Messi–Ronaldo, Individual dan Kolektifitas

Penulis: Darmansyah

Kamis, 21 November 2013 | 17:19 WIB

Dibaca: 1 kali

Ada perbedaan ekstrim yang dialami kapten tim, wartawan dan pelatih bola dunia sebelum memutuskan untuk memlih Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi sebagai pesepakbola terbaik dunia versi FIFA. Perbedaan itu terletak pada individual dan kolektifitas.

Secara individual, Ronaldo jangan lagi diragukan sebagai biangnya. Ia hadir sebagai “Ronaldo” di lapangan, dan menempatkan posisinya yang sangat sentral sebagai individual yang sangat ekstrim sehingga warna tim menjadi berjarak dengan eksistensinya.

Sebagai individual, Ronaldo memiliki segalanya. Skill yang tinggi, kecepatan bergerak dan yang penting lagi kemampuannya dalam “mencuri” peluang gol, sekecil apa pun ruang yang disediakan.

Ronaldo tak pelak adalah kampiun sekaligus pribadi yang “terasing” dalam seluruh akselerasi permainan. Ia berjarak dengan Benzema, Khedira atau Ramos. Ia lebih mengandalkan kemampuannya memanfaatkan sebuah “attacking” dalam melakukan intersepsi di garis gawang.

Untuk pencinta sepakbola dengan konsep “technical person approach” pasti akan menetapkan Ronaldo sebagai contrengan dalam memlih pemain terbaik untuk mendapat “ballon d’or.”

Persis seperti dikatakan bek Barcelona Dani Alves yang menilaiCristiano Ronaldo unggul secara individual dengan semua pemain lain tahun ini. Meski begitu, ia mengaku lebih memilih pemain sayap Bayern Muenchen Franck Ribery untuk meraih FIFA “ballon d’or 2013.

“Cristiano luar biasa. Tahun ini, ia sedikit unggul dari yang lain. Ia bermain dengan sangat baik dan mencetak banyak dan itu memperbesar peluangnya. Betul bahwa ia tak meraih trofi, tetapi ia tengah berada pada level performa yang baik,” ujar Alves.

Lionel Messi? Ia secara skill tak kalah dari Ronaldo. Tap[ii a tak pernah dengan sangat menonjol menjadi pribadi yang berdiri sendiri dalam tim. Ia seorang yang berada dalam jarak sangat dekat dengan semua pemain. Tak terkecuali setelah bergabungnya Neymar da Silva ke Barca.

Messi, seperti dikatakan, Thiago Silva, kapten tim Brasil, yang memilihnya sebagai calon penerima “ballon d’or,” merupakan pemain kolektif. Ia sebuah personal yang berada di luar tim ketika pertandingan.

Memang ia diistimewakan, tapi ia mampu menempatkan kolektifitas Barca dalam permainan tiki-taka tanpa menimbulkan kecacatan dalam alur permainan. Persoalan ekspolisifitas dalam membuat gol, itu adalah kemampuan seseorang.

Thiago Silva yakin Messi adalah sebuah pribadi yang ditempa oleh “La Masia” dan tahu bagaimana ia berada dalam tim dan kontribusi apa yang bisa diberikannya. Berlainan dengan Ronaldo yang datang dari Sporting Lisbon dan Mancehester United.
Ini yang membedakan Messi dengan Ronaldo di Barcelona dan Madrid.

Terlepas dari pilihan masing-masing kapten tim nasional, pelatih dan wartawan, keduanya, menurut Thiago memiliki performa dan kepantasan sebagai pemain terbaik.

Dan pertarungan untuk meraih “ballon d’or” ini akan diumumkan di Kongresshaus, Zurich, Swiss, pada 13 Januari 2014. “Siapa pun yang menang di antara mereka adalah pemain-pemain hebat,” pungkasnya.

Lionel Messi sendiri, usai menerima “Sepatu Emas,” sebagai pencetak gol terbanyak di La Liga musim 2012 dari wartawan Spanyol menjawab sejumlah pertanyaan dalam sesi wawancara dengan tabloid paling pretise terbitan Madrid,” Marca”

Inilah jawaban Lionel Messi terhadap Ronaldo, Piala Dunia Brasil 2014, tentang Ozil dan Tito Villanova.

Tentang gelandang Real Madrid Cristiano Ronaldo:

Aku tak tahu apakah Ronaldo berada pada level permainan terbaiknya, tetapi ia selalu mencetak gol dalam setiap pertandingan dan berkontribusi kepada klubnya dan tim nasional (Portugal). Ia telah melakukan itu selama bertahun-tahun. Entah apakah ia bermain pada level terbaik atau sedikit di bawah level terbaiknya, hal itu tak banyak berbeda.

Tentang Liga Champions dan Piala Dunia:

“Real Madrid dan Bayern Muenchen adalah lawan paling tangguh, sekalipun ada juga tim top lainnya. Mengenai Piala Dunia, menurutku, Brasil, Jerman dan Spanyol semuanya adalah favorit.

Menjuarai Piala Dunia adalah impianku, rekan-rekanku, dan untuk semua warga negaraku (Argentina) yang telah lama tak memenangi Piala Dunia.

Tentang gelandang Jerman dan Arsenal Mesut Oezil:

Jika aku harus memilih seorang pemain Jerman, pemain itu adalah Oezil. Bukan karena aku ingin ia bermain di Barcelona, tetapi karena ia sangat bertalenta.

Tentang Tito Vilanova:

Tito selalu ada dalam pikiran kami dan kami terus mengikuti perkembangan pemulihan (dari masalah kanker). Ia tak ingin menjadi pusat perhatian, ia ingin melihat dari jauh.

Komentar