Fatin Shidqia Selain Milik “Hijabers” Tetap Didukung Penggemar “Militan”

Penulis: Darmansyah

Rabu, 29 Mei 2013 | 10:54 WIB

Dibaca: 2 kali

X-Factor Indonesia telah melahirkan seorang “bintang.” Dialah Fatin Shidqia Lubis. Kisahnya usai X-Factor Indonesia belum berhenti. Selain sudah memiliki jadwal menyanyi yang padat, usai menjuarai ajang musik paling heboh itu, Fatin juga di”buru” rumah mode untuk dijadikan label busana dan aksesori.

Fatin kini dielu-elukan oleh kaum “jibaers,” para wanita yang mengenakan hijab dan pakaian yang tertutup, serta mulai diminta untuk tidak meninggalkan cara berpakaiannya yang sangat muslimah dan sangat modern itu. Mereka meminta Fatin untuk tampil “gaya” disetiap aksi panggungnya untuk menjadi contoh di kalangan anak muda dan ibu-ibu.

Gadis remaja 16 tahun, duduk di bangku kelas 2 SMA, seorang hijabers I belum punya pengalaman manggung, lugu serta pembawaan malu-malu, dan dalam sekejap menjadi juara X Factor Indonesia musim pertama. Itulah gambaran seorang Fatin Shidqia Lubis, juara X Factor Indonesia generasi yang pertama.

Selain memiliki karakter suara yang unik, salah satu senjata Fatin dalam memperoleh gelar juaranya adalah penggemar yang tergalang dalam wadah Fatinistic yang selalu mendukung Fatin, baik lewat SMS ataupun support langsung saat sang idola tampil di panggung.

Mereka bahu-membahu berkorban demi Fatin hingga perolehan vote SMS dari pemirsa melambung tinggi. Fatin hanya satu kali masuk bottom two di Gala Show 11 bersama Mikha Angelo. Namun, Mikha yang akhirnya kalah.

Salah satu Fatinistic bernama Sandy saat berbincang dengan Okezone di Jakarta, dirinya bercerita bagaimana menggalang teman-teman sesama Fatinistic mengumpulkan uang kas untuk membeli pulsa demi bisa mengirim SMS sebanyak-banyaknya kepada Fatin.

“Voting paling pertama, kita juga adain uang kas untuk voting, kita kumpulin seikhlasnya,” kata Sandy koordinator Fatinistik saat dijumpai di Jakarta.

Fatinistic sendiri kini sudah tersebar sejak Fatin heboh melantunkan lagu “Granade”-nya Bruno Mars saat audisi. Dari mulai Pulau Sumatera hingga Papua sudah diduduki Fatinistic.

Bahkan, salah anggota Fatinistic asal Kuningan bernama Yayan mengaku sampai rela menjual sepatu demi modal menonton langsung Fatin di panggung Result Show di Hall D JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Jumat 24 Mei lalu.

“Saya sampai bela-belain jual sepatu, belum pernah saya jual sepatu” katanya. Tak sia-sia usaha Yayan, karena idolanya menang mengalahkan Novita Dewi.

Mereka pun sudah seperti garda penyelamat Fatin kala dihujat habis-habisan di dunia maya, puncaknya saat Fatin lupa lirik melantunkan lagu “Everything at Once” milik Lenka.

Lengkap sudah apa yang dibutuhkan Fatin sebagai selebriti, ia punya karakter, kemampuan bernyanyi, jam terbang juara X Factor, dan penggemar setia. Selama penggemar masih hidup, pemilik debut single “Aku Memilih Setia” itu tetap eksis.

Seberapa pentingkah peran fans club dalam mempertahankan eksistensi musisi dalam dunia musik? Terkadang kita kerap melupakan bahwa seorang musisi atau band bisa terus eksis dalam dunia musik lantaran peran fans club.

Band Padi sudah beberapa tahun terakhir vakum, akan tetapi fans club mereka bernama Sobat Padi ternyata tidak pernah vakum, mereka bahkan berinisiatif untuk mengadakan reuni band Padi di Yogyakarta bulan lalu, hal ini membuktikan bahwa Sobat Padi masih solid.

“Kemarin terus terang saja ketemu itu kita merasa terharu dengan kita datang lagi, kumpul lagi, terharu juga sama fans, ternyata fans begitu hebat, walau bandnya enggak ada, fansnya terus ada, kita terharu ya,” kata Ari gitaris band Padi di Pondok Indah Plaza, Jakarta Jumat (24/05/2013) lalu.

Fans club atau komunitas penggemar memang memiliki kekuatan tersendiri untuk membangun dan membuat musisi menjadi terus eksis, fans club terkadang juga menjadi faktor utama kesuksesan musisi didunia musik.

Kita tentu ingat bagaimana Fatinistic mampu membawa seorang Fatin Shidqia remaja 16 tahun yang belum pernah pernah tampil di panggung atau ikut festival tiba-tiba menjadi juara X Factor Indonesia mengalahkan Novita Dewi yang memiliki jam terbang di dalam hingga luar negeri.

Fatinistic juga diisi oleh penggemar militan, seperti Sandy salah satu penggemar Fatin yang ditemui mengatakan, dirinya bersama teman-temannya rela mengumpulkan uang kas untuk mengirim SMS kepada Fatin.

“Voting paling pertama, Kita juga adain uang kas untuk voting, kita kumpulin Seikhlasnya” Ujar Sandy saat dijumpai di Jakarta.

Jangan juga lupakan dua fans club terbesar Indonesia, seperti Slanker, merupakan fans club-nya band Slank dan juga Oi (Orang Indonesia) fans club-nya Iwan Fals. Kita tentu sudah sama-sama mengetahui loyalitas mereka terhadap sang artis yang membuat Slank dan juga Iwan Fals sampai detik ini terus eksis di kancah musik Indonesia meski acapkali dilarang tampil oleh pihak keamanan.

Oleh karena itu, jangan pernah remehkan peran fans club dalam industri musik. Jika anda ingin eksis dalam industri musik sebagai seorang artis atau band, maka bangunlah fans club yang loyal dan memiliki kuantitas anggota yang banyak, maka eksistensi bisa anda dapatkan.

Komentar