Anda Tahu Apa Itu “Boyfriend Voice”

Penulis:: Darmansyah

Minggu, 17 Januari 2016 | 10:05 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda pernah tahu apa itu “boyfriend voice?”

Nah. Apa yang Anda rasakan ketika ponsel bordering dan nama si pacar terpampang manis di layarnya.

Pasti nada bicaranya lembut dan halus bukan?

Padahal pada saat yang sama, Anda sedang kesal, marah dan uring-uringan.

Dan pasti Anda akan mengubah nada bicara

Itulah yang dinamakan dengan “boyfriend voice.”

Laman situs “Men’s Health,” dengan nada setengah mengejek menulis kondisi “boyfriend voice,” agak aneh dan sedikit genit.

Apakah Anda sadar melakukan hal ini?

Sebuah sikap spontan berupa penurunan suara jadi lebih halus ini biasanya terjadi secara otomatis.

Akan tetapi, jangan takut, Anda bukan satu-satunya yang melakukan hal ini. Teman Anda juga melakukannya secara tak sadar saat menjawab panggilan telepon dari kekasihnya.

Menurut David Puts, Ph.D, associate professor of anthropology di Penn State University mengungkapkan bahwa ini adalah sebuah respon evolusioner dari pria untuk menjawab dengan tenang dan menurunkan tingkat suaranya ketika bicara dengan lawan jenisnya.

“Dia secara tidak langsung menyampaikan kelembutan, kepercayaan dan menurunkan agresivitas,” kata Puts.

“Boyfriend voice Anda mungkin terdengar mengganggu untuk teman-teman pria Anda. Hal ini karena mereka mengenali suara ini sebagai suara feminin.”

Ketika seorang pria ingin merasa lebih dominan secara fisik terhadap pria lainnya dia akan menurunkan nada suaranya.

Sama halnya seperti binatang yang mungkin akan membusungkan bulu dadanya saat bertarung agar terlihat lebih besar dan mengancam.

Kasus lainnya bisa juga terjadi pada lelaki kala mengubah nada suaranya dari tinggi dan rendah ketika bicara dengan perempuan.

Nada suara naik dan turun seperti gaya bernyanyi ini merupakan pendekatan yang memungkinkan Anda untuk memberikan sinyal maskulin sekaligus kelembutan pada lawan ini.

Hal ini merupakan hasil dari sebuah studi di Kolombia. Mereka menganalisa suara pria ketika bicara dengan perempuan cantik.

Penulis Juan David Leongomez Ph.D juga mengungkapkan bahwa nada suara yang naik turun seperti gaya bernyanyi ini dianggap lebih menarik dari suara yang datar.

Kenapa sebuah hubungan bisa gagal?

Pekerjaan yang penuh tekanan, atau kurangnya waktu bersama pasangan, barangkali adalah alasan-alasan yang kerap kita temui dari gagalnya hubungan.

Kerap kali karena pasangan juga kurang berterimakasih, atau setidaknya mereka berpikir pasangan mereka tidak berterimakasih.

Dilaporkan oleh Independent, berdasarkan studi terbaru dari Universitas Georgia, mengucapkan terimakasih lebih sering dapat menyelamatkan pernikahan Anda.

Pada dekade terakhir ini, banyak penelitian melaporkan, rasa bersyukur berperan besar dalam kesejahteraan mental dan fisik.

Para psikolog menemukan, orang-orang yang fokus pada hal-hal yang mereka syukuri dilaporkan merasa lebih puas, optimis, dan bahkan berolahraga lebih sering dibandingkan rekannya yang tidak bersyukur.

Studi terbaru yang dilakukan oleh Ted Futris dan Allen Barton menemukan, rasa bersyukur adalah alat prediksi terbaik kualitas pernikahan pada pasangan dari berbagai usia dan latarbelakang sosial ekonomi.

Pasangan yang lebih berterimakasih terhadap satu sama lain dilaporkan memiliki hubungan yang lebih dekat, lebih berkomitmen, dan memiliki kepuasan hubungan timbal balik lebih besar.

Untuk melakukan studi, peneliti menyeleksi 468 individu yang telah menikah lewat proses wawancara telepon.

Responden diminta menyelesaikan survei tentang kesejahteraan keuangan, kebiasaan berkomunikasi, ekspresi berterimakasih pasangan, dan kualitas pernikahan secara keseluruhan.

Para peneliti menemukan bahwa masalah dalam komunikasi meningkat dengan tekanan keuangan yang lebih tinggi, dan kerap dihubungkan dengan rendahnya kepuasaan pernikahan.

Namun, rasa syukur, terutama yang diukur ketika individu merasa dihargai oleh pasangannya, dapat membalik kondisi tersebut dan mengatasi masalah komunikasi.

Para peneliti mengatakan, rasa berterimakasih dapat menangkal efek negatif konflik antara pasangan, terutama jika berhubungan dengan tekanan keuangan.

Komentar