Gempa Nepal Memicu Gempa Padang”

Penulis: Darmansyah

Selasa, 5 Mei 2015 | 16:47 WIB

Dibaca: 2 kali

Apakah potensi gempa di Padang berkaitan dengan lindu di Nepal?

Apakah setelah Nepal akan menyusul Padang?

Ini pertanyaan mengusik dan menjadi rumor di kalangan ilmuwan, walau pun di bantah oleh Danny Hilman, ahli kegempaan, dari ITB, dal;am berbagai wawancaranya.

Ya. Gempa Nepal memang telah terjadi di Sabtu pagi, 25 April 2015 menjelang siang waktu setempat.

Nepal berguncang hebat.

Gempa itu berkuatan tujuh koma sembilanskala Richter. Gempa darat.

Dan seorang juranlis di Nepal, seperti yang ia tulis di BBC, mengungkapkan, “Adik lelakiku sontak menghentikan goyangan ngawurnya, mengikuti lagu Coco yang dinyanyikan OT Genasis.”

“Ia lalu berteriak, ‘Bhuichaalo’.”

Bhuichaalo adalah istilah gempa dalam Bahasa Nepal.

Lantas, kaca-kaca berguncang keras, berontak dari rangkanya, dan pecah membentur dinding. Prang!
Suaranya yang keras bercampur dengan teriakan orang-orang yang panik dan tembok yang menyusul ambrol.
Hanya dua puluh detik. Tapi ia terasa abadi.

Iya juga, gempa besar akan mengguncang Nepal sejatinya telah diprediksi. Namun, para ilmuwan mungkin tak mengira, kejadiannya akan secepat itu.

Begitu juga dengan gempa Padang, yang belum terjadi, tapi sudah di prediksi oleh ilmuwansebagai gempa yangt dahsyat, nantinya..

Tapi entah kapan ia akan mengguncang.

Tentang gempa Nepal sendiri, sebelumnya, 12 Maret 2015, sebuah artikel muncul di jurnal Lithosphere.

Salah satu penulisnya, Kristin Morell, dari University of Victoria, Kanada, membeberkan hasil kajian mereka terhadap data historis dan jejak-jejak seismik di sekitar Himalaya.

Ini yang mereka tulis di jurnal ilmiah tersebut. “Central seismic gap atau kawasan aktif secara tektonik namun jarang terjadi gempa dalam jangka waktu yang lama sepanjang tujuh ratus kilometer kawasan Himalaya Front belum pecah dalam gempa bumi besar selama dua ratus hingga lima ratus tahun terakhir.”

Di balik ketenangan di zona seismik itu, kata mereka, tersimpan potensi bencana besar bagi sepuluh juta manusia yang menghuninya. Bahwa gempa skala dahsyat, lebih dari delapan skala Richter bisa saja melanda. Entah kapan.

“Meski hipotesis ini masih spekulatif. Namun, hal tersebut didukung catatan sejarah seismik,” demikian kesimpulan yang mereka tulis dalam artikel tersebut, seperti dimuat situs Eurasia News.

Fakta lain yang menarik, tiga minggu sebelum gempa, para ilmuwan mempresentasikan temuan mereka di Kongres Geologi Nepal. Namun mereka tak bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi.
Pertanyaannya kemudian, bisakah gempa diprediksi?

“Misalnya, ada sepuluh gempa besar dalam kurun waktu sepuluh ribu tahun, kita bisa membuat rata-rata dari data itu. Namun, kapan waktunya tak bisa diprediksi,” kata Laurent Godin, dosen geologi di Queen’s University sekaligus ahli Himalaya.

Godin berharap, suatu saat nanti tersedia metode untuk memprediksi gempa. Para koleganya saat ini sedang menelaah jejak-jejak kimiawi di air bawah tanah – untuk menguak kapan Bumi menjadi tak stabil.
Dan pertanyaan serupa muncul lagi.

“Bisakah kita memprediksi gempa?

Jawabannya adalah tidak,” kata Peggy Hellweg, manajer operasi Laboratorium Seismologi University of California, Berkeley.

“Namun, masalah yang tak kalah penting soal gempa bumi — juga masyarakat pada intinya — adalah: orang lupa mereka perlu bersiap.”

Gempa di Lembah Kathmandu sudah lama jadi sumber kekhawatiran besar. Tak hanya karena ia berada di antara dua sesar yang aktif bergerak. Kondisi manusia yang tinggal di sana menjadikannya lebih parah.

Guncangan gempa dengan kekuatan yang sama bisa membawa akibat berbeda sejumlah wilayah di muka Bumi.
Tergantung konstruksi bangunan dan populasi yang ada di sana.

Dan, ketidakpastian terkait gempa Nepal Sabtu lalu kian menyakitkan. Sebab, para ilmuwan memprediksi: itu bukan yang terburuk…

Gunung Himalaya di perbatasan Nepal adalah hasil saling dorong yang tak berujung antara lempeng tektonik Eurasia dan India, fenomena alam yang bisa berujung pada malapetaka.

“Efeknya membuat gempa Nepal makin cepat datangnya,” kata Profesor Roland Burgmann dari Department of Earth and Planetary Science, University of California, Berkeley.

Namun, tak ada yang bisa memastikan, segmen tersebut runtuh dalam hitungan hari, bulan, tahun, atau dekade…

Gempa tujuh koma delapan yang mengguncang 25 April 2015 baru melepaskan tekanan di sepanjang hanya satu segmen lempeng tektonik di batas antara Kerak Benua India dan Asia.

Gempa yang lebih besar bisa mengguncang di sebelah barat atau timur episentrum gempa tersebut.
Salah satunya di wilayah Bhutan.

“Bahaya belum berlalu,” kata Kristin Morell dari University of Victoria, Kanada. “Himalaya adalah sabuk pegunungan yang sangat panjang dan ketegangan (strain) masih terus terbangun di kawasan lain, dari Pakistan hingga timur Tibet.”

Pusat gempa Nepal saat ini berada di sepanjang salah satu dari bagian sangat miring.

Segmen raksasa itu punya potensi memicu gempa yang lebih besar dari yang diperkirakan. Hasil penelitian tersebut dimuat dalam sebuah makalah di Geophysical Research Letters.

“Jika gempa besar mengguncang Bhutan, bisa jadi kekuatannya lebih besar dari lindu yang mengguncang Nepal,” kata salah satu penulis studi Rodolphe Cattin, ahli geofisika dari University of Montpellier, Prancis.

Nah. Tak kalah hebatnya, kala di sebuah malam yang tenang berubah jadi huru hara, Minggu 25 November 1833 sekitar pukul 22.00 WIB.

Kala itu, lindu dengan kekuatan delapan koma delapan hingga sembilan koma dua skala Richter mengguncang, pusatnya berada di lepas pantai barat Andalas.

Penyebabnya adalah pecahnya segmen palung Sumatera sepanjang seribu kilo meter.

Lindu dirasakan kuat di Padang, Sumatera Barat. Awalnya, getaran dianggap biasa. Namun, disusul guncangan kencang.

Di luar, ahli gempa, Stumpff menuliskan, orang-orang panik merasakan bumi yang berguncang di bawah kaki mereka.

“Diterangi cahaya rembulan, ada yang melihat bangunan dan pepohonan bergetar hebat, semburan air muncul di antara retakan tanah dengan kekuatan hebat, sungai-sungai luber, lautan menggelegak.”

Dr. A.F.W. Stumpff mencatat, pada Agustus, September dan Oktober terpantau terjadi panas dan kelembaban ekstrem.

“Sementara di hari gempa terjadi ia menuliskannya pada tanggal 24 November 1883 ditandai dengan keheningan yang mendalam seluruh alam. Yang tidak disadari banyak orang.”

Peristiwa tersebut hanya terjadi tiga menit, namun dampaknya luar biasa. Gempa memicu terjadinya tsunami yang menerjang pesisir barat Sumatera dengan wilayah terdekat dari pusat gempa adalah Pariaman hingga Bengkulu.

Tsunami juga menyebabkan kerusakan parah di Maladewa, Sri Lanka, dan Seychelles.

Gelombang raksasa juga dilaporkan mencapai Australia bagian utara, Teluk Benggala, dan Thailand meskipun dalam intensitas kecil.

Bencana pada 1883 yang berpusat di wilayah Sipora didahului gempa besar pada di wilayah Siberut
Lindu terjadi di Zona Megathrust Mentawai yang kini termasuk zona seismic gap atau daerah jarang gempa atau yang sudah lama tidak mengalami gempa besar.

Gempa besar di zona subduks Mentawai selalu berulang mengikuti siklus dua ratus tahunan. Dan seperti halnya di Nepal, sejarah bencana akan berulang.

Ini telah lama diprediksi: gempa dengan kekuatan hingga delapan koma sembilan skala Richter akan mengguncang Mentawai.

Lindu yang memicu tsunami itu dinilai mengancam satu juta lebih penduduk di Padang, Pariaman, Painan, dan wilayah lain di Sumatera Barat serta Bengkulu.

Potensi gempa Sumatera Barat kembali diingatkan oleh Brian Tucker, Presiden GeoHazards. GeoHazard adalah lembaga nonprofit asal California yang mengkampanyekan pengurangan risiko bencana alam di daerah-daerah paling rawan di dunia.

Tucker mengatakan, Amerika Serikat, Selandia Baru, Jepang, Turki, khususnya Istanbul, juga Chile adalah negara-negara berpotensi gempa.

Namun persiapan telah dilakukan matang. Dari sisi konstruksi bangunan hingga mengedukasi masyarakat tentang mitigasi menghadapi bencana.

Namun, tidak di negara-negara lain. “Ini akan membuat orang begidik. Bayangkan, apa yang akan terjadi jika gempa mengguncang Teheran, Iran; Karachi, Pakistan; Padang, Indonesia; atau Lima, Peru,” kata dia seperti dikutip dari TIME.

“Jika Anda bertanya, di mana gempa besar berikutnya akan terjadi, bukti yang paling kuat mengarah ke lepas pantai Sumatera,” kata dia.

Pada 26 Desember 2004, gempa dengan kekuatan sembilan koma satu skala Richter mengguncang Samudera Hindia. Di ujung barat laut Sumatera.

Gempa memicu tsunami tiga puluh meter, menghantam Aceh, Thailand, Sri Lanka, India, Maladewa, dan pesisir timur Afrika.

Jutaan liter air laut tumpah ke daratan. Lebih dari dua ratus tiga puluh ribu nyawa melayang atau dinyatakan hilang.

Menjadi salah satu bencana terdahsyat di Abad ke-21

“Padang jauh lebih kecil daripada Kathmandu sehingga tidak akan menciptakan kekacauan ekonomi atau politik yang sama jika gempa mengguncang Teheran, Karachi, atau Istanbul. Namun, kekuatan gempa yang bisa memicu tsunami bisa berakibat pada malapetaka.”

Tucker menyebut, gelombang urbanisasi dari daerah pedesaan ke kota-kota di seluruh dunia berujung pada pembangunan fisik yang mengabaikan kualitas dan daya tahan terhadap gempa. “Tak ada sumber daya untuk membangun kembali semua sekolah, rumah sakit, rumah, dan apartemen sesuai dengan standar bangunan yang baik,” kata dia.

Apakah potensi gempa di Padang berkaitan dengan lindu di Nepal?

Diwawancarai terpisah, pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Dr Danny Hilman mengatakan, tidak.

“Memang secara regional terkoneksi, ada lingkaran perputaran energi. Tapi itu jauh sekali. Terpisahnya sampai ribuan kilometer. Sedangkan pergerakan lempeng kemarin hanya beberapa meter. Jadi tak benar gempa besar di Nepal bisa memicu gempa di Indonesia,” kata Hilman

“Kalaupun ada gempa di Padang, itu karena memang siklusnya,” tambah dia. Danny menambahkan, prediksi gempa di Megathrust Mentawai memang belum terjadi.

“Megathrust terbentang di pantai barat Sumatera, mulai Andaman, Aceh, Nias, sampai Selat Sunda, Jawa, Bali, Lombok,” kata Danny.

“Di Sumatera, Aceh sudah lepas energi yang tertahan alias gempa, Nias sudah lepas, Bengkulu sudah lepas. Mentawai belum lepas,” kata dia.

“Tingkat energi di Mentawai sudah penuh, sudah di akhir siklus. Secara teoritis bisa terjadi sekarang atau besok…”

Komentar