Angka Nol Itu Jauh Lebih Tua dari Dugaan

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 19 September 2017 | 08:38 WIB

Dibaca: 0 kali

Siapa yang tidak mengnal angka nol.

Sebuah angka tertua di dunia, dan ternyata, menurut peneltian terbaru dari University of Oxford, seperti ditulis laman “livescience” hari ini, 19 September, lebih tua dari yang pernah diduga sebelumnya.

Para peniliti itu  berhasil mengindetifikasikan angka ini dari  rujukan  manuskrip Bakhshali.

Anda pasti tahu,  pengenalan konsep angka nol adalah salah satu momentum terbesar di bidang matematika.

Sebagai angka yang mewakili ketiadaan, angka nol membuka ruang bagi perkembangan ilmu pengetahun seperti aljabar, kalkulus, dan ilmu komputer.

Ide bilangan nol sebetulnya telah lama diketahui berasal dari India. Namun, para peneliti belum mendapatkan gambaran yang jelas terkait asal usulnya.

Baru-baru ini, para peneliti dari University of Oxford berhasil mengindetifikasikan rujukan tertua mengenai penggunaan angka nol dari India.

Disebut manuskrip Bakhshali, catatan tersebut terdiri dari tujuh puluh daun kulit pohon birch dan mengandung ratusan angka nol dalam bentuk titik.

Ia pertama kali ditemukan oleh seorang petani saat menggarap ladangnya  di Desa Bakhshali, dekat Peshawar, sebuah tempat yang kini menjadi wilayah Pakistan, dan disimpan sebagai koleksi perpustakaan Bodleian milik Oxford.

Sebenarnya, kebudayaan lain juga punya simbol tersendiri untuk mengindentifikasi nol.

Suku Maya, misalnya, menggunakan simbol tempurung, sedangkan orang Babilonia menggunakan biji ganda untuk menggambarkan nol dalam angka yang lebih besar seperti, 101.

Namun, cikal bakal nol sebagai angka yang bisa berdiri sendiri berakar dari manuskrip Bekhshali.

“Manuskrip Bakhshali adalah benih dari mana konsep nol sebagai angka dalam haknya sendiri muncul beberapa abad kemudian, sesuatu yang dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu momen besar dalam sejarah matematika,” kata Profesor Matematika University of Oxford, Marcus du Sautoy

Sebelum para peneliti Oxford, para peneliti dari Jepang telah menyimpulkan bahwa manuskrip Bekhshali berasal antara abad kedelapan  hingga kedua belas

Kesimpulan itu didasarkan pada gaya penulisan dan penggunaan bahasa.

Akan tetapi, hasil analisis para peneliti Oxford berkata lain.

Menggunakan penanggalan radiokarbon yang mengukur kandungan isotop karbon dalam bahan organik, para peneliti menemukan bahwa manuskrip Bekhshali terdiri dari sejumlah teks dengan usia yang berbeda-beda.

Salah satu peneliti, Camillo Formigatti, seorang pustakawan Sanskerta di Perpustakaan Bodleian, mengatakan, ada kemungkinan manuskrip Bakhshali terdiri dari lebih dari satu teks.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami apa isi manuskrip.

Komentar