Milan Bantai Barca di San Siro 2-0

Penulis: Darmansyah

Kamis, 21 Februari 2013 | 10:24 WIB

Dibaca: 0 kali

SAN SIRO, Kamis dinihari WIB, menyaksikan kembali  pencapaian bersejarah AC Milan, setelah di laga leg pertama Liga Champions  dengan melukai Barcelona  lewat kemenangan 2-0, dan menjadi kunci bagi “I Rossoneri  untuk melangkah ke panggung persaingan klub Eropa.

Milan yang lolos ke-16 Besar Champons berkat keberuntungan, setelah Malaga “memberi” angka seri di pertandingan terakhir grup, memang  bukan tim unggulan di laga “sudden death” ini. Mereka datang ke laga bersejarah ini dengan langkah terseok di penyisihan grup, dan baru saja menikmati posisi papan atas “leagua calico” setelah berbulan-bulan berkutat di nomlor buncit papan tengah.

Milan memang dihampiri keberuntungan untuk bisa mengalahkan Barcelona. Tak satu pun pengamat yang berani meletakkan taruhan  ke atas Milan, walau pun laga itu dimainkan di San Siro.

Milan, seperti dikatakan Marco van Basten, ikon tim “Merah Hitam” di tahun sembilan puluhan, yang datang ke San Siro menyaksikan pertandingan bersejarah ini sempat “menangis”  ketika laga usai. “Saya mengenang peristiwa 1994 ketika kami menjungkalkan Barca di final Champions yang ketika itu sedang berada di puncak kehebatan dan di latih legenda Belanda Johan Cruyff,”  kata Basten.

Milan di laga final 1994 kondisinya persis seperti laga Kamis dinihari. Tidak diunggulkan. Bahkan sudah dihapus dari  daftar juara di memori publik. Barca waktu itu memiliki “starter” mau Stochkov. “Kami mengalahkannya 4-0. Dan juara,” kata Basten menahan haru.

Milan, ketika malam “fiesta” San Siro itu adalah sebuah tim “baru.” Setelah sebagian pemainnya hengkang, termasuk Pato. Massimiliano Allegri, sang pelatih, membangun skuad muda  dan mendatangkan Balloteli dari Manchester City. Mereka memiliki Mexes dan “bomber” muda Sthepen Al Shaarawy. Walau pun begitu publik belum bisa meletakkan harapannya kepada Milan dalam menghadapi Barca yang memiliki Messi, Fabregas, Iniesta  dalam paduan permainan “tiki taka.”

Dan “tiki taka” ini pula yang dipertontonkan Barca malam itu dengan penguasaan bola yang ranggi. Tapi Milan menghadapinya sebagai “underdog” yang menyalak lewat perlawanan total. Meski menguasai jalannya pertandingan, Blaugrana menyerah lewat sepasang gol Kevin-Prince Boateng dan Sulley Muntari.

Kedua tim bermain dengan tempo cepat sejak menit-menit awal pertandingan. Barcelona mendapatkan kesempatan lebih dulu melalui aksi Lionel Messi pada menit ke-10. Beruntung, bek Milan, Philippe Mexes, dengan sigap mampu memblok tendangan Messi sehingga hanya menghasilkan tendangan pojok.

Memasuki pertengahan babak, Barcelona mulai menguasai jalannya laga dengan lebih banyak melakukan penguasaan bola di lapangan tengah. Sementara Milan tampak sabar bermain lebih ke dalam sambil beberapa kali melakukan serangan balik yang mampu merepotkan barisan pertahanan Barcelona.
Pada menit ke-16 misalnya, ketika Kevin-Prince Boateng memberikan umpan terobosan matang kepada Stephan El Shaarawy. Namun, upaya bomber berusia 20 tahun tersebut masih belum membuahkan hasil karena bola tendangannya masih dapat diblok bek Barcelona.

Kesulitan menembus rapatnya pertahanan Milan, Barcelona mencoba bermain dari sisi sayap mengandalkan Cecs Fabregas, Pedro, dan Andres Iniesta. Berawal dari sisi tersebut, Barcelona hampir membuka keunggulan jika saja Christian Abbiati tidak mampu mengantisipasi bola tendangan Xavi pada menit ke-20.

Barcelona terus menekan pertahanan tim tuan rumah hingga menit-menit akhir babak pertama. Sementara Milan juga beberapa kali berusaha menekan lewat aksi El Shaarawy. Meski begitu, hingga turun minum, skor kacamata tidak berubah.

Selepas turun minum, Boateng akhirnya membuat pendukung Milan bersorak setelah mampu mencetak gol pada menit ke-57. Gol itu berawal dari tendangan bebas Montolivo yang sempat membentur Cristian Zapata sebelum jatuh ke kaki Boateng yang langsung melepaskan tendangan keras yang masuk ke pojok kiri gawang Valdez.

Gol tersebut membuat semangat pemain Milan meningkat. Sementara meski masih terlihat menguasai jalannya pertandingan, Barcelona cukup kesulitan menembus pertahanan Milan yang hampir menurunkan delapan pemainnya di barisan belakang ketika bertahan.

Pelatih sementara Barcelona, Jordi Roura, pun memasukkan Alexis Sanchez dan menarik keluar Fabregas untuk menambah daya gedor skuadnya. Pada menit ke-63, Messi mendapatkan kesempatan. Sayang, tendangannya masih melambung tipis di atas mistar gawang Abbiati.

Meski bertahan, Milan bukan tanpa serangan. Enam menit berselang, Giampaolo Pazzini menerima umpan Ignazio Abate yang langsung diteruskannya dengan tendangan voli. Namun, Valdez mampu tampil sigap mengamankan gawangnya dari ancaman tersebut.

Barcelona terus menekan barisan belakang Milan. Namun, lagi-lagi pemain Blaugrana terlihat kesulitan untuk membongkar pertahanan I Rossoneri. Pada menit ke-80, upaya Xavi pun belum membuahkan hasil karena kembali melabung dari mistar gawang Abbiati.

Satu menit berselang, kembali lewat serangan balik, Milan mampu menambah keunggulan menjadi 2-0. Kali ini berawal dari kerja sama M’Baye Niang yang memberikan umpan kepada El Sharaawy. Dengan cerdik, El Shaarawy kemudian melepaskan umpan kepada Muntari yang tanpa pengawalan berarti langsung melepaskan tendangan keras, masuk ke pojok kiri gawang Barcelona.

Ketinggalan dua gol, Barcelona tak menyerah. Meski demikian, pertahanan Milan juga cukup baik di pertandingan kali ini karena mampu tampil dengan konsentrasi tinggi. Skor 2-0 untuk Milan pun bertahan hingga wasit meniup peluit panjang.

Sepanjang pertandingan, menurut catatan UEFA Barcelona menguasai bola sebanyak 65 persen dan menciptakan dua tembakan akurat dari enam spekulasi. Adapun Milan melepaskan enam peluang emas dari delapan percobaan.

Komentar