Van Gaal Masih “Diktator” di Old Trafford

Penulis: Darmansyah

Senin, 7 Desember 2015 | 15:50 WIB

Dibaca: 0 kali

Manchester United memastikan tidak akan mendepak Louis van Gaal sebelum kontraknya berakhir di dua musim mendatang, dan akan memberinya dana belanja dua ratus juta poundsterling untuk membeli pemain pada musim panas mendatang

Media Inggris terkenal “The Sun,” dalam laporan edisi Seninnya, 07 Desember 2015, mengaitkan pernyataan United itu yang tidak akan mendatangkan Pep Guardiola dan tetap mempercayai Van Gaal di Old Trafford walaupun badai tekanan kian meningkat menyusul gaya bermainnya yang dicap membosankan.

Untuk memecahkan kebuntuan gol di musim panas nanti, United kabarnya memasukkan nama Cristiano Ronaldo dalam daftar belanja, selain ada Gareth Bale, Neymar, Thomas Muller dan Robert Lewandowski.

Untuk sementara, tim Setan Merah menempati urutan keempat di tabel klasemen Liga Primer, terpaut tiga poin dari sang pemuncak Leicester City.

Sementara itu, menantang opini publik, Louis van Gaal yakin Man United akan bisa memecahkan kebuntuank gol dalam laga krusial Liga Champions di Volkswagen Arena.

Menurut van Gaal, rendahnya produktivitas gol Manchester United bukanlah suatu persoalan besar.

Gaya bermain The Red Devils di bawah Van Gaal terus menadapat sorotan tajam. Terakhir, dalam laga di Premier League kala menjamu West Ham United di Old Trafford, Sabtu lalu, mereka bermain kacamata.

Itu adalah hasil imbang ketiga berurutan United di semua kompetisi, dan selama rentang itu mereka cuma membuat satu gol!

Tak ayal muncul kekhawatiran jelang laga krusial Liga Champions versus tuan rumah VfL Wolfsburg pada midweek. Tetapi van Gaal yakin kemandulan timnya tidak akan berlanjut di Volkswagen Arena.

“Banyak pemain yang melewatkan kans. Banyak pemain, dan pemain yang berbeda-beda,” katanya di hadapan reporter.

“Kita bisa membuat isu besar dari itu, tetapi saya percaya kita tak perlu melakukannya.”

“Para pemain mengakui mereka harus mencetak gol. Itu isu normal tetapi Anda tak bisa mencetak gol dari setiap kans dan ketika Anda melihat berapa banyak pemain yang mendapatkan kans dalam tim kami, itu bukan orang yang tetap.”

Saat itu, United bahkan mendapati laju empat laga tidak menang dan ditahan imbang lawannya sebanyak empat kali dengan mengemas hanya satu gol.

Ya, Anda tak salah dengar, satu gol!

Setelah tertahan di empat laga tersebut, United memang mampu bangkit dan membukukuan tiga kemenangan beruntun atas CSKA Moskwa, West Bromwich Albion dan Watford.

Namun sejak itu, mereka tampil kurang meyakinkan dan saat ini tengah dalam laju tiga hasil imbang setelah ditahan PSV Eindhoven, Leicester City dan terakhir West Ham.

Dan parahnya, laju buruk tersebut ditambah fakta bahwa mereka kembali hanya mampu mengemas satu gol.
Suporter di Theatre of Dreams kala United seri melawan West Ham tampak frustrasi dengan permainan anak asuh van Gaal.

Mereka bahkan terus-menerus meneriakkan seruan ‘attack, attack, attack’, meski sang meener sudah pernah menekankan bahwa ia tidak tuli.

Ini bukan kali pertama Van Gaal menerima perlakuan seperti itu dari fans, yang sejatinya masih percaya bahwa tangan dinginnya bisa benar-benar menghadirkan keajaiban.

Akan tetapi, keajaiban itu tidak kunjung tercipta lantaran mantan pelatih timnas Belanda itu kerap berbuat dosa dan kesalahan di timnya sendiri.

Seperti diketahui, van Gaal dengan gaya diktatornya langsung ingin menunjukkan bahwa ia yang berkuasa ketika pertama kali tiba di musim panas setahun lalu.

Dengan gampangnya, ia mendepak pemain yang kiranya tidak sejalan dengan filosofinya seperti Shinji Kagawa, yang di musim lalu dilepas kembali ke Borussia Dortmund, meminjamkan Javier ‘Chicharito’ Hernandez ke Real Madrid, hingga menjual pemain penting di era Sir Alex Ferguson layaknya Rafael da Silva ke Olympique Lyon.

Insting van Gaal tak selamanya tajam.

Meski di masa lalu ia pernah melahirkan banyak legenda seperti Edwin van der Sar sampai Xavi Hernandez dan idola Bayern Munich era sekarang Thomas Muller, ia kiranya hanya menilai pemainnya dari pandangan pertama dan tak segan menghukumnya begitu sang pemain berbuat salah.

Kesalahan lain yang dibuat Van Gaal sebenarnya cukup sepele, yakni ia dengan keras kepalanya tidak pernah mau memberi instruksi dari pinggir lapangan seperti pelatih lainnya lantaran ia terlalu percaya diri dengan pengarahannya di ruang ganti.

“Saya tidak melihat adanya pengaruh dari saya ketika saya berdiri di sana dan berteriak,” kata Van Gaal akhir tahun lalu.

“Ppara pemain tidak akan mengerti Anda. Mungkin hanya ada satu pemain yang tahu, atau ketika Anda mengubah satu posisi individu yang juga memberikan pengaruh pada posisi lain. Jadi, makanya saya melatih mereka sepanjang pekan agar pemain bisa membawa situasi.

“Kadang mereka tidak bisa membaca hal itu, tapi kemudian ada jeda laga atau Anda memiliki kesempatan melakukan pergantian pemain. Lalu Anda bisa mengatakan kepada pemain yang masuk mengenai bagaimana mereka harus bermain di posisi mereka.”

“Anda harus bisa mentransfer hal itu. Dengan fans Inggris sering berteriak, mereka takkan memahami Anda. Karena itulah saya selalu di bangku cadangan.

“Anda harus melatih mereka untuk bisa membaca pertandingan sendiri. Jauh lebih penting mereka bisa terlibat dalam pertandingan, mereka untuk bisa membuat keputusan sendiri. Seperti halnya anak kecil, Anda harus mendidik mereka,” tandasnya.

Well, kiranya Van Gaal salah. Ibarat kata murid sekolah yang sudah diberi buku panduan, tidak semua langsung paham dengan mencerna sendiri.

Ada kalanya mereka mengangguk saat diterangkan di kelas, namun ketika ujian sesungguhnya berlangsung, tak jarang ada yang melihat kanan-kiri.

Dengan kata lain, filosofi yang ingin ia terapkan tidak 100 persen bisa ditransfer kepada pemainnya.

Pada pertengahan pekan kemarin, Van Gaal memberi peringatan bahwa ia akan meninggalkan United apabila dirinya tetap tidak bisa melihat penggwa skuatnya sejalan dengan filosofi yang ia imiliki.

“Hal terpenting dalam benak saya adalah sebuah pemahaman searah antara pemain dan pelatih,” tutur Van Gaal dalam jumpa pers sebelum duel melawan West Ham. “Itu penting bagi sebuah tim dan ketika saya merasa mereka mampu melakukannya, maka saya bisa menunjukkan kinerja maksimal.

“Tapi jika tidak, saya orang pertama yang akan pergi karena saya telah membuktikan itu bersama klub-klub sebelumnya.”

“ Fantastis mendengar banyak orang akan berkata ‘Oh, ia sangat baik, membangun pondasi tim’, ketika saya nanti pergi. Jadi saya tekankan, harus ada afinitas dalam tim dan jika tidak, maka saya akan mundur.”

Komentar