangat yakin mereka berhak mendapatkannya. Ketika melihat orang lain mencapai itu semua, orang narsistik merasa iri dan juga marah.

Selain itu, kurangnya empati pada orang narsistik membuatnya memandang sebelah mata berbagai usaha yang sebenarnya telah dilakukan orang lain untuk mendapatkan sesuatu.

Mereka justru beranggapan bahwa situasi tersebut tidaklah adil baginya sehingga orang itu tidak layak mendapatkan kebahagiaan dengan alasan apapun.

Jika orang lain bahagia dan terus berkembang, harga dirinya akan terancam karena mereka terus membandingkan dirinya dengan orang tersebut.

Bahkan dalam kasus yang ekstrem, orang dengan kepribadian narsistik bisa melakukan berbagai macam usaha semena-mena untuk menjatuhkan Anda, seperti dengan memfitnah dan mengintimidasi saat ia merasa terancam.

Segala kecurangan ini ia lakukan untuk membuktikan bahwa ia pantas untuk diakui sebagai seseorang yang superior.

Sebaliknya, ketika melihat orang lain gagal atau terpuruk, orang narsis justru merasa sangat bahagia karena situasi tersebut mendukung gagasan dalam benaknya bahwa ialah orang yang lebih baik dari orang-orang sekitar.

Komentar