Adele Akan Jadi Legenda Masa Depan

Penulis: Darmansyah

Rabu, 22 Februari 2017 | 09:30 WIB

Dibaca: 0 kali

Setelah meraih  lima piala Grammy, pekan lalu, penyanyi Adele kembali dilimpahi  penghargaan lain berupa legenda masa depan.

Pelantun Hello itu,  menurut laporan Ace Showbiz, berhasil meraih predikat legenda masa depan lewat survei yang dilakukan oleh Mastercard.

Sebanyak lima puluh persen dari publik Inggris yang disurvei memilih Adele untuk itu.

Menariknya, dalam survei itu lagi-lagi Adele dan Beyonce harus bersaing ketat seperti dalam Grammy.

Tapi Adele kembali ‘memenangi’ persaingan, membuat Beyonce ada di posisi ke-dua sebagai legenda musik masa depan yang akan bertahan, berkat dipilih tiga puluh dua persen suara.

Deretan nama musisi seperti Coldplay, Rihanna, Taylor Swift, dan Ed Sheeran juga berhasil masuk sepuluh besar bersama Lady GaGa, Justin Timberlake, Bruno Mars, dan Robbie Williams.

Sementara itu, mendiang David Bowie terpilih sebagai musisi paling ikonis dalam sejarah pop. Penyanyi rock legendaris itu menempati posisi nomor satu di antara The Beatles, Queen, Elvis Presley, dan Michael Jackson, yang juga berada dalam lima besar.

“Ikon musik mendatang yakni seperti Ed Sheeran, Adele dan Beyonce telah memiliki sifat-sifat penting yang sama seperti David Bowie dan The Beatles dengan keberhasilan global,” kata Nicola Hibah, selaku Kepala Pemasaran Mastercard untuk Inggris dan Irlandia.

Dia menambahkan, “Menyanyi dan menulis lagu jelas merupakan seni abadi dan berbicara untuk dirinya sendiri. Orang-orang terhubung dengan itu, itu sisi yang berharga dalam musik.”

Hasil jajak pendapat itu sendiri dirilis menjelang  BRIT Awards, yang akan berlangsung pada Rabu ini  di London.

Bahkan Adele, yang meraih penghargaan Album of the Year pada Grammy Awards , tak percaya kalau Lemonade milik Beyonce tak mendapat satupun tiga penghargaan bergengsi yakni album, lagu dan rekaman terbaik.

Lemonade memenangkan kategori lainnya yakni Best Urban Contemporary Album. Kemenangan ini, dan kekalahan di kategori bergengsi menimbulkan banyak spekulasi dan sejumlah teori.

Di antaranya, seperti dilansir The Rolling Stone, para pemilih yang memberi suara pada pemenang Grammy Awards didominasi kulit putih, dan laki-laki.

Bisa jadi tidak sepenuhnya jadi alasan, tapi Beyonce cukup vokal menyuarakan ketidaksukaannya pada Trump dan terang-terangan menyuarakan pendapatnya akan kebanggaan pada kulit hitam, dan memberi suara pada wanita Afrika-Amerika.

Khususnya di lagu Formation, ia menyebutkan dengan lugas: “I like my Negro nose with Jackson 5 nostrils.”

Merunut rekam jejaknya, musisi kulit hitam ‘berjuang keras’ meraih penghargaan bergengsi di AS.

Secara lima tahun berturut-turut, seperti dilansir USA Today, Adam Lewis lewat ciutan di akun Twitter-nya mengungkapkan musisi kulit hitam hampir selalu ‘kalah’ dalam penghargaan bergengsi Album of the Year.

Tidak hanya itu, rata-rata pemilih penghargaan Grammy Awards berusia tua. Alasan usia ini menjadi penting mengingat Adele adalah pilihan mereka yang lanjut usia, dibanding memilih Beyonce.

Beyonce mestinya menang karena lagunya penting secara budaya dan lebih inovatif.

“Sementara, Adele kita pernah melihat karyanya sebelumnya, akan tetapi bagaimanapun para pemilih rata-rata berusia tak lagi muda, dan Adele adalah pilihannya,” ungkap salah satu pemilih. Memberikan penghargan ke Adele dianggap sebagai pilihan aman dibanding Beyonce.

Di luar dua teori itu, ada yang menyandarkan pilihan pada sukses secara komersil. Album 25 Adele ditengarai lebih sukses dengan dua puluh  juta kopi terjual di seluruh dunia, sementara Lemonade hanya dua juta kopi.

Meskipun Beyonce secara budaya lebih penting dibanding Adele pada tahun lalu, dengan imej video album Lemonade, tampil di panggung kampanye Hillary Clinton, dan perolehan tur ratusan juta dolar AS, Adele lebih menonjol buat publik.

Di samping itu, Adele melakukan penjualan albumnya dengan cara yang konvensional. Ia menolak penjualan streaming beberapa bulan setelah albumnya keluar, akan tetapi justru laris secara mengejutkan.

Sementara, kontras dengan Beyonce yang merilis Lemonade langsung streaming eksklusif lewat Tidal, lalu Spotify dan Apple Music.

Ada juga yang berpendapat bahwa perolehan suara yang terbelah. Beyonce bersaing dengan album Purpose Justin Bieber dan Views milik Drake untuk kategori musik pop dan hip-hop.

Adele mendapatkan porsi lebih besar, dan tidak akan terkalahkan dibanding album A Sailor’s Guide to Earth milik Sturgill Simpson, pesaing di kategori Album of the Year lainnya.

Kekalahan Beyonce tahun ini di Grammy Awards masih akan jadi perbincangan. Apalagi mengingat, Adele yang juga dengan terang-terangan mengagumi Beyonce, dan merasa Lemonade lebih pantas menang dan meraih Album of the Year

Neil Portnow, Presiden Recording Academy yang juga penyelenggara Grammy Awards, membantah tudingan yang menyebut adanya pertimbangan ras dalam pemilihan pemenang penghargaan.

Bantahan ini ia sampaikan terkait banyaknya rumor dan tudingan yang mengarah pada penyelenggara Grammy, khususnya atas kekalahan Beyonce yang sudah tiga kali berturut-turut di kategori bergengsi Album of the Year, serta kritikan yang disampaikan Frank Ocean.

“Sama sekali tak ada persoalan ras dalam pemberian penghargaan, ini selalu objektif akan kreativitas, bukan subjektif, yang mana seni dan musik menjadi lebih utama. Kami lakukan yang terbaik yang kami bisa lakukan,” ujarnya seperti dilansir NME.

Seperti dilaporkan sebelumnya, kekalahan Beyonce dalam kategori bergengsi Album of the Year kali ini dari Adele (25) menjadi kekalahannya yang ke-tiga, setelah pada dua kali nominasi sebelumnya ia kalah dari Taylor Swift lewat Fearless dan Beck lewat Morning Phase. 

Kekalahan itu kemudian meluas dengan adanya spekulasi bahwa selain Beyonce, sejak lima tahun terakhir penghargaan Album of the Year selalu tak pernah jatuh pada musisi kulit hitam. Selain Beyonce, Frank Ocean juga disebutkan kalah dari Mumford & Sons. Di samping itu, Kendrick Lamar kalah dari Taylor Swift.

Terkait ini, Portnow menambahkan, musisi tidak mendengar musik berdasarkan gender, ras ataupun etnis. “Ketika akan memberikan suara atau pendapat akan musik, mata tertutup dan telinga lah yang mendengar,” tambah dia.

“Kami berdiri seratus persen di balik proses yang demokratis. Jadi setiap orang berkemungkinan meraih Grammy, bisa juga tidak. Kompetisi sangat ketat,” katanya.

Ketika ditanyai akan Grammy yang ‘sangat putih’ seperti klaim yang pernah tertuju ke Oscar, Portnow mengatakan penyelenggara Grammy tidak seperti itu.

“Kami tidak memiliki masalah itu sama sekali, akan tetapi kami selalu bekerja dalam proses keberagaman keanggotaan, apakah itu dari berbagai usia, gender, etnis, dan juga genre,” ujarnya.

Untuk mempertahankan relevansi, kata dia, keanggotaan Recording Academy juga terus diperbaharui secara terus menerus.

“Tidak akan mungkin Chance the Rapper menjadi Pendatang Baru Terbaik jika keanggotaan tidak beragam dan berpikiran terbuka, serta benar-benar mendengarkan kualitas bermusiknya,” ujar dia  merujuk pada penyanyi kulit hitam yang sedang naik daun itu.

Terkait kritik tajam Frank Ocean terhadap Grammy, Portnow menanggapi bahwa tidak mengirimkan album ke Grammy adalah keputusan Ocean sendiri.

“Saya pikir itu pilihan yang sangat pribadi. Tidak semua orang ingin menjadi bagian dari setiap organisasi atau proses pemberian penghargaan. Saya menghargai itu,” ujarnya.

“Yang saya katakan tentang Frank adalah apa yang ia lakukan di awal kariernya, kami menyambut baik dan senang ia pernah meraih Grammy, dan senang pernah menampilkannya di atas panggung Grammy. Sesuatu yang kami bangga, dan mungkin kini ia merasakan hal berbeda,” ujarnya.

Portnow menambahkan, musisi kadang berubah pikiran.

“Saya tidak akan keberatan dengan pilihannya sama sekali, dan mari kita lihat sama -sama apa yang akan terjadi di masa mendatang,” ujarnya.

Komentar