Bob Dylan Melecehkan Hadian Nobel

Penulis: Darmansyah

Senin, 24 Oktober 2016 | 15:06 WIB

Dibaca: 0 kali

Bob Dylan, seperti ditulis “bbc,” hari ini, Senin, 24 Oktober 2016, dituding sebagai melecehkan hadiah Nobel atas sikapnya yang pasif  dan tidak menghiraukan panggilan panitia Nobel serta bungkam atas pemberian hadiah yang sangat prestise di dunia itu.

“Sikap penyanyi dan penulis lagu Bob Dylan yang terkesan mengabaikan penghargaan Nobel Sastra yang diraihnya, dianggap sebagai sikap “sombong dan tidak sopan,”tulis “bbc.”

Ketika diumumkan sebagai pemenang Nobel Sastra pekan lalu, legenda musik berusia tujuh puluh lima tahun itu sejauh ini belum menyatakan sikapnya di hadapan publik.

Berulangkali dihubungi akademi Nobel, musisi asal Amerika Serikat itu tidak memberikan tanggapan.

Saat ditanyai media, pria yang terlahir dengan nama Robert Allen Zimmerman ini juga tidak berkomentar apapun terkait penghargaan bergengsi itu.

Pada Selasa pekan lalu, informasi terkait penghargaan Nobel Sastra juga telah dihapus dari situs resmi milik Dylan.

“Dia adalah siapa dia,” kata anggota Akademi Swedia, Per Wastberg menanggapi sikap diam Dylan itu.

Wastberg kemudian menambahkan, sikap Dylan yang mengabaikan pemberitaan terkait hadiah Nobel itu tidak begitu mengejutkan.

“Kami menyadari dia tidak suka tampil di atas panggung,” katanya kepada surat kabar Dagens Nyheter Swedia dalam wawancara terpisah.

Terdapat sejumlah peraih Nobel yang tidak datang untuk menerima hadiahnya, misalnya Elfriede Jelinek pada dua belas tahun silam karena sejumlah alasan.

Sementara, Harold Pinter dan Alice Munro tidak menghadiri upacara serupa karena alasan kesehatan.

Adapun sastrawan Boris Pasternak menolak hadiah Nobel sastra karena tekanan rezim Soviet, dan sikap penolakan ditunjukkan pula oleh penulis Jean-Paul Sartre.

Dalam perjalanan karier musiknya, Dylan telah menerima sejumlah penghargaan, di antaranya penghargaan Pulitzer.

Pada enam belas tahun silam, dia juga telah menerima penghargaaan Polar

Empat tahun lalu, dia menjadi salah satu tokoh sipil yang dianugerahi gelar dan tanda kehormatan tertinggi di Amerika Serikat, Medal of Freedom.

Menanggapi sikap “diam’ Dylan itu, anggota Akademi Swedia, Per Wastberg mengatakan kepada televisi Swedia: “Dia adalah siapa dia”.

Dia kemudian menambahkan sikap Dylan yang mengabaikan pemberitaan terkait hadiah Nobel itu tidak begitu mengejutkan.

“Kami menyadari dia tidak suka tampil di atas panggung,” katanya kepada surat kabar Dagens Nyheter Swedia dalam wawancara terpisah.

Sejauh ini belum diketahui apakah Dylan akan melakukan perjalanan ke Stockhlom, Swedia, untuk menerima penghargaan itu pada 10 Desember nanti.

Jika dia tidak menghadirinya, menurut Wastberg, upacara pemberian hadiah Nobel terhadap Dylan tetap akan digelar.

Bob Dylan sendiri adalah musisi pertama yang meraih hadiah Nobel di bidang tersebut.

Dylan sangat tidak responsif dengan penghargaan yang diberikan kepadanya.

Pihak Bob bahkan belum bisa dihubungi terkait awards yang diberikan.

“Tidak tahu apakah ini bisa disebut tidak sopan atau arogan. Dia ya dia,” ungkap Per, sebagaimana dilansir dari AceShowbiz.

Berbagai usaha telah dilakukan penyelenggara untuk menyampaikan kabar ini pada Bob Dylan, mulai dari mention akun Twitter dan Facebook, hingga menghubungi lewat website.

Namun hingga saat Bob sama sekali belum memberikan respon.

Dylan diganjar nobel bukan karena beliau doyan update puisi di media sosial.

Ia mengingatkan kita pada sesuatu yang asali: kebersatuan musik dan sastra, mirip-mirip dengan ‘Nada dan Dakwah’.

Puisi-puisinya adalah medium berbahasa dalam musik Dylan.

Kalau dipikir-pikir, apa yang dilakukan Dylan untuk khazanah sastra bukan sekadar memilah dan memilih kata-kata indah. Gaby Wood dari The Telegraph pernah bilang, “Semangat politiknya melebihi Alice Munro dan memberi pengaruh global melampaui, katakanlah, Tomas Transtromer.”

Namun, kritikan memang selalu ada. Menanggapi itu, Komite Nobel menyatakan bahwa Dylan adalah orang yang telah mengeluarkan banyak album, yang membahas tema-tema seperti kondisi sosial manusia, agama, politik, dan cinta.

Komentar