Mourinho Tak Memiliki “Rasa” Pemain

Penulis: Darmansyah

Rabu, 20 Maret 2013 | 12:56 WIB

Dibaca: 0 kali

Jose Mourinho adalah pelatih yang hebat. Tapi ia kesepian karena tidak pernah menjalani kehidupan sebagai pemain di level tertinggi. Karir tertingginya di sebuah tim hanya sampai di tingkat liga kelas dua bersama klub Portugal, Rio Eve, di tahun 1980.

Selama tujuh tahun berkutat sebagai pemain tanpa prestasi menonjol, Mourinho memilih karir sebagai staf manajerial klub sepakbola. Ia mendalami manajemen pengolaan klub, menjadi asisten pelatih muda, asisten pelatih dan pelatih di klub setingkat akademi.

Harian sepakbola “Football Espana” yang terbit di Madrid, menggambarkan Mourinho sebagai seorang yang kehilangan sesuatu ketika berada di lapangan. Ia tidak memiliki “insting” sebagai pemain ketika timnya bertanding. Ia mampu membuat analisa dan kebutuhan strategi sebuah pertandingan dengan menyiapkan alternative dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Analisanya sangat tajam. Ia bisa membaca dalam sekejap kebutuhan apa yang akan dikerjakan oleh tim untuk melumat lawan. “Tapi ia tidak peduli dengan perasaan pemain. Ia hanya tahu bagaimana mencapai kemenangan dengan segala kelihaiannya meramu taktik dan strategi. Pola permainan tim yang asuh bisa berubah sesuai dengan kondisi permainan di sebuah pertandingan,” tulis “Espana.”

“Espana” sengaja menurunkan tulisan untuk mengetahui lebih dalam tentang kontroversi yang dimiliki oleh Jose Mourinho ketika menjadi “bossas” di sebuah tim. Menurut “Espana,” Mou bisa sangat dekat sekali dengan pemain yang ia anggap mampu menerjemahkan pemikirannya. Dan pada kesempatan lain ia juga tak mengenal kompromi kalau pendekatan terhadap permainan di langgar.

Kasus Iker dan Ramos di Madrid bisa menjadi indikasi dari sikapnya terhadap anggota tim. Ia bisa tak mendengar nasihat siapa pun kalau itu sudah menjadi keyakinannya. Iker ia bangkucadangkan tanpa alasan yang bisa dibaca oleh publik. “Tapi Mou tahu kenapa Iker di istirahatkan.”

Tentang hubungannya dengan Ronaldo, “Espana” mengatakan ada hubungan batin yang terjalin di antara keduanya. Mereka sama-sama bertempramen Portugal dan terikat jalinan emosional yang kuat. “Tapi ia tidak mengistimewakan Cristiano dalam hubungan dengan tim. Di lapangan pertandingan Ronaldo memang di tempatkan dalam posisi sentral. Namun itu kebutuhan permainan,” tulis “Espana”.

Untuk memberi gambaran yang akurat tentang Mou, “Espana” mewawancarai legenda Barcelona, Johan Cruyff, yang menilai pelatih Real Madrid itu memang merasa ada sesuatu yang hilang dalam karir kepelatihannya. “Mou kehilangan karena tidak pernah bermain di level tertinggi saat berstatus sebagai pemain.”

Mourinho memulai kariernya sebagai pesepak bola di salah satu klub Portugal, Rio Eve, pada 1980. Namun, karena tidak puas dalam tujuh tahun berstatus sebagai pemain, Mourinho lebih memilih beralih ke urusan manajerial klub sepak bola.

Setelah beberapa lama bekerja sebagai asisten manajer dan pelatih tim muda di awal tahun 1990-an, Mourinho menjadi penerjemah bagi Bobby Robson. Mourinho belajar banyak dari Robson di klub besar Portugal seperti Sporting Clube de Portugal, FC Porto, dan klub raksasa Spanyol Barcelona.

Setelah itu kariernya berkembang dan menjadi salah satu pelatih terbaik dunia setelah sukses meraih empat gelar bergengsi di empat liga terbaik Eropa, saat melatih Porto, Chelsea, Inter Milan, dan Madrid. Meski begitu, Cruyff mengaku belum sepenuhnya yakin akan kemampuan melatih Mourinho.

“Mourinho adalah pelatih yang sangat bagus, tetapi dia tidak pernah bermain (di level tertinggi) sehingga dia kehilangan sesuatu, dan itu sangat terlihat. Beberapa orang yang pernah bermain akan bisa melihat hal tersebut. Namun, itu bukan berarti dia (Mourinho) merupakan pelatih yang tidak bagus,” katanya lagi.

Madrid sendiri sukses mengalahkan Barcelona dalam semifinal Copa del Rey dan Liga BBVA beberapa waktu lalu. Meski begitu, Cruyff menilai, hal tersebut bukan merupakan masalah besar bagi Blaugrana.

“Hal itu memang menimbulkan kebingungan belakangan ini karena di dua pertandingan terakhir Madrid (melawan Barcelona) seperti berada di antara hidup dan mati. Namun, sebenarnya Barcelona telah memperbaiki posisi mereka” kata Cruyff.

Komentar